Kolom M.U. Ginting: FEEDBACK

0
123

feedback
Ruben Tarigan (kiri) menyerahkan kenang-kenangan kepada Plt. Gubsu (kanan) disaksikan oleh Menteri Hukum dan HAM (ke 2 dari kiri) pada acara penutupan Karo Festival 2015 [Sabtu 29/8].
M.U. Ginting 2

“Salut buat bung Ruben Tarigan, SE pemimpin muda Karo yang baru mengemban amanah di DPRD Sumut langsung membuat gebrakan bersama kawula muda Karo yang ada di Sumut sehingga ada acara akbar di Lapangan Merdeka yang sudah lama kita nantikan. Kita tunggu gebrakan beliau selanjutnya,” komen Gunawan di Sora Sirulo [Jumat 28/8].

Ini adalah sebuah contoh feedback yang memberikan inspirasi dan mendorong semangat bagi seseorang yang telah berbuat sesuatu yang baik dan terpuji dalam hal ini bagi Karo dan kulturnya sebagai salah satu etnis/ kultur dari Bhinneka Tunggal Ikha Indonesia.

Dalam kalimat itu juga tersirat semacam feedforward. Artinya, kemungkinan besar bagi RT (Ruben Tarigan) di masa depan meneruskan ide dan gebrakannya dalam perkembangan Karo dan kultur Karo.

Di sini saya ingin bicarakan soal feedback saja.

Feedback adalah alat yang sangat efektif untuk mengembangkan relasi (saling hubungan) antara individu, bagi yang saling mengenal atau tak saling mengenal (internet) tetapi sangat besar efeknya bagi penerima feedback. Karena itu, feedback juga sebagai alat untuk mendorong saling berubah dan berkembang karena saling belajar dan saling menambah pengetahuan dan terpenting saling menambah semangat untuk tujuan yang sama.

feedback 2Feedback adalah masalah diskursus (percakapan) modern Abad 21, sebagai alat penting dalam memperbaiki dan mengembangkan prestasi seseorang. Bagi kita orang Karo tentu feedback dalam konteks sesama Karo di dalam tujuan utama sebagai orang Karo yaitu Karo Enda Ndai atau biasa juga kita sebut dalam gerakan KBB dengan istilah kinikaron.

Orang Karo punya cita-cita dan tujuan yang sama, karena itu feedback sebagai alat perkembangan individu harus dimanfaatkan dan terus dikembangkan dan diperdalam dalam hubungan dengan kinikaron tadi.

Salah satu soal penting dalam mengembangkan feedback bagi orang Karo ialah pengertian dan penanggapan atas feedback dan sikap Karo membudayakan feedback sebagai orang introvert. Pastilah kita biasa melihat bagaimana entusiasme feedback di kalangan orang-orang extrovert di internet, dan bagaimana di kalangan introversi Karo. Lihat misalnya di Sora Sirulo atau di milis Karo, feedback itu sangat jarang atau sering mencapai nol, walaupun pembacanya lumayan besar jumlahnya.

 


[one_fourth]Apakah orang Karo tidak butuh feedback?[/one_fourth]

Bisa ditanyakan kepada Ruben Tarigan dan Sora Sirulo bagaimana reaksi dan tanggapan dalam hatinya kalau membaca feedback dari Gunawan itu. Dan juga bisa kita tanya kepada diri kita masing-masing apakah kita suka atau tidak suka feedback.

Orang Karo sebagai introvert sangat senang menerima feedback (positif) tetapi tak senang bikin feedback. Inilah yang harus kita ubah sekarang juga! Karena feedback adalah ALAT YANG AMPUH untuk bikin perubahan dan perkembangan. Bagi perkembangan individu dan Karo dan nation Indonesia.

Sambil belajar sesama kita mari kita coba diskusikan soal penting ini (feedback).

 

Catatan dari redaksi:

  1. Ada perumpamaan di kalangan Karo, kalau tidak ada reaksi apa-apa dari sesama orang Karo, berarti yang kita lakukan sudah sangat baik di mata mereka. Perumpamaan ini terkait dengan kecenderungan orang Karo yang lebih bisa menunjukkan feeback kalau telah dimuat marah. Kalau mereka senang mereka tidak akan bilang apa-apa lagi.
  1. Beberapa hari yang lalu redaktur Sora Sirulo menerima sebuah pesan sangat luar biasa dari seorang Karo. Katanya, situs online Sora Sirulo sangat bagus mengangkatkan kinikaron. “Belum pernah melihat media Karo seserius ini dan sebagus ini dalam memberitakan kinikaron,” katanya. Kita di dapur redaksi tentu saja senang menerima pujian seperti itu dan semakin berkeinginan berbuat lebih baik lagi. Feedback seperti ini sangat dan sangat langka di kalangan Karo.

Leave a Reply