Karo Tampil Beda di Stockholm

2
118

stockholm

 

M.U. Ginting 2M.U. GINTING. STOCKHOLM. Akhir Pekan lalu [Sabtu 26/9], ada Pasar Malam Indonesia di Stockholm yang diadakan oleh organisasi ‘Perkumpulan Swedia-Indonesia’ (SIS – Swedish Indonesian Society). Acara ini memang diadakan setiap tahun oleh organisasi ini dalam rangka memperkenalkan Indonesia, kultur dan budayanya ke masyarakat Swedia dan internasional. Tema kali ini adalah ’Sumatra’ dengan pertunjukan berbagai budaya dan kultur dari Sumatra.

Perkumpulan Indonesia di Gotenburg mementaaskan tarian budaya Karo Maba Kampil dan Patam-patam dibawakan oleh penari-penari Perkumpulan Indonesia di Gotenburg yaitu Andita Therning dan Maya Puspita serta dilengkapi juga oleh Roza Arnevill dan Wendy Arnevill Ginting.

Pakaian tradisional Karo merupakan yang baru dalam Pasar Malam SIS ini, begitu bersemarak dengan warna-warni merahnya sehingga sangat indah dipandang mata dan sangat membikin hadirin gembira dan sekaligus juga bangga dengan kekayaan berbagai pakaian-pakaian tradisi budaya Bhinneka Tunggal Ika negeri Indonesia ini.

stockholm 2
Tari Piring dari Minangkabau.

Tarian Karo dengan lagu Maba Kampil begitu lemah lembut mempesona, dan kemudian disambung dengan Patam-patam dan mengikutkan hadirin yang diundang ke atas panggung. Suasana jadi sangat bersemarak, seperti tari rakyat di acara  Guro-guro Aron Karo. Tidak heran kalau pada akhir lagu kemudian disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari semua hadirin.

Dalam ’tema Sumatra’ kali ini selain Karo dan Batak tampak juga diperlihatkan dari Minang, Aceh/Gayo, dan Melayu Riau. Di sini terlihat bahwa masyarakat Indonesia di Swedia telah terbiasa melihat Karo dan Batak sebagai dua suku bangsa Indonesia yang berbeda.

 

Foto-foto adalah koleksi Svensk-Indonesiska Sällskapet

2 COMMENTS

  1. Hari ini ada pertemuan suku Sami dengan Parlemen Sami di Swedia Utara, daerah penduduk asli Swedia orang Sami. Orang Sami minoritas di Swedia, dan selama 100 tahun terakhir banyak penderitaan orang Sami karena sikap pemerintah kerajaan Swedia. Politik Assimilasi dipaksakan terhadap mereka, anak-anak disekolah dilarang berbahasa Sami, dan pengakuan resmi atas Parlemen Sami ini baru ada dengan terbentuknya Parlemen Sami ini th 1993, di Norwegia 1989, di Finland 1996, di Rusia 2010 (belum diakui juga oleh pemerintah Rusia). Terlihat bagaimana penderitaan dan perjuangan penduduk asli daerah utara Eropah ini 100 th terakhir.

    Dalam pembicaraan beberapa perwakilan Sami hari ini mengkedepankan lagi kultur dan bahasa Sami untuk diperkuat keberadaannya. Siatuasinya lain memang sekarang karena secara nasional (Swedia) telah mendukung sepenuhnya perkembangan Sami secara kultur dan bahasanya. Tetapi sudah sempat sangat banyak yang tak bisa lagi berbahasa Sami karena dibawah tekanan politik assimilasi era lama itu.

    Kita bisa banding-bandingkan dengan bahasa minoritas di Indonesia, bahasa dan kultur Karo misalnya. Ketika Orba, bahasa Karo tak dilarang, tetapi terlihat semakin banyak yang tak mau pakai atau malu pakai bahasa Karo. Sampai sekarang juga belum ada usaha konkret pemerintah pusat secara nasional dalam menghadapi bahasa-bahasa minoritas ini artinya belum ada progrram nasional yang memungkinkan suasana ’aman’ dari kepunahan bagi bahasa-bahasa minoritas Indonesia.

