Kisber: TUK (Bagian 1)

1
196

kisber dua 2Oleh:

Bastanta P. Sembiring (Jambi)

 

Minggu Pagi Yang Membosankan.

“Ya, hallo. Selamat pagi,” Tuah menjawab panggilan, tanpa melihat sedikitpun ke layar ponselnya siapa yang memanggil.

Terdengar suara yang tidak asing bagi Tuah di telinga melalui telepon genggamnya. Suara wanita yang lembut, lirih seperti sedang menangis, katanya: “Andai perbedaan ini tidak pernah ada.” Sejenak suasana di kamar itu semakin senyap.

Lanjut wanita itu: “Andai kita hidup di dunia, di mana perbedaan bukan suatu penghalang untuk kita bersatu. Perbedaan bukan sebuah hal yang menakutkan. Perbedaan, bukan?”

“Ah, sudahlah!” cetus wanita itu.

Sambungnya, lagi katanya: “Andai perbedaan ini bukan penghalang bagi kita untuk bersatu, mungkin saat ini kita sudah menikah dan punya beberapa anak. Mungkin saat ini kita sudah hidup bahagia dengan keluarga kecil kita. Hidup di pinggir kota kecil yang indah, membangun istana kecil kita yang dikelilingi perkebunan yang hijau dan  peternakan di pinggir sungai.”

“Bukankah itu dahulu cita-citandu?” akhirinya dengan bertanya.

“Tidak, bukan aku. Tetapi, cita-cita kita,” Tuah mengingatkan.

Walau seakan berusaha menahan tangisnya, tampaknya usaha wanita itu tidak berhasil. Sementara itu, Tuah hanya membisu. Tidak tahu lagi apa yang harus terucap dari bibirnya.

Sebenarnya masalah ini sudah sering mereka perbincangkan dan akan selalu berujung pada pertengkaran kecil. Sungguh satu dilema, dimana cinta dua anak manusia harus kandas oleh keyakinan yang berbeda. Padahal tidak jarang kita berujar, “Tuhan itu satu!”, tetapi mengapa manusia tidak bisa hidup bersatu dalam keyakinan akan satu Tuhan itu?

Oh, aku semakin tidak mengerti dan membuatku semakin jauh dari untuk percaya, bahwa Tuhan itu, adalah satu!

Namun, benarkah ini cinta? Benarkah hanya karena kepercayaan yang berbeda?

****

Pagi itu seperti biasa, Tuah belum juga mau beranjak dari tempat tidurnya yang nyaman itu. Kelembutan selimut yang mendekapnya di dinginnya udara pagi, seaakan tidak rela kalau keintiman ini harus berlalu. Namun, bunyi ponsel sedikit mengganggu. Ini masih Pukul 06.00 wib, tidak biasanya ada yang menelepon di hari Minggu, apalagi sepagi ini. Juga tidak biasannya Tuah mau diganggu di saat demikian.

Tanpa melihat itu panggilan dari siapa, Tuah pun menjawab ponselnya. Nada malas dan mengantuk masih jelas terdengar dari suaranya yang serak itu.

Panggilan dari Lisa, gadis yang pernah mengisi hatinya. Gadis yang sudah 3 bulan ini tidak pernah berkomunikasi dengannya. Ada apa ini? Tentunya, Lisa juga tahu benar kalau Tuah tidak suka Minggu paginnya diganggu, apalagi Lisa kembali mengungkit masalah yang seharusnya telah berakhir, bersamaan dengan berakhirnya hubungan mereka.

Pertengkaran kecil ini sungguh tidak akan baik untuk hubungan mereka ke depannya. Solanya, ini sudah menjadi perkara yang sering mereka perdebatkan dan sebelumnya sudah ada kesepakatan untuk segera mengakhiri hubungan ini. Tapi mengapa Lisa membukanya kembali? Apakah dia tidak puas dengan keputusan ini, yakni berpisah? Atau, adakah keputusan yang lebih baik dari itu?

Ataukah rasa cinta Lisa yang masih kuat terhadap Tuah? Itu wajar, 6 tahun lamanya berpacaran, 3 bulan bukan waktu yang cukup untuk melupakan segalanya. Lantas, kalau memang demikian, mengapa juga hingga detik itu Lisa masih bersikeras dengan pendiriannya dan malah seperti meneror Tuah agar mengikuti keputusannya?

Bukankah cinta itu pengorbanan yang tulus, bukan sesuatu yang dipaksakan? Oh, Lisa! Permainan apakah yang sedang engkau mainkan ini? Bukankah engkau yang sebelumnya mengatakan ini tidak akan berjalan baik dan memutuskan untuk mengakhiri semuannya?

Celakanya lagi, di belakang engkau juga menjalin hubungan dengan lelaki lain. Mengumbar kemesraan di hadapan teman-teman. Tidakah kau sadari ada hati yang sesungguhnya terluka namun berusaha tampak tegar?

Engkau selalu berujar: “Ini sudah berakhir!”

Jika demikian, mengapa engkau terus meneror Tuah yang sebelumnya tulus mencintaimu, mengikuti kehendakmu, mencoba bertahan dalam segala kemungkinan, terkecuali untuk hal yang satu itu?

Wanita seperti apakah dirimu? Yang menabur dan menumbuhkan rasa cinta di hati seorang pemuda. Dengan suara lembutmu, senyum manismu dan paras cantikmu dia telah kau hanyutkan dalam gelombang cintamu. Setelah itu, kau jauhkan, lalu terus engkau menuntut sebuah pengorbanan yang lebih dari cinta kepada ibu, bahkan Tuhannya.

Sebuah syair Karo, dengan manis mengatakan: “Bicara kam ka gia sekali arah aku é.

Maka buktikan juga cintamu. Sebab, menempatkan diri dalam posisi korban yang terus merengek untuk keinginannya dikabulkan, bukanlah sebuah keputusan yang cerdas untuk meraih cinta. Atau, pernahkan kita bertanya dalam hati, beginikah cinta itu? Yang terus menuntut, menuntut dan menuntut!

Oh, tidak! Ini bukan cinta, kataku! Dan jika orang bertanya: “Jadi, apakah ini?”

Maka siapa yang tahu pasti. Bahkan Tuah pun kemudian meragukan hatinya, apakah ini cinta, atau sebuah kebodohan yang memperdaya.

Atau, mungkin benar kata pujanggga cinta, kalau cinta itu ‘buta’ dan ‘cinta itu gila’. Namun tetap hatiku meragukan kalau ini masih cinta.

 

Foto-foto: ITA APULINA TARIGAN

 

Bersambung

1 COMMENT

Leave a Reply