Pijer Podi Bukan Pijar Podi, Teman!

2
157

Oleh: Steven Amor Tarigan (Medan)

 

steven amor 14pijer podiUsia Kota Medan yang ke 425 Tahun, banyak perubahan yang telah terjadi. Satu per satu gedung tinggi mulai bermunculan di tengah kota, pemukiman warga mulai bergeser ke arah Selatan. Seiring perubahan itu, perubahan nama suatu kawasan pun ikut terjadi. Seperti halnya kawasan Kesawan yang sebelumnya disebut Kesain pada masanya. Penatapen menjadi Penatapan, Deleng Sibuaten menjadi Deleng Sibuatan, dan banyak nama lainya yang dapat kita inventarisasi.

Apalah arti sebuah nama, istilah atau ungkapan ini sering kita dengar dari orang-orang yang meremehkan dan belum menyadari pentingnya nama yang mereka sandang. Dalam satu kesempatan, saat melewati Fly Over Jamin Ginting, entah mengapa mata melirik ke salah satu plang nama jalan yang disebutkan “JL. PIJAR PODI” padahal sudah lebih puluhan kali melewatinya.


[one_fourth]indentitas harus dipertahankan[/one_fourth]

Apakah nama jalan tersebut adalah suatu kesalahan redaksi penulisan atau memang ada kesengajaan atau yang lainnya. Kita tidak tahu, dan untuk mendapat jawabannya harus dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait dengan plang nama jalan. Namun, pada satu kondisi, hal ini dapat berakibat buruk karena jika dibiarkan akan menjadi suatu kebiasaan yang dianggap lumrah karena tidak ada protes. Nama sebagai indentitas harus dipertahankan, karena penamaan jalan itu memiliki arti tertentu namun jika dirubah satu kata akan menghilangkan maknanya.

Banyak diantara kita berbicara kinikaron, namun seringkali hanya sebatas opini tanpa aksi. Sebagai contoh nama jalan “Pijer Podi” yang berdiri tegak di tepi jalan Ngumban Surbakti kini telah berubah menjadi “Pijar Podi”. Sangat disayangkan.

Di wilayah pemukiman yang mayoritas orang Karo saja bisa terbaikan, apalagi jauh dari wilayah Padangbulan. Mungkin beberapa tahun lagi identitas yang berbau Karo di wilayah Karo akan hilang sama sekali tanpa jejak dan tak dapat lagi dikenali.

Sudah seharusnya orang Karo sebagai pendiri Kota Medan menjaga dan melestarikan apa yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Mari bersama-sama dengan kapasitas masing-masing memberikan teguran santun kepada siapa saja yang mencoba mengubah identitas Karo seperti nama jalan atau tempat.

Tidak saatnya lagi kita harus berdiam diri, tunjukkan kita ada, dan tunjukkan kita bersatu. Salam Mejuah-juah.

2 COMMENTS

  1. “bahwa semua penduduk Medan yang beragam pada umumnya cenderung merasa malu memakai bahasa Ibunya. Kecuali suku bangsa Tionghoa.” (HS)

    Fenomena yang sangat menarik dan luar biasa karena ini berlaku seluruh dunia dimana ada Tionghoa, walaupun mereka sudah tinggal di negeri itu ratusan tahun seperti di Indonesia. Ini tetap berlaku walaupun mereka minoritas atau hanya satu keluarga di satu tempat tertentu, Identitas yang kuat dan confidence yang kuat, salah satu dasar utama fenomena ini.

    Hal confidence atau percaya diri ini sangat berpengaruh terhadap penghargaan atas kultur/tradisi/bahasa ibunya. Bagi suku dengan percaya diri yang lemah, bisa berubah ke kultur terdekat yang yang bersifat lebih dominan dalam satu tempat, misalnya orang Karo bisa dibatakkan. Banyak dikalangan orang Karo ‘lebih percaya diri’ kalau membatakkan dirinya. Disini sangat mendalam pengaruh ‘zona aman’ yang melanda suku-suku minoritas seperti Karo, Pakpak, juga Simalungun, tetapi tidak begitu terpengaruh bagi orang Minang misalnya walaupun mereka minoritas disatu tempat.

    Kelebihan orang Karo ialah bahwa setelah reformasi banyak mempelajari pengalaman pahit ini dan bikin kesimpulan strategis dan ilmiah soal jati diri dan confidence tadi. Ini dibantu juga dengan adanya penemuan baru arkeologis 2011 tentang suku Karo dan Gayo sebagai suku tertua di sumatra (7400 th) jauh sebelum kedtangan suku-suku lain ke Sumatra. Sekarang semakin banyak orang Karo yang merasa tak aman dalam zona aman dan memilih zona percaya diri dan identitas kuat sebagai patokan ilmiah dan tepercaya.

    Ini terutama bisa terjadi setelah banyak orang Karo mempelajari keilmiahan jati diri, keilmiahan confidence dalam kultur Karo yang akan menentukan perkembangan dan kemajuan Karo dan yang pada gilirannya menentukan perkembangan dan kemajuan semua suku bangsa dan nation Indonesia.

    Bahwa kalau semua suku bangsa lebih percaya diri atas identitasnya dan kulturnya, sangat mempengaruhi secara positif gerakan maju bangsa ini, tak perlu ada keraguan, karena daya cipta atau sifat kreatif meningkat bersamaan dengan peningkatan keyakinan dan percaya diri.

    MUG

  2. Memang betul perubahan sebutan itu bisa terjadi karena penduduk Lokal orang Karo tidak merasa memiliki dan bangga terhadap bahasanya sendiri. Saya bukan sembarang tuduh akan hal ini. Telah ada penelitian dari USU yang membuktikan bahwa semua penduduk Medan yang beragam pada umumnya cenderung merasa malu memakai bahasa Ibunya. Kecuali suku bangsa Tionghoa.

Leave a Reply