MENEPIS PEMBATAKAN

1
104

Oleh: Superta Tarigan

 

pembatakan
Dua penari Sanggar Seni Sirulo yang sekaligus juga musisi dalam penampilan sanggar ini di Kerja Tahun Tanjung Barus, Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung)

superta tariganBeberapa kategori yang tidak luput dari pembahasan:
1. Merujuk kepada asal usul sat , yaitu Siraja Batak.

Belakangan ini, rujukan seperti ini sudah menjadi berita konyol, karena hanya ilustrasi dari W.M. Hutagalung. Tentu saja kita harus memahami bahwa seantero Karo tidak berasal dari satu garis keturunan atau kelompok.


2. Persamaan kebudayaan dan tradisi, yaitu Dalihan Na Tolu dan Rakut Sitelu.

Belakangan ini juga dianggap sudah termasuk data pembodohan, karena menjadikan kebudayaan dan tradisi Karo menjadi kerdil. Faktanya peradatan Karo tidak akan berjalan tanpa sistem Sangkep Nggeluh (yang terdiri dari 1. Sembuyak, 2. Anak beru, 3. Kalimbubu, 4. Senina) bukan Rakut Sitelu.
3. Keyakinan.

Sebenarnya ini adalah hal yang paling tidak pantas untuk dibenarkan. Jika kita berbicara tentang Karo, kita harus berangkat dengan tanpa menyertakan atribut atribut keyakinan samawi, apalagi Karo sendiri juga mempunyai keyakinan tersendiri (Pemena).

Oleh sebab itu, agar dapat sejalan dengan segala hal tentang Karo, segala sesuatunya yang berhubungan dengan keyakinan individu harus dinomorduakan. Jikalau perlu, cukur jenggot dulu agar tidak terlihat seperti kebakaran jenggot dalam membahahas segala hal tentang Karo.

pembatakan 2
Silat Karo (ndikkar) yang masih tetap diupayakan bertahan/ lestari.

Dari ke tiga bagian di atas inilah yang sering kita hadapi tentang pembatakan. Bukan tak sedikit pula yang internal kita menganggap ini tidak penting. Mungkin dengan latar belakang adanya hubungan darah dari Suku Batak. Sangat disayangkan jika kelak ada pernyataan yang membenarkan Karo adalah Bugis karena pertalian darah beberapa individu di internal Karo.

Ditambah lagi dengan yang sering ngamuk-ngamuk karena tidak mengerti arti dari perdebatan. Mungkin karena perdebatan dirasa hanya untuk perubaten (pertikaian), padahal perdebatan adalah adu argumen yang diharapkan bisa menjadi pembanding tentang apa yang kita pahami dan apa yang dipahami oleh sesama pelaku debat dalam konteks judul perdebatan.



1 COMMENT

  1. Sering “perdebatan dirasa hanya untuk perubaten (pertikaian), padahal perdebatan adalah adu argumen yang diharapkan bisa menjadi pembanding tentang apa yang kita pahami dan apa yang dipahami oleh sesama pelaku debat dalam konteks judul perdebatan.” (SP).

    Perdebatan dirasakan sebagai perubaten (pertikaian), sangat spesifik bagi way of thinking Karo yang pada umumnya introvert. Terlihat juga dalam pernyataan introversi lainnya seperti ‘ula sipanjang punjuten’. Pernah juga kita diskusikan di milis Karo soal ini, dalam tema ‘sipanjang punjuten’ apakah blessing atau curse. Tepat sekali saya pikir kalau kita melihat sipanjang punjuten dari dua segi bertentangan, atau dengan perkataan lain kita meninjau secara dialektis.

    Pada era primitif Karo dimana Karo hanya sendiri dalam kehidupan satu suku, tentu sangat indah ‘ula sipanjang punjuten’ itu. Masyarakat masih bisa dan terus berkembang tanpa debat, karena kontradiksi pokok masih dengan alam. Karena itu juga orang Karo sering memikirkan kontradiksi dalam alam itu sendiri, sehingga fenomena alam itu bisa digambarkan oleh orang Karo Kuno dalam kalimat ‘aras jadi namo, namo jadi aras’ (Panta Rei Karo).

