Kolom Alexander F. Meliala: Lintas Organisasi Karo

1
176

lintas organisasi 2

 

 

alexanderTerharu dan bangga, perasaan bercampur aduk menjadi satu ketika melihat dan dapat menyaksikan sendiri bagaimana lintas organisasi Karo di Sumatera Utara duduk bersama, berdiskusi, dan bercengkrama dalam pertemuan yang diselenggarakan di Oel Coffee Jl. Candi Mendut No. 5, Medan [Senin 17/8].

Pertemuan yang digagas oleh Himpuan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI) DPD Sumut ini dihadiri oleh paling tidak 5 organisasi berbasis Karo, diantaranya Pemuda Merga Silima (PMS) Sumut, Keluarga Muslim Karo (KAMKA), Barisan Pemuda Karo (BPK), dan Persatuan Catur Karo (Percaka) Sumut, serta HMKI Sumut sendiri sebagai tuan rumah.

Hadir dalam pertemuan ini para ketua , serta pengurus organisasi masing-masing, seperti Ruben Tarigan (Ketua HMKI Sumut), Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin Sembiring Mec (Ketua KAMKA), Paham Sebayang (Ketua PMS Sumut ), Jesayas Tarigan (Ketua BPK), dan Rahman Ginting (Bendahara Percaka Sumut).


[one_fourth]Persatuan dan Kesatuan Karo[/one_fourth]

Berbagai hal turut menjadi pembicaraan dalam pertemuan ini. Mulai dari membicarakan bagaimana cara menggalang persatuan dan kesatuan sesama organisasi Karo ke depannya. Persatuan dan kesatuan dianggap dapat menjadi penyalur aspirasi warga Karo secara masif, baik di tingkat Sumut maupun Indonesia.

Selain itu, dalam pertemuan turut digagas bagaimana seluruh organisasi yang hadir pada pertemuan dapat secara bersama-sama menyukseskan kegiatan Karo Festival 2015 yang digagas oleh HMKI Sumut di Lapangan Merdeka Medan pada 27-29 Agustus mendatang.

Pada pertemuan lintas organisasi Karo disepakati agar pertemuan-pertemuan berikutnya dapat dilakukan secara berkesinambungan dan bergiliran oleh setiap organisasi Karo yang hadir maupun yang belum dapat hadir pada kesempatan itu.

lintas organisasi 3

Meski seluruh gagasan-gagasan yang muncul dalam pertemuan tersebut hanya masih sebatas wacana, namun paling tidak, ini telah memberikan secercah harapan baru untuk masa depan Karo yang lebih baik. Hal tersebut tergambar dari bagaimana para pengurus dan anggota dari masing-masing orgnasisasi lintas masyarakat Karo ternyata memiliki pandangan yang sama, yakni sama-sama ingin memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga dalam rangka memajukan Karo.

Tentu, ketika seluruh potensi yang dimiliki masing-masing organisasi, baik dari segi pemikiran dan tenaga tersebut dapat disatupadukan, maka hal ini akan menjadi suatu kekuatan baru yang mendorong percepatan perbaikan-perbaikan berbagai lini di pada masyarakat Karo yang selama ini dianggap sudah mulai tertinggal.

Harapan atau merupakan suatu bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian yang akan bebuah kebaikan di masa mendatang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang, di batin dan dijadikan sugesti agar terwujud.

Semoga harapan akan kemajuan masyarakat dan budaya Karo di masa depan memang benar-benar dapat terwujud seiring dengan bersatunya warga Karo seperti spirit yang tampak pada pertemuan lintas organisasi Karo yang berlangsung di Oel Coffee kemarin.

1 COMMENT

  1. “Terharu dan bangga, perasaan bercampur aduk menjadi satu ketika melihat dan dapat menyaksikan sendiri bagaimana lintas organisasi Karo di Sumatera Utara duduk bersama, berdiskusi, dan bercengkrama dalam pertemuan yang diselenggarakan di Oel Coffee Jl. Candi Mendut No. 5, Medan [Senin 17/8].” (AFM).

    Betul memang AFM, siapa yang tidak terharu dan bangga menyaksikan sendiri tingkat perubahan dan perkembangan Karo yang sudah setinggi ini. Pertemuan ini menggambarkan sejarah perubahan Karo. Walaupun pertemuan ini khusus dalam rangka “secara bersama-sama menyukseskan kegiatan Karo Festival 2015 yang digagas oleh HMKI Sumut di Lapangan Merdeka Medan pada 27-29 Agustus mendatang” tetapi pertemuan ini adalah bukti perubahan dan perkembangan tingkat pemikiran Karo secara organisasi dan dengan sendirinya juga secara individu dengan basis kinikaron atau kekaroan sebagai ciri utama ethnic/cultural revival dunia di Karo dan dikalangan kultur Karo.

    Perubahan kessedaran dan pikiran ini adalah mungkin karena Karo semakin luas dan semakin mendalam pengertiannya soal keaslian (primordial) Karo, yang selama ini kita sudah dengan tekun mempelajari dan terus sampai sekarang juga mendalami kinikaron itu sebagai dasar titik tolak kita sebagai suku berdiri sendiri bersama dengan suku-suku lain dalam menghadapi perubahan dan perkembangan dunia terutama dalam soal kebangkitan kultur-kultur suku bangsa negeri ini dan dunia.

    Karo yang kultur dan budayanya tertua di Sumatra (7400 th) dengan dialektikanya yang sudah tinggi (dialektika pikiran dan dialektika alam) serta filsafat hidupnya ‘sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring’ sangat sesuai dengan perkembangan pemikiran dunia dalam win win solution.

    Inisiatif HMKI mempertemukan berbagai organiasi Karo patut dapat apresiasi dari semua kita.
    Mari semua yang lain ikut contoh ini.

    MUG

Leave a Reply