Kolom M.U. Ginting: PARTISIPASI DAN KETERBUKAAN

0
161

M.U. Ginting 2partisipasi 2Membakar hutan adalah cara paling murah-biaya kalau mau mengacau pemerintahan Jokowi. Rakyat jadi sakit, ekonomi menurun. Api lebih cepat daripada mengejar pembakar. Dan pembakar juga  lebih banyak daripada tukang kejar. Satu-satunya jalan yang mungkin mengejar pembakar ialah kalau rakyat banyak ikut partisipasi langsung di setiap daerah rawan kebakaran.

Tanpa bantuan jutaan rakyat, sudah tak mungkin hutan dan lingkungan umumnya bisa diselamatkan. Itulah era sekarang, era partisipasi publik dan jutaan publik dalam semua soal kemanusiaan. Hanya itu satu-satunya yang masih mungkin diharapkan menyelamatkan dunia dan kemanusiaan yaitu partisipasi publik dan keterbukaan.

Pemerintah Jokowi bisa cari kreasi baru soal partisipasi jutaan rakyat ini. Syaratnya sudah ada: internet.

Tetapi, ini hanya teori. Sudah sering juga kita dengar dan sudah banyak yang menuliskannya juga di media. Hal lain yang lebih penting tetapi belum pernah ditulis ialah bagaimana caranya menghidupkan partisipasi publik itu? Tentu ada hubungannya dengan kearifan lokal karena pembakar hutan memulai dari satu lokal tertentu.

Tetapi, bagaimana supaya kearifan lokal itu dipraktekkan, juga belum ada yang menuliskannya. Selama ini, kita hanya menuliskan definisinya, juga bagaimana teori pelaksanaannya. Semua sudah tahu sampai di situ. Tetapi, siapa yang tahu bagaiman supaya ada yang memulai? Atau kita hanya pura-pura saja semua soal kearifan lokal ini?

partisipasi 3Memang bisa juga dipahami kalau kearifan lokal itu banyak yang tak senang. Kearifan lokal mengandung keterbukaan yang terang benderang, atas dasar pengalaman dan pengetahuan rakyat, kultur dan budayanya yang sudah ada sejak ratusan tahun.

Banyak perusahaan yang tak menyukai partisipasi publik secara terbuka, seperti halnya perusahaan pengedar narkoba (sudah ada contoh rakyat bikin inisiatif membasmi pengedar narkoba di Lhokseumawe), perusahaan korupsi, perusahaan pencoleng duit negara, uang Bansos, pajak, dsb, dan perusahaan gelap lain-lainnya seperti pengguna lahan pembakar hutan itu.

Ada soal penting yang membikin publik sungkan ikut partisipasi dalam bertindak, yaitu masih selalu ada saja dari pihak pejabat, polisi, bahkan sampai ke pusat (menteri) yang selalu bisa merusak inisiatif publik ini karena menerima suap. Tetapi ini juga hanya bisa dihabiskan oleh publik, serahkan kepada publik pembongkaran suap dimulai dari desa atau daerah.

Leave a Reply