    Bagi Karo dan bahasa Karo terlihat satu ’kegigihan Karo’ untuk bertahan walau dalam situasi yang tak menguntungkan seperti era Orba. Karo mampu bertahan dan gigih berjuang terutama setelah lengsernya kekuasaan fasis militer Orba. Dan dengan pergolakan etnis-etnis dunia dalam ethnic revival atau cultural revival, orang Karo mengikuti dengan seksama dan bikin sendiri kultur revival Karo, termasuk dalam pemakaian dan penggairahan kembali kultur-budayanya dan juga bahasanya bahasa Karo. Sikap gigih heroik ini tentu tak lepas dari kultur budaya Karo yang sudah sangat tua dengan filsafat dan dialektikanya yang sudah tinggi, dan juga sikap gigih dan heroiknya dalam perjuangan menentang penjajahan sejak permulaan kedatangan kolonial Belanda ke Indonesia yang dimulai dengna perang jangka panjang Badiuzzaman Surbakti akhir abad 19.

    Gerakan penggiatan kultur dan bahasa Karo ini terlihat juga di LN seperti di Belanda dan Swedia seperti di Pasar Malam Stockholm itu. Survival Karo dan kulturnya jelas terlihat lebih safe sekarang.

    MUG

  2. Acara tema ‘Sumatra’ di Pasar Malam Stockholm itu banyak manfaatnya bagi pencerahan semua warganegar Indonesia di Swedia dan Stockholm khususnya soal suku Karo. Selama ini yang banyak dikedepankan di LN ialah atraksi kultur dan budaya dari Jawa, dan terakhir dari Bali juga. Bali begitu populernya dihati orang Eropah sehingga sering tak mengetahui kalau Bali adalah Indonesia juga.

    Pengetahuan umum atas pulau-pulau lainnya masih tertinggal dalam perkenalan kultur dan budaya Indonesia. Begitu banyaknya pulau-pulau dengan kultur dan tradisinya sebanyak itu itu juga, yang semua disatukan dalam Bhinneka Tunggal Ika. Kultur dan tradisi Karo termasuk yang jarang dipanggungkan di LN, kecuali di Belanda yang sering ditampilkna oleh Tartar Bintang JRG cs (Juara Rimanta Ginting dan teman-temannya). Di Swedia beberapa kali juga diperlihatkan tradisi Karo ini dalam bentuk tari dengan musiknya, seperti hari Sabtu kemarin di Pasar Malam Stockholm itu. Banyak yang tertarik juga memang dengan musik dan tari Karo, terutama pakaian tradisinya yang sangat semarak dan bikin senang hati melihatnya, dan mengingatkan kekayaan tradisi Bhinneka Tunggal Ika itu.

    Karena itu Karo semakin dikenal juga, dan semakin banyak yang mengerti bedanya dengan suku Batak yang dianggap orang banyak selama ini termasuk Karo didalamnya. Dengan tampilnya pertunjukan Karo sendiri di panggung seperti di Psar Malam itu, semakin banyaklah yang paham bahwa suku Karo bukan termasuk suku Batak. Kesalahan paham semakin terkikis.

    Dalam bincang-bincang sebelum acara Pasar Malam dimulai, ada satu kerumunan tamu-tamu sedang ngobrol, kelihatannya soal Sumatra itu, soal Batak juga tersebutkan dalam obrolan, dan ada yang menyinggung ’banyak suku termasuk Batak’. Seorang Batak bilang ’saya Toba’ dan seorang Karo bilang ’saya Karo’. Kebingungan juga bagi yang tadi menyangka kedua orang ini adalah Batak. Tiba-tiba malah tak ada Batak disitu, diantara dua orang tak ada yang mengaku Batak, karena yang satu ngaku Toba dan yang lain ngaku Karo.

    Gerombolan yang sedang ngobrol ini akhirnya mengerti ada Karo dan ada Toba, tetapi dalam hati masih bertanya dimana Bataknya? Orang Karo dan juga Toba (yang mengaku Batak atau tidak) sesungguhnya berkwajiban berikan penjelasan kepada mereka yang masih belum mengerti seluk beluk istilah ’Batak’ ini. Orang Karo umumnya siap memberikan penjelasan kapan saja. Itulah kelebihan Karo saya perhatikan belakangan ini. Ini sesuai juga dengan ’sikuningen radu megersing’,

    Dengan dipentaskannya tarian tadisi Karo ’maba kampil’,dan ’mbuah page’ deimana disertakan juga hadirin yang mau naik ke panggung, acaranya jadi sangat hidup dan meriah dan menggembirakan, dan Karo dikenal sebagai Karo..

    MUG

Leave a Reply