Kolom M.U. Ginting: Kembali ke Nampati dan Nampeti

0
102
nampati 3
Sanggar Seni Sirulo

M.U. Ginting 2La nampati ula nampeti,” posting Joni H. Tarigan, tema menarik. Pepatah Karo ini sangat menarik memang. Nasihat yang sangat terpakai dalam pergaulan Karo, dan juga selalu dalam pikiran seorang Karo. Ini bisa juga banyak hubungannya dengan sifat introversi Karo. Pastilah ada saya pikir.

Tetapi bukanlah berarti orang-orang extrovert tak memahami pepatah ini atau tak pernah mengatakannya dalam kehidupan sehari-hari, mungkin malah bisa lebih memakainya, dalam arti ‘kalau kau tak mau bantu, jangan ikut merusak’ atau  ‘kau lebih baik diam saja’.

Tetapi orang extrovert tak akan pernah diam (kai pe belasina), stimulasi extern. Karena itu, dalam menanggapi dan menerima pepatah itulah saya kira ada perbedaan besar antara orang introvert dan extrovert, seperti dirumuskan sangat bagus oleh Joni H. Tarigan: “Rumus baik untuk melakukan hal yang lebih baik adalah kritis diri sendiri terlebih dahulu, baru kritis di luar diri kita.” Sangat menggambarkan introversi, stimulasi intern, tetapi juga menggambarkan secara dialektis, karena ditinjau dari dua segi bertentangan, dari diri sendiri dan dari luar diri.

Menarik memang memperhatikan fenomena ini, ‘the power of quietness’ atau the power of introversion, belakangan banyak diperbincangkan setelah Quiet Revolution dari Susan Cain.

Orang extrovert tak pernah bisa atau tak mau memahami apa yang tersirat dalam hati seseorang. Karena itu, bagi orang-orang introvert, kalau mau supaya dipahami orang lain terutama orang extrovert, harus ngomong. Harus dikatakan dalam kata-kata yang jelas atau secara explisit, berkebalikan dengan introvert yang mengerti dan expresikan kemauannya secara implisit.

Begitu juga dalam mengkritisi diri sendiri sangat cocok bagi introvert, tetapi sangat tak sesuai bagi extrovert, karena energi stimulasi yang berkebalikan tadi jadi penyebab utama. Bagi orang extrovert (stimulasi extern) akan selalu lebih cocok mengkritisi sesuatu di luar dirinya. Karena itu juga kelihatannya perubahan intern seorang extrovert pastilah terjadi sebagai akibat dari gejolak dan perubahan extern.

nampati 4
Sanggar Seni Sirulo

Dalam soal perubahan individu ini ada juga teori (teori ‘gestalt’) dimana dinyatakan bahwa perubahan itu terjadi kalau seseorang lebih mengerti dan memahami dirinya dulu. Tanpa pengertian diri ini tak mungkin ada perubahan, menurut teori gestalt. Kalau saya melihat pernyataan ini terlalu berat sebelah. Perubahan bisa dan mungkin kalau kedua seginya diperhitungkan, diri sendiri dan di luar diri sendiri. Atau sudah biasa kita sebutkan faktor intern dan extern harus keduanya diikutkan.

Dialektika Karo kuno selalu melihat dari dua segi yang bertentangan dalam proses perubahan dan perkembangan apa saja, seperti sinanggel dan sura-sura dalam thesis-antitesis-syntesis Karo atau aras dan namo dalam Panta Rei Karo.

Faktor lainnya yang tak kalah pentingnya ialah segi PENCERAHANNYA. Faktor intern dipakai untuk menjelaskan faktor extern dan sebaliknya. Pencerahan sangat menentukan bagi semua, bagi introvert maupun bagi extrovert. Kalau tak ada pencerahan siapa yang mengerti siapa yang introvert atau extrovert?

Berilah Pencerahan dan Harapan kata Alm. Sutradara Ginting.



Leave a Reply