Kolom Salmen Kembaren: FROZEN CULTURE SYNDROM

1
225
Salmen 18
Karo Festival 2015 di Lapangan Merdeka, Medan.

Salmen Kembaren 3Akhir-akhir ini, identitas kekaroan semakin sering diperbincangkan. Ada tiga event maha dahsyat yang dapat menjadi unit analisanya. Pertama, kerja tahun Kota Medan yang pertama kali dilaksanakan. Ke dua, pembentukan Ikatan Cendekiawan Karo Sumatera Utara dan terakhir event yang berhasil mengumpulkan puluhan ribu warga Suku Karo di Lapangan Merdeka, Karo Festival 2015.

Ketiganya dilaksanakan di Medan.

Memang Medan adalah wilayah asli orang Karo, namun saat ini Suku Karo seolah-olah tamu di rumah sendiri. Bukan tidak beralasan, ketika kam di Kota Medan maka rasa etnis apakah yang paling kuat kam rasakan?

Pertanyaan ini susah dijawab jika tidak diuraikan melalui fisik kota, misalnya gaya arsitek gedung-gedung pemerintahan, ornamen-ornamen kota, taman kota, gapura, warna khas (karakter warna), dan berbagai fisik kota lainnya. Maka, bentuk gedung-gedung sudah bersifat modern tentunya. Dalam hal ini tidak ada suku yang mendominasi.

Ketika beralih ke gedung pemerintahan maka Melayu dan Batak mendominasi. Warna khas Melayu mendominasi yakni hijau kuning, sampai-sampai pot bunga di pembatas jalan. Kalau ornament-ornamen maka Melayu dan Batak juga.

Mungkin anda akan menyangkal bahwa ada berkharakter asli Medan atau Karo, namun sejauh pandangan mata saya dan anda maka tidaklah mendominasi.

salmen 19
Kerja Tahun Medan 2015

Frozen Culture (Yola G.) merupakan keadaan dimana para migrant suatu etnis begitu melestarikan budayanya sedang etnis asli di daerahnya telah bergeser meninggalkan budaya tersebut. Saya tidak sedang ingin membuat emosi kita menjadi meluap. Sebagai perbandingan, dalam Karo Festival misalnya, sebisa mungin panitia ingin menampilkan budaya-budaya Karo yang sudah sangat jarang dipertunjukkan.

Lain halnya dengan kerja tahun di Gugung misalnya, selain hanya menampilkan “landek aron dan perkolong-kolong” apa lagi seni yang bisa anda lihat selain itu? Belum lagi di Deliserdang dan Langkat yang kebanyakan desanya tidak lagi merayakan kerja tahun. Atau berubah menjadi landek penceng atau lebih tertarik kibod bongkar di daerah perkebunan.

Selain itu beberapa budaya Karo yang sedang sangat gencar adalah hidupnya kembali catur Karo. Di manakah paling intens kegiatan ini dilangsungkan?

Mungkin jawaban kita bersama adalah di Medan. Penguatan ini juga didasari oleh mahasiswa perantau ke Medan. Bukan di Tigabinanga atau Tigajuhar misalnya yang gencar menguatkan permainan ini. Malah yang terjadi sebaliknya, desa-desa mulai meninggalkan permainan tradisional dan beralih ke permainan teknologi yang bersifat individu. Keadaan ini juga merupakan bagian dari kebekuan budaya itu sendiri.

Salmen 20
Sanggar Seni Sirulo mencoba memecah kebekuan/ kekakuan pesta tahunan di desa-desa Karo dengan menampilkan seni pertunjukan jenis baru yang diangkat dari seni kuno Karo oleh koreografer/ sutradara Juara R. Ginting. Lihat juga video di bawah bagaimana Juara R. Ginting mengkombinasikan seni pop remaja dengan musik klasik Karo.

Saya kurang begitu yakin bahwa penyelenggara ketiga event besar yang saya maksudkan tersebut adalah asli warga Medan. Maksud saya adalah mereka keturuanan warga asli Medan adalah warga keturuan dari kerajaan Serbanaman, Lau Cih, Amparen Perak dan sekitarnya. Mereka adalah perantau dari Gugung, Deliserdang, Singalorlau ataupun Langkat yang bertemu semuanya di Medan. Dalam arti ide itu bukan dari asli Medan, sedangkan mereka yang perantau ke Medan ingin menguatkan kekaroan Medan.

Inilah bentuk kebekuan itu. Kita selayaknya mengapresiasi ketiga event besar ini, karena merupakan tonggak sejarah bagi kekaroan. Ratusan kilo meter dari Kota Medan kita harus melihat orang-orang Karo yang mulai meninggalkan budaya Karo itu sendiri dan sendi kehidupannya lebih banyak disentuh pergerakan dunia.

