Kolom M.U. Ginting: KBB BOTTOM-UP

0
120
bottom up
Tradisi perkolong-kolong ditampilkan oleh Sanggar Seni Sirulo

M.U. Ginting 2Robinson G. Munthe: “Apa yang kita prediksi dan harapkan bertahun-tahun lalu, kini telah menunjukkan bukti-bukti signifikan.”
Daud S. Sitepu: “Ini suatu revolusi Karo dan juga sebagai wujud KBB.”

Inilah kesimpulannya yang sudah tercapai oleh orang Karo pada tingkat sekarang ini. Dan, Karo pasti akan lanjutkan terus, kembangkan terus dan perdalam terus revolusi ini.

Dalam soal organisasi juga sangat terlihat banyak perubahan. Semakin banyak organisasi Karo yang aktif, bikin apa yang harus dibikin, tulis apa yang harus ditulis dan ngomongkan apa yang harus diomongkan. Contohnya ialah HMKI (Himpunan Masyarakat Karo Indonesia). Bandingkan 5-10 tahun lalu, organisasi Karo sangat banyak, banyak nama, banyak pengurusnya, tetapi umumnya hanya di atas kertas. Sekarang, terlihat dari sikap dan tindakan konkretnya. Luar biasa memang. Bravo Karo!

Organisasi Karo sekarang hidup, terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat secara positif. Organisasi pemuda maupun mahasiswa, semua bikin kegiatan dan menunjukkan kekaroan atau kinikaron.

Kemarin Sabtu di Swedia ada dua orang perempuan menarikan tari Karo di depan hadirin ulang tahun seorang perempuan Karo. Masih ada yang nyeletuk ‘ini tari Batak ya’. Dengan senang hati seorang Karo menjelaskan bahwa ini tari Karo bukan Batak. Seluruh ruangan jadi mengerti tari Karo. Dimana saja kelihatannya orang Karo sangat senang menjelaskan kinikaron itu. Revolusi mental . . . dalam kenyataan.

bottom up 2
Para etnomusikolog mengatakan, gendang terkecil di dunia ada di Karo. Lihat gendang kecil yang digandengkan ke gendang lebih besar yang sedang ditabuh oleh pemusik berbaju hitam (kanan).

Suku Karo merupakan suku terdepan pelaksana Revolusi Mental. KBB (Karo Bukan Batak) adalah salah satu contoh spesifik revolusi mental suku bangsa negeri ini. KBB adalah revolusi kultural, pembangkit semangat juang semua suku bangsa dalam melestarikan kultur dan budayanya yang kita namakan sekarang dengan KEARIFAN LOKAL. Dengan kerifan lokal ke kearifan nasional dan dari situ pula ke kearifan internasional. Selama ini arahnya terbalik, organisasi internasional mengendalikan kita, termasuk bikin utang banyak. Sekarang kita kembali ke daerah, karena hanya dengan kebangkitan dan kemajuan semua daerah akan terlihat kebangkitan bangsa ini.

Dan orang Karo mempraktekkan semua ini dengan terbuka, sangat transparan, dengan dialog maupun argumentasi seilmiah mungkin. Tidak ada yang gelap dalam perjuangan kultural Karo. Semua di atas meja dan semua dipersilahkan ambil bagian, orang Karo maupun orang bukan Karo, dalam konteks Bhineka Tunggal Ika, dalam gotongroyong, dialog dan musyawarah. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah bagi setiap suku bangsa, besar atau kecil.

Catatan Redaksi: Di bawah kami sertakan sebuah rekaman video latihan Sanggar Seni Sirulo dalam upayanya melestarikan tradisi Karo yang SANGAT berbeda dengan suku-suku di sekitarnya; Melayu (Tamiang, Langkat, Deli dan Asahan), Simalungun, Batak (Toba, Samosir, Humbang, Silindung), Pakpak, dan Alas. Perbedaannya sangat jelas terlihat dari musik yang dimainkan ini.



Leave a Reply