Keuntungan Bilingual/ Multilingual

1
182

Oleh: Herlina Surbakti (Medan)

 

herlina 3Seseorang dikatakan bilingual apabila orang tersebut dapat menggunakan dua bahasa dan kalau seseorang dapat menggunakan lebih dari dua bahasa maka orang tersebut disebut multilingual. Di seluruh dunia, mayoritas penduduk adalah bilingual atau multilingual. Di Indonesia kebanyakan penduduk dapat berbicara paling tidak dengan dua bahasa atau bilingual.

Ada berbagai tingkat bilingualisme, dan Anda tidak perlu berbicara dua bahasa dengan sama lancarnya untuk dipertimbangkan sebagai bilingual. Kebanyakan orang memiliki satu bahasa ‘yang dominan’.

Ini tidak menghentikan anak-anak mencapai tingkat bilingualisme yang sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan mereka. Seorang anak mungkin bilingual pasif – ia memiliki kemampuan untuk memahami bahasa kedua tetapi tidak dapat menjawab dalam bahasa itu.

Seorang anak bisa saja memiliki bilingual tingkat dasar – ketika mereka dapat berbicara dengan anggota keluarga dan orang dewasa lainnya tetapi berada di tatanan anak-anak monolingual pada usia yang sama. Atau mereka mungkin memiliki kemampuan asli -seperti – di mana tingkat bahasa lisan sulit untuk dibedakan dari rekan-rekan satu bahasa mereka.

Apapun tingkat kemahiran Anda mencapai bilingualisme atau multilingualisme dapat menjadi bagian positif dan memperkaya kehidupan. Terutama bagi anak-anak dan keluarga yang berbicara dua atau lebih bahasa baik di rumah atau di masyarakat.

Bagaimana anak-anak bisa menjadi bilingual?

bahasa ibu 2

Ada beberapa cara untuk membawa anak Anda berbicara dengan lebih dari satu bahasa. Bahasa yang digunakan oleh keluarga ketika orangtua berbicara bahasa asli yang berbeda. Misalnya, keluarga bisa hidup di Jawa Barat dan ibu dapat berbicara bahasa Karo tapi ayah mungkin dari Jawa Barat dan memilih untuk berbicara bahasa asalnya, bahasa Sunda, dengan anak-anak. Pola ini mempunyai banyak keuntungan, orang tua dapat terhubung dengan anak mereka dalam bahasa mereka sendiri dan anak mampu berbicara dua bahasa, dan tidak memerlukan beberapa perencanaan ataupun ketekunan.

Orangtua yang ingin anak-anak mereka untuk berbahasa Karo dengan baik, yang bertujuan untuk menawarkan tingkat yang lebih tinggi dari paparan bahasa tersebut, harus konsisten dengan pilihan bahasanya. Mereka juga harus selalu saling mendukung ketika menggunakannya di dalam maupun di luar rumah.

Cara lain yang umum untuk membawa anak Anda menjadi bilingual adalah ketika orangtua berbicara bahasa minoritas yang sama. Hal ini kadang-kadang disebut pola bahasa minoritas. Misalnya, dua orangtua mungkin telah bermigrasi dari Tanah Karo ke Bali, dan berbicara bahasa Karo kepada anak-anak mereka, sementara anak-anak mereka pergi ke sekolah berbahasa Indonesia. Metode ini mempunyai keuntungan bahwa anak-anak mendapat eksposur besar ke bahasa minoritas melalui kedua orangtua. Namun, sebagai orangtua, Anda mungkin sering merasakan tekanan dari orang lain dalam masyarakat untuk berhenti berbicara bahasa rumah Anda untuk anak-anak Anda. Anda perlu mengingat keuntungan dari bilingualisme dan berkomitmen untuk mempromosikan dan mempertahankannya.


[one_fourth]Mitos dan kesalahpahaman[/one_fourth]

Meskipun banyak keuntungan yang bisa didapat dengan bilingualisme, ada beberapa mitos dan kesalahpahaman yang menghawatirkan orangtua dan wali. Beberapa mitos ini mungkin sudah biasa kita dengar.

Mitos 1: “Anak-anak akan bingung.”

Anak-anak sangat mampu belajar dua atau lebih bahasa secara bersamaan. Mereka juga dapat menunjukkan mereka dapat membedakan antara dua bahasa pada usia yang sangat muda.

Mitos 2: “Bahasa Indonesia anak akan terganggu.”

Telah terbukti bahwa pengetahuan tentang bahasa rumah benar-benar dapat membantu dengan perolehan bahasa masyarakat, misalnya bahasa Karo di Surabaya. Anak-anak dengan dasar yang kuat dalam bahasa asal (bahasa Karo) mereka belajar bahasa Inggris misalnya. Mereka akan lebih mahir dan mencapai sukses akademik yang lebih tinggi daripada mereka yang bahasa rumah dalam hal ini bahasa Karo tidak didukung.

Mitos 3: “Anak-anak akan bermasalah dalam membaca dan menulis.”

Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak bilingual yang terkena dua sistem penulisan akan lebih mudah untuk mencapai tingkat tinggi dalam membaca dan menulis, dan bahkan mungkin memiliki pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara forum linguistik dan makna dari rekan-rekan satu bahasa mereka.

Mitos 4: “Bilingualism menunda akuisisi/ pemerolehan bahasa.”

Tidak ada bukti yang mendukung pernyataan ini. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak bilingual memperoleh bahasa pada tingkat yang sama seperti anak-anak monolingual. Beberapa anak bilingual mungkin mulai berbicara agak terlambat dari rekan-rekan mereka, tapi ini juga terjadi pada beberapa anak monolingual!

1 COMMENT

  1. Mitos-mitos ini sangat banyak bisa membantu dalam mencerahkan dan memperluas pengetahuan kita dalam menghadapi anak-anak dari berbagai segi atau banyak segi. Penambahan dan pendalaman pengetahuan kita selalu diharapkan dalam proses peningkatan dalam arti perubahan dan perkembangan cara dan metode pendidikan anak-anak didik satu nation. Pengetahuan berkembang dan meningkat sesuai juga dengan perubahan jaman. Tentu saja pengetahuan dan perubahan itu juga selalu diuji kebenarannya dalam ‘proses pengujian’ yang dimungkinkan sekarang ini, yang banyak dipermudah dengan adanya keterbukaan dalam era internet media sosial. Pengetahuan apa saja bisa diuji oleh jutaan publik dan akan benar kalau sudah tak ada lagi argumentasi sebaliknya.
    Rasanya sangat beruntung bisa hidup di era internet ini hahaha . . . .

    MUG

Leave a Reply