Kolom Joni H. Tarigan: Sesuatu diantara Ahok dan Abraham Lincoln

1
202

joni hendra tariganSaya sangat bersyukur karena kemarin belum sempat menuliskan tentang ini tetapi sudah saya tuliskan judulnya di group ini sehingga ingat lagi. Semoga apa yang saya paparkan ini bisa menimbulkan suatu arti bagi kita.

Saya akan mulai dari cuplikan ini:

ahok 16
Ahok foto bersama reporter Sora Sirulo Johra Hoggendoorn di Bandara Schiphol, Amsterdam.

“Ke dua, sejak kecil saya melihat bagaimana bapak saya dengan mudahnya membantu orang. Bahkan dia rela untuk berhutang demi bisa membantu rakyat. Secara perlahan saya pun jadi ikut mencontoh papa. Papa saya mengatakan bahwa jika saya suka lawan pejabat dan suka bantu orang miskin, lebih baik jadi pejabat saja karena kita tidak akan pernah punya cukup uang untuk bantu orang miskin. Misalnya 1 milyar kita bagikan kepada masyarakat masing-masing 500 ribu, hanya akan cukup dibagi untuk 2000 orang. Mereka pasti juga akan kembali jadi miskin. Tapi jika saya gunakan 1 milyar itu untuk berpolitik merebut APBD, saya bisa menguasai anggaran APBD (yang juga merupakan uang rakyat) dan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang bisa mendatangkan KEADILAN SOSIAL. Karena pengalaman pahit pribadi, beban sosial di nurani saya, dan keyakinan di atas, saya putuskan untuk berpolitik.” (Selengkapnya klik DI SINI)

Paragraf di atas memaparkan alasan politik Ahok yang langsung saya copy dari sumbernya. Saya lanjutkan cuplikan berikut ini:

Untuk melakukan perubahan saya harus terbebani dan untuk itu saya harus menjadikan diri saya sebagai seorang presiden,” kata-kata ini diucapkan oleh Abraham Lincoln ketika ia prihatin terhadap kondisi perbudakan oleh kulit putih terhadap kulit hitam di Amerika Serikat. Dan ia pun menjadi presiden ke 16 Amerika Serikat.

Dalam artikel yang pernah saya tulis juga di group ini, saya  pernah menyampaikan “jika keinginan kita menjadikan orang lain lebih baik sebagai motivasi, maka kita takkan pernah menyerah untuk berbuat untuk kebaikan”.

abraham lincoln
Abraham Lincoln semasa remaja

Saya kira, dalam diri 2 tokoh di atas menjadi jelas dan terbukti bahwa keprihatinan untuk berbuat bagi sesama itulah yang menjadi bahan bakar mereka. Ahok berpolitik  untuk mendatangkan keadilan sosial, Abraham Lincoln menjadi presiden juga untuk keadilan kulit hitam dan putih. Saya meyakini apa yang mereka lakukan itu bukanlah takdir atau bakat yang sudah melekat sejak lahir. Tetapi talenta yang mereka miliki mereka asah dengan keprihatinan terhadap harkat dan martabat manusia tanpa memandang RAS.

Masing- masing kita juga tentu dianugerahi Tuhan dengan talenta yang unik, tergantung kita memutuskan bagaimana mengembangkan talenta itu. Saya sendiri bermimpi untuk memiliki sebuah perusahaan dengan demikian gerakan perubahan untuk kebaikan yang saya mimpikan bisa lakukan secara signifikan dan saya punya pasukan untuk berbuat kebaikan.

Jika kita hanya bersungut-sungut terhadap keadaan tetapi tidak bertindak untuk memecahkan persoalan, maka sesungguhnya talenta itu tidak kita kembangkan