Jika boleh saya tambahkan, dalam hal ini orang Karo Bingei misalnya, lima tahun lagi akan kehilangan gendang bingei di wilayah aslinya. Sedangkan para cendekiawan berbicara tentang pembangunan. Karenanya pembangunan Karo harus holistik dalam arti membangun tidak hanya memajukan secara ekonomi melainkan bermental Karo. Gerakan penguatan Karo juga harus digencarkan di berbagai sendi kehidupan Karo.


1 COMMENT

  1. Tulisan SK ini adalah gambaran objektif evolusi kultur Karo atau Karo sebagai satu kultur dalam berbagai periode. Periode-periode itu ialah proses perubahan dan perkembangan kekuasaan dan kultur Karo dalam kancah pergolakan (kontradiksi) berbagai kultur//suku/nation dalam sejarah Sumatra sejak kejayaan kekuasaan Karo Haru (abad 11- 15) terus ke masa kini sampai dengan dilaksanakannya Festival Karo 2015 abad 21 di Medan, daerah asli kultur Karo. Medan didirikan oleh seorang Karo dan penghuni pertamanya adalah orang Karo.Jadi proses itu adalah proses evolusi dan revolusi Karo selama kira-kira 10 abad.

    Akan selalu sangat menarik memang melukiskan dan menggali proses survival Karo ini dalam perjalanan yang begitu panjang dan banyak dramatiknya, terutama karena kultur dan budaya Karo juga sudah sangat tua (7400 tahun) sebuah kultur yang hanya ada perbandingannya dengan kultur-kultur tua dunia yang sangat kaya dengan sejarah kebangkitan dan keruntuhannya, seperti Maya Indian, Yunani maupun Mesir dan juga China.

    Bedanya yang sangat menonjol ialah Karo merupakan nation yang kecil, satu bangsa minoritas tetapi dengan kebesaran yang punya perbandingan dengan bangsa-bangsa tua (nation) yang jauh lebih besar secara kwantitas. Ini jugalah salah satu sebab yang membikin menarik membuat suatu analisa dan mempelajari kembali kebesaran kultur Karo yang sudah sangat tua itu. Artinya mempelajari jatuh bangunnya satu nation kecil tetapi besar, dan dalam periode yang sangat panjang.

    Kebesaran itu juga ditandai dengan tingkat pemikiran/filsafatnya yang sudah sangat tinggi. Dialektika Karo adalah yang tertua didunia, bertentangan dengan pendapat Barat yang mengatakan bahwa dialektika Heraklitos Yunani adalah yang tertua dan yang pertama. Tetapi dengan umur kultur/budaya Karo sudah lebih dari 7000 tahun sedangkan dialektika Heraklitos maupun Tao baru 500 BC, maka pernyataan dialektika Yunani Heraklitos adalah yang pertama didunia, sudah bisa dinegasi.

    Dialektika Karo yang menggambarkan alam dan pikiran seperti Panta Rei Karo ‘aras jadi namo, namo jadi aras’ (alam) serta dialektika pikiran thesis-antitesis-syntetis Karo ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ sudah berumur lebih dari 5000 tahun bersamaan dengan tingkat perkembangan kultur dan budaya Karo yang sudah tua itu, sudah lebih dari 7000 tahun.

    Dari analisa SK ini bisa timbul macam-macam pikiran dalam hati kita sebagai orang Karo, seperti ‘hampir saja tadi kultur Karo bisa punah’ atau ‘untunglah masih belum punah’ dan lebih beruntung lagi karena sekarang sudah muncul kembali gerakan survival kultur Karo. Karena memang dalam proses itu jelas terlihat gejala-gejala kepunahan ‘frozen culture’ dari tempat aslinya, didaerah kebesarannya yaitu seluruh daerah kekuasaan Haru 10 abad lalu, daerah luas mulai dari Aceh Besar terus ke Sumtim dan Siak, jika dibandingkan dengan daerah kekuasaan Karo sekarang.

    Ditinjau dari segi psikologi (kharakter adalah segala-galanya) memang kharakter Karo itulah juga yang bikin dia besar dan bikin dia hampir punah, dan sekarang yang bikin dia pula bangkit kembali menuju kebesaran dan keaslian kharakternya yang sangat spesifik terlihat dalam satu periode sejarah yang panjang dan penuh dramatiknya atau disebut ‘mental Karo’ dalam istilah SK.

    “Karenanya pembangunan Karo harus holistik dalam arti membangun tidak hanya memajukan secara ekonomi melainkan bermental Karo. Gerakan penguatan Karo juga harus digencarkan di berbagai sendi kehidupan Karo.” (SK). Karo sangat konsekwen dalam praktek kenyataan melaksanakan Revolusi Mental yang dikumandangkan oleh presiden RI Jokowi abad 21.

    MUG

Leave a Reply