SEGERA !!!! Kisah Bersambung dari Bastanta P. Sembiring Berjudul TUK

0
121

“Ah, sudahlah!” cetus wanita itu. Sambungnya, lagi katanya, “Andai perbedaan ini tidak penghalang bagi kita untuk bersatu, mungkin saat ini kita sudah menikah dan punya beberapa anak. Mungkin saat ini kita sudah hidup bahagia dengan keluarga kecil kita. Hidup di pinggir kota kecil yang indah, membangun istana kecil kita yang dikelilingi perkebunan yang hijau dan peternakan di pinggir sungai.”

 

tuk

“Bukankah itu dahulu cita-citandu?” akhirinya dengan bertanya.

“Tidak, bukan aku. Tetapi, cita-cita kita,” Tuah mengingatkan.

Walau seakan berusaha menahan tangisnya, tampaknya usaha wanita itu tidak berhasil. Sementara itu, Tuah hanya membisu. Tidak tahu lagi apa yang harus terucap dari bibirnya.

Sebenarnya masalah ini sudah sering mereka perbincangkan dan akan selalu berujung pada pertengkaran kecil. Sungguh satu dilema, dimana cinta dua anak manusia harus kandas oleh keyakinan yang berbeda. Padahal tidak jarang kita berujar: “Tuhan itu satu!”

Tetapi, mengapa manusia tidak bisa hidup bersatu dalam keyakinan akan satu Tuhan itu? Apakah kata-kata mutiara, ‘mencintai tak mesti memiliki’ harus terus diperlakukan, tak kecuali bagi yang saling cinta?

Oh, aku semakin tidak mengerti dan membuatku semakin jauh dari untuk percaya, bahwa Tuhan itu, adalah satu!

Nantikan dan baca selengkapnya di Sora Sirulo ini atau di Seputar Sumatera.


Leave a Reply