Sirulo TV: Puas Kal Landek (Menari) di Karo Festival 2015

1
261

ariston 1aristonARISTON GINTING. MEDAN. Karo Festival 2015 yang diadakan selama 3 hari berturut [Kamis 27/8 – Sabtu 29/8] di Lapangan Merdeka (Medan) bukan hanya menjadi ajang tontongan seni tradisi karo, tapi juga menjadi sebuah kesempatan untuk menari ke tengah bagi orang-orang Karo yang umumnya masih sangat lincah menari Karo.

Sebagaimana terlihat di tayangan Sirulo TV di bawah, beberapa pemuda menari berpasangan dengan dengan gadis-gadis Karo yang berpakaian secara tradisional. Layaknya di acara muda-mudi di masa lalu di kampung-kampung Karo, seorang pemuda yang menari lebih terampil dari yang lain, langsung menari mendekati para gadis.

Ini bukanlah sebuah perbuatan brutal, tapi sebuah seni pertunjuan yang menarik perhatian penonton. Para penonton merasakan kepuasan para penari.

Sekian tahun Suku Karo tak lagi menari di Lapangan Merdeka ini. Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 dapat berlangsung di Lapangan Merdeka ini setelah Selamat Ginting Pa Kilap menyediakan persenjataan lengkap kepada TNI untuk mengawal upacara. Tapi selama ini seolah-olah Suku Karo dipinggirkan terus dan dibuat pula seperti pendatang di Medan.

“Hari ini puas kal landek (menari, red.),” kata seorang pemuda yang berambut agak gondrong kepada Sora Sirulo.



1 COMMENT

  1. Lagu ‘erkata bedil i kota medan’ mengingatkan kita bagaimana pejuang kemerdekaan yang pada umumnya dari suku Karo terus menerus mengepung dan melakukan serangan dengan taktik gerilia terhadap pasukan Belanda dan sekutunya yang masih bertahan di Medan. Dentuman merian yang orang Karo bilang ‘meriam tomong’ umumnya adalah milik Belanda, tetapi suara bedilnya adalah milik geriliawan orang Karo yang karena taktik perang gerilianya sangat bikin pusing kepala bagi pasukan Belanda yang masih ada di Medan kota. Meriam tomong ini sering dilepaskan begitu saja tanpa sasaran pasti, hanya kalau mendengar ada gerilia disatu tempat. Tetapi gerilia ini memang dimana-mana, dan tak pernah terkonsentrasi dalam jumlah besar.
    Walaupun pasukan Blanda ini kemudian tambah banyak karena dibantu juga oleh pasukan sekutunya dalam perang agresi 1 dan agresi 2, Belanda jadi kalah juga. Belanda tak pernah melupakan bagaimana suku Karo berjuang melawan kolonial sejak era Badiuzzaman Surbakti bikin perang terlama melawan penjajahan di Indonesia, banyak ditulis oleh orang Belanda sendiri soal ini. Orang Belanda bilang Batak Oorlog atau perang Batak. Seharusnya perang Karo, tetapi Belanda pakai istiah Batak karena Karo dianggap juga Batak oleh kolonial Belanda.

    Setelah merdeka, berangsur Karo dan keteguhan perjuangannya terlupakan sementara oleh nation ini. Banyak sebabnya, tetapi salah satu ialah kharakter Karo itu sendiri. Charakter is everything kata Heraklitos, itulah dia yang bikin Karo terlupakan. Tiap orang Karo bisa bikin analisa sendiri soal sebab kharakter ini, pasti akan menarik nanti kalau kita diskusikan soal ini juga.

    Tak ada juga memang kewajiban bagi suku lain untuk mengingat atau mengingatkan jasa perjuangan suku Karo menentang penjajahan demi kemerdekaan. Walaupun begitu Hatta sebagai wk presiden pernah menuliskan kepahlawana orang Karo melawan penjajahan. Setelah itu semua juga melupakan apa yang ditulis oleh Hatta itu.

    “Sekian tahun Suku Karo tak lagi menari di Lapangan Merdeka ini. Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 dapat berlangsung di Lapangan Merdeka ini setelah Selamat Ginting Pa Kilap menyediakan persenjataan lengkap kepada TNI untuk mengawal upacara. Tapi selama ini seolah-olah Suku Karo dipinggirkan terus dan dibuat pula seperti pendatang di Medan.” kata Ariston Ginting di SS.

    Betul sekali memang kata-kata AG ini. Dan sekarang di Festival Karo 2015 itu sudah terlihat ada perubahan dikalangan Karo sendiri. Terlihat adanya perubahan dalam soal IDENTITAS KAROnya, artinya perubahan dari faktor intern Karo sendiri. Identitas kekaroan sudah sangat semakin nyata dan diyakini. Orang Karo menemukan kembali siapa dia, sudah ada dasar. Identitas dan kharakter semakin kuat bergandengan tangan. Keduanya melahirkan pikiran bebas dan berdikari tanpa ketergantungan dari siapapun atau suku manapun. Tak ada lagi yang rela jadi mimikri pakai identitas orang lain atau suku lain untuk menunjang kepribadiannya.

    Identitas berpengaruh besar atas kebebasan berpikir dan kebebasan mencipta. Featival Karo 2015 adalah hasil pemiikiran bebas dan mencipta yang bebas karena sudah ada dasar berpijak yang kuat, yaitu Jati Diri Karo dan kharakter Karo yang sudah menjelma menjadi kekuatan riil satu kultur dalam Bhineka Tunggal Ika Indonesia. Ini terutama terlihat dalam gerakan pencerahan KBB.

    A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots, – Marcus Garvey

    Generasi muda Karo sudah mulai lagi mendalami pengetahuannya soal sejarahnya, origin dan kulturnya sehingga akarnya tambah kuat dan pertumbuhannya sangat meyakinkan. Ini sangat terlihat buktinya dalam pelaksanaan festival Karo 2015 di Medan.

    Pertumbuhan dan perkembangan tiap suku bangsa negeri ini adalah dasar yang meyakinkan adanya pertumbuhan dan perkembangan negeri ini sebagai satu nation dalam Bhinneka Tunggal Ika.

    MUG

Leave a Reply