Kolom Wijayanto W. Aji (Demak): SINTESA BARU INDONESIA

1
141

agrifaBerbicara tentang Indonesia memang dinamikanya panjang sekali. Sejak dideklarasikan oleh proklamator untuk kemerdekaan bangsa maka argo perubahan terus bergerak.

Pada prosesnya ketika negara ini mencari bentuknya pasca kemerdekaan maka dinamika membentuk tatanan sistem sudah dimulai melalui proses Orde Lama. Banyak problem kaitan sistem dan bernegara era tersebut. Proses tersebut berlanjut hingga akhirnya ada gejolak yang terkondisikan oleh perang isu idiologisasi yang akhirnya membentuk sistem baru, yang saat itu, dinamakan Orde Baru sebagai tesa sistem baru pasca gejolak idealisme para pendiri bangsa

Tesis bernama Orde Baru dibentuk berdasarkan dinamika gejolak perebutan kekuasan dan ideologi negara, bahkan sampai saat ini kita semua masih memperdebatkan cara penguasa Orde Baru dalam pengambilalihan kekuasaan.

Tapi, sudahlah. Iaratnya nasi sudah jadi bubur, yang ingin kita kaji adalah sistem saat itu diterapkan lebih menekankan stabilitas politik keamanan demi upaya membangun sistem itu. Bahkan, demi mewujudkan konsep tersebut, maka THE SMILING MAN julukan penguasa Orde Baru saat itu ingin mengarahkan seluruh stakeholder negeri ini dibungkam lewat bahasa satu azas demi mengatasnamakan stabilitas. Rakyat yang ingin bersuara kritis pun seolah dihilangkan lewat gerakan senyap.


[one_fourth]pertarungan pribumisasi [/one_fourth]

Saat itu, memang prosesnya serba dibuat nyaman dimana negara dibuat tanpa gejolak dengan semua stabilitas terjaga bahkan ketahanan pangan terkendali. Tapi, sayangnya proses kesejahteraan ada ketimpangan yang prosesnya sentra akses kekuasaan hanya dikuasai kelompok tertentu yang muncul pertarungan pribumisasi ala Suharto dulu. Hal itulah yang membikin puncak kemarahan rakyat yang menyebabkan image warga keturunan China sebagai fokus serangan yang sebabkan jadi isu laten hingga sekarang.

Lagi-lagi gejolak selalu jadi sarana merubah sistem karena ketidakrelaan penguasa rezim untuk regenerasi kepemimpinan. Muncullah antitesa Orde Baru dari hasil gerakan bersama rakyat menurunkan penguasa rezim dan memunculkan rezim Reformasi sebagai arah baru negara ini.

Rezim Reformasi yang lebih menekankan tranformasi politik dan ekonomi dengan menonjolkan kekuatan partai politik dalam membangun sistem. Tidak ada lagi keseragaman dalam membangun sistem karena lebih menitiktekankan pada penghargaan pada perbedaan untuk dikonklusikan dalam menata perubahan. Ternyata model antitesa Orde Baru membawa perubahan di tingkat struktur dan kultur.

beben

Ada upaya mengurangi sentralisasi kekuasaan negara dalam membangun dimana proses otonomi daerah sebagai simbol gerakan baru membangun daerah. Namun ternyata proses antitesa rezim memunculkan persoalan pada perilaku elit, baik nasional maupun daerah, yang lagi euforia diberi kewenangan bersuara untuk mengatur negara yang selama ini merasa terbelenggu. Euforia para elit nasional maupun daerah memunculkan raja-raja kecil di masing-masing struktur kekuasaan baik pusat maupun daerah.

Merasa jadi raja-raja kecil, maka lagi-lagi rakyat dilupakan dalam partisipasi pembangunan. Kadang, meskipun siklus Pemilu berjalan normal dalam perebutan dinamis kekuasaan cuma rakyat masih jadi obyek sistem pada rezim Reformasi.

Dari proses itulah rakyat pun belajar memahami rezim demi rezim dan akhirnya momentum 17 tahun rezim Reformasi pada Pemilu 2014 rakyat menemukan cara baru merumuskan SINTESA BARU INDONESIA. Sintesa baru ini lebih menekankan rakyat sebagai subyek perubahan. Kebetulan ada figur yg merepresentasikan berasal dari rakyat serta bukan elit nasional yang selama ini hanya jadi menara gading dan butuh rakyat ketika Pemilu.


[one_fourth]rezim partisipatoris[/one_fourth]

Melalui representasi Jokowi sebagai pemimpin rakyat telah menjadi energi baru terbentuknya REZIM PARTISIPATORIS, dimana rakyat bahu membahu secara spontan. Tanpa disuruh, rakyat mendukung gerakan Jokowi merubah negeri ini mulai dari memunculkannya dalam pertarungan formal struktural lewat Pemilu serta simbol-simbol gerakan secara sukarela bermunculan dalam mendukung Jokowi jadi lokomotif gerakan REZIM PARTISIPATORIS. Rakyat menginginkan pemimpin mereka tidak lagi jadi menara gading di puncak kekuasaan sehingga sulit disentuh rakyat jelata. Rakyat menginginkan kerja-kerja kerakyatan yang merepresentasikan suara rakyat sehingga pemimpin kayak Jokowi mampu menjadi akselerator bersama rakyat dalam menata negara jadi lebih baik.

Proses akselerasi bersama Jokowi tidak berubah di pasca Pemilu dimana rakyat terus dilibatkan sebagai subyek pembangunan untuk bareng-bareng mengatasi segala masalah bangsa karena JOKOWI- JK ADALAH KITA. Peran peran energi positif yang digerakkan terus oleh Jokowi sejak jadi Walikota Solo untuk menggerakkan rakyat sebagai subyek pembangunan. Virus tersebut telah menular di seantero Tanah Air dalam membangun REZIM PARTISIPATORIS.

Semoga virus positif ini terus konsisten digerakkan oleh Jokowi hingga bisa memimpin negeri ini selesai dan harapannya bisa 2 periode sehingga nilai transformasinya benar-benar membumi.

KARYA CS REFORM
‪#‎CatatanJelangSetahunJokowiJK‬
‪#‎MasihBersambung‬

Catatan dari redaksi: Foto=foto dan video adalah penampilan dari Sanggar Seni Sirulo (Karo) di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung).



1 COMMENT

  1. Cocok ini menggambarkan tesis-antitesis-syntesis Hegel. Proses dialektika dalam semua kejadian atau hidp-mati satu sistem atau satu pemerintahan. Orang Karo kuno bilang ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’. Sura-sura Soeharto diakhiri dengan sinanggelnya. Muncul sintesis sura-sura baru era reformasi. Dalam era reformasi bermunculan juga berbagai kontradiksi atau pasangan kontradiksi seperti disebutkan dalam artikel diatas, antara pusat dan daerah, antara mobilisasi atau partisipasi, antara ‘kambing’ dan ‘singa’ dsb yang kesemuanya itu akan menuju sintes baru pula. “Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan” biasa kita sebutkan di milis Karo, sangat jelas terlihat dalam proses segala macam perubahan dalam masyarakat, termasuk sangat jelas juga terlihat dalam proses perubahan dan perkembangan dalam berbagai partai yang tak terelakkan akan melalui proses dialektika tesis-antitesis-syntesis Hegel, atau proses ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ Karo kuno.

    MUG

Leave a Reply