Kolom Joni H. Tarigan: BERCERMIN DARI MENGEMUDI

0
125

Kolom ini saya tulis pada 8 September 2015 lalu, sebelum saya membaca Self Driving- Rheinald Kasali. Dalam buku Self Driving ini, karakter Driver menjadi analogi penulis menggambarkan bagaimana seharusnya kita memilih jalan hidup kita.

 

joni hendra tariganjoni hendra 2Sering sekali saya mengemudi kendaraan dari tempat kerja Wayang Windu ke rumah di Kabupaten Bandung. Setiap perjalanan sudah pasti badan akan terasa letih, tetapi saya tak pernah bosan mengulangi perjalan ini karena rute yang saya lalui hampir sama dengan perjalanan dari Medan menuju Berastagi atau Kabanjahe. Jalanan yang berkelok-kelok, menanjak ketika hendak ke Wayang Windu, dan menurun ketika henda pulang ke rumah. Perjalanan ini membawa suasana hati yang hendak berjumpa dengan keluarga di kampung.

Sudah menjadi kebiasaan saya mencoba melihat sisi lain dari apa yang orang kebanyakan perhatikan di jalanan. Saya pun  melihat siapa diri saya ketika saya mengemudi. Aturan standard adalah mengemudi sesuai aturan untuk keselamatan dimana keselamatan itu untuk diri sendiri dan orang lain. Di sini kita sudah melihat sisi kemanusiaan yakni peduli terhadap diri sendiri dan orang lain.

Pernah suatu ketika saya menaiki angkot, mungkin anda punya pengalamn juga, dengan ugal-ugalan mendahului kendaraan lain. Sisi kepentingan diri sendiri sangat menonjol, istilah lainya egois. Pada kesempatan lain, orang lain mencoba hal yang sama yakni mendahului si angkot ini dengan ugal-ugalan juga.

“Goblok, yang bener dong nyetirnya!!!” dengan amarah yang besar si supir angkot protes dan mengecam orang yang mendahuluinya.

Mungkin kebanyakan kita adalah orang yang sama seperti ini, kita protes apa yang orang lain lakukan, padahal kita sendiri jauh lebih buruk dari yang kita protes. Itu ketika melihat orang lain yang mengemudi kendaraan.

Pengalaman yang satu ini adalah pengalaman saya sendiri. Kecepatan, keamanan, kenyamanan, dan keselamatan (4K) terhadap diri sendiri dan orang lain menjadi perhatian saya ketika berkendaraan. Untuk mewujdukan 4 (k) tersebut maka  beberapa hal yang pernah saya lakukan adalah:

joni hendra 3Ketika jalanan sedang kosong saya akan pacu kendaraan dengan cepat. Karena tujuan saya adalah cepat sampai ke tujuan. Ketika jalanan padat maka saya akan atur kecepatan cepat, sedang, lambat dan bahkan berhenti. Jika kendaraan di depan saya lambat (truck, container) dan di depannya kosong, maka saya akan pacu dengan sangat kencang tetapi tidak akan saya lakukan di tikungan dan juga ketika kendaraan yang panjang melambat.

Kadang-kadang di tikungan banyak sepeda motor dengan kecepatan tinggi mendahului saya. Saya tahu saya sudah sesui aturan dan sipengemudi motor tidak mematahui aturan. Apa yagn saya lakukan adalah memperlambat kendaraan saya agar sepeda motor punya kesempatan mehindar jika tiba-tiba ada  kendaraan berlawanan arah.

Kadang saya menghidupkan lampu membelok ke kanan walaupun saya tidak membelok sama sekali. Ini saya lakukan agar kendaraan di belakang saya tidak mendahului saya karena ada kendaraan berlawanan arah yang sedang melaju.

Begitulah pengalaman saya ketika mengemudikan kendaraan. Bagi saya, itulah cerminan kita menjalani hidup ini; yakni kita harus peduli terhadap diri sendiri dan orang lain tanpa harus merubah tujuan hidup kita.

Sama seperti berkendaraan kita kadang harus mengalah (berkorban), kadang kita harus memberikan kesempatan bagi orang lain tanpa merubah tujuan kita sebenarnya. Jika anda juga sering mengemudikan kendaraan, amati diri anda dan jika anda adalah orang yang peduli, maka di rumah tangga pun anda tidak arogan. Jika dari rumah kita adalah orang peduli, maka akan terbentuk juga lingkungan yang peduli, dan ketika itu terjadi maka di situlah kita pantas disebut sebagai mahluk yang berakal budi.

Salam semangat dan perjuangan



Leave a Reply