    Orang Karo kuno itu juga bisa melihat fenomena pertentangan dalam pikiran yang tak pernah berhenti, kontradiksi dalam pikiran (dialektika pikiran) digambarkan oleh Karo Kuno ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ (tesis-antitesis-syntesis) Karo.

    Keduanya dialektika Karo ini muncul dalam situasi Karo masih sendirian dalam melawan alam dan melawan pertentangan dalam alam pikirannya sendiri. Ini sudah terjadi lebih dari 7000 tahun lalu, jadi budaya dan sivilisasi Karo sudah sangat tua (penemuan arkeologi di dataran tinggi Gayo 2011). Penduduk Karo dari dataran tinggi Gayo ini jugalah yang dalam perpindahannya selain ke Aceh Tengah juga mendiami dat tinggi Karo dan dataran rendah seluruh Sumtim ribuan tahun lalu.

    Dalam kancah pergolakan sosial dengan kedatangan berbagai kultur dari daerah lain dan juga dari luar seperti dari India, Arab dan Asia Selatan terutama orang China. orang Karo terpaksa membangun kekuasaan dalam rangka survival dirinya dalam pergolakan sosial dan perang demi kekuasaan yang semakin nyata. Karo bangun kekuasaan besar Haru pada permulaan abad 11-12. Kebesaran dan kekuasaan ini digambarkan juga dalam Sumpah Palapa Gajah Mada. Benteng terakhir kekuasaan ini ada di Delitua, setelah kemundurannya dari Hamparan Perak sebagai pusat semula kerajaan besar ini. Hamparan Perak juga merupakan pusat kota perdagangan internasional Asia Tenggara pada abad-abad kebesaran Haru.

    Mengapa Haru bisa ditaklukkan setelah lebih dari 4 abad berkuasa dengan kekuasaan yang begitu perkasa dan luas bahkan internasional?

    Dari segi extern memang banyak sekali perubahan, terutama dalam imbangan kekuatan dalam negeri dan juga yang ada hubungannya dengan kekuatan luar negeri. Perubahan ini tentu diluar kontrol kerajaan ini. Tetapi saya ingin meneliti sedikit dari segi intern Haru yang dihuni oleh orang Karo dengan spesifik introversinya ‘ula sipanjang punjuten’.

    “Man’s character is his fate.” kata Heraclitus, atau seperti Buddha bilang, “Character is everything”. Jadi sifat introversi ula sipanjang punjuten sebagai suku atau grup sosial kultur orang Karo telah ikut menjadi faktor intern utama penyebab kejatuhan Haru.

    Ketika masa puncak kekuasaannya, kharakter ‘ula sipanjang punjuten’ tentu tak mempengaruhi apa-apa, tak mengusik kharakter kekuasaan. Tetapi berangsur-angsur sifat ini jadi bumerang bagi Haru, orang Karo lebih suka berdamai atau sinik saja, banyak yang masuk islam, meninggalkan kepercayaan sendiri, berdamai dengan suku-suku bermusuhan, hijrah ke pegunungan dsb. Dalam situasi faktor intern yang goyah itu dan dengan kekuatan musuh (kekuatan luar) yang malah semakin besar, Haru tak mungkin lagi bertahan, terpaksa mengalami kekalahan. Walaupun masih bisa bertahan dengan mengundurkan diri ke Delitua dengan melepaskan Hamparan Perak, tetapi disitupun akhirnya dibasmi habis juga oleh musuh-musuh keuatan extern tadi.

    “Ula sipanjang punjuten” masih juga dipakai pada era diktatoris Orba, dan Karo sangat banyak dirugikan, seperti dalam soal pembatakan itu tak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan bagi sebagian orang Karo.

    Sekarang betul seperti anjuran banyak teman, mari sipanjang punjuten mencari kebenaran dan menguji keilmiahan suatu pendapat.

    MUG

Leave a Reply