Setahun di Pedalaman Jambi

1
186

Oleh:  Vic. Kazpabeni E.E. Ginting (Bukit Rinting, Jambi)

 

Kazpabenijambi 7Tepat setahun. Setelah sepuluh hari membuang waktu di Kota Jambi, hari Minggu, tanggal 31 Agustus saya diantar Kabid Marturia Klasis Sumbagsel ke tempat pelayanan ini. Dulu, sepengetahuan kami, namanya Bukit Terintin. Tapi setelah tinggal di sini barulah ditahu, bukan Terintin, tapi Rinting.

Menyusuri jalan sepanjang hampir 200 Km itu dengan mobil, tentu saja hal pertama yang harus kusiapkan: anti mabuk perjalanan. Maka, tak begitu kuingat bagaimana kesan di perjalanan waktu itu karena tertidur. Yang kuingat, ketika sudah tiba si Simpang Niam, aku terbangun karena dari Jambi jalannya aspal. Mulai Simpang Niam ke Bukit Rinting, jalan pengerasan. Sedangkan di atas mobil saja pun bisa dibuatnya terbangun, apalagi dengan sepeda motor.

Mulailah kulihat kiri dan kanan, layaknya seorang anak yang ikut ayahnya ke kota naik delman istimewa, tuk tik tak tik tuk….

“Ah, nen min dagena dah. Usur kam kari jumpa si bagah,” kata Kabid Marturia kepadaku. Kulihat, ternyata ada dua perempuan yang sedang ‘sleeping beauty’ di rerumputan pinggir jalan. ‘Inilah berarti yang orang-orang bilang Suku Anak Dalam’, pikirku.

jambi 6

 

Singkat cerita, kami tiba di portal PT WKS. Kalau hendak ke Bukit Rinting kita harus melewatinya. Kalau sepeda motor bisa langsung lewat saja. Tapi kalau mobil, harus atas seizin security di pos jaga.

Di portal, sudah menunggu bibi beru Sembiring dan beru Ginting, kami berbarengan masuk ke dalam. Di atas mobil kami berkenalan. Belum begitu kenal dekat, mereka sudah katakan: “Iihh …. Tahanlah kam kari tading jenda, pikariss? Adi idah ayondu ena kota nari kam, tama me ku kerangen-kerangen enda. Jenda kari lanai bo kam mbentar, mbiring nge kari.”

Bibi beru Ginting itu berkata sambil tertawa terbahak-bahak. Aku senyum saja.

Idah me kari,” bisikku dlaam hati.

Tiba di gereja.

Gereja? Uga bage gereja?” dalam hatiku.

Kulihat yang dikatakan gereja itu, ukuran 5 X 10 meter. Belum didinding. Lantai masih tanah timbunan. Kami duduk di terpal pinjaman yang tadinya supaya tidak kotor jika duduk langsung di tanah, tapi tetap saja kotor meski sudah dialasi terpal. Selidik punya selidik, terpal itu ternyata milik tokeh pisang yang digunakan menutup pisang yang belum diangkut.

Tapi, waktu itu berdatangan para anggota jemaat yang tidak banyak. Melihat semangat mereka beribadah, ‘inilah gereja itu’, dalam hatiku.

Sepulang gereja, kami beranjak ke rumah Surbakti. Di sana kami dihidangi makan. Keluarlah semua menu yang sudah disiapkan. Waahh… semur ternyata… ternyata semur jengkol, makanan yang anti nomor 1 bagiku, nomor 2 petai, nomor 3 lobak. Yang ini nomor satu bapak ibu… tak tanggung-tanggung. Kalau tak dimakan, hancur lah kesan pertama sebagai vicaris. Akhirnya, dimakan saja.

jambi 8

Setelah bercakap-cakap, rombongan Kabid Marturia pulang ke Jambi. Saya tinggal. Mulailah saya mencari-cari ke kiri dan ke kanan. Perut sudah mules. Ini karena jengkol tadi. Yah, kalau mules ke sungailah jawabannya.

Sungai itulah MCKnya (MCK= Mandi Cuci Kakus).

Syukurlah, sekarang gereja sudah punya sumur dan toilet. Tapi di sungai, kesannya berbeda. Hahaha….

Orang lain katakan ‘tak terasa’. Tapi bagi saya sangat terasa, sudah 1 tahun menjalaninya di sini. Bagaimana tidak? Banyak hal yang gamang, menjadi kebiasaan selama di sini, kecuali jengkol, dkk.

31 AGUSTUS 2014 – 31 AGUSTUS 2015

“Banyak hal tak kupahami, dalam masa menjelang. Tapi t’rang bagiku ini, tangan Tuhan yang pegang.”

 

1 COMMENT

  1. Kasihan juga penulis Ginting Mergana ini jadi banyak ‘menderita’ karena banyak pantangannya . . tetapi orang Karo penduduk pedalaman itu terlihat tetap tabah menyambut segala macam pengunjung atau tamu. Ini adalah origin Karo, salah satu sifat mulia dan positif orang Karo.

    MUG

Leave a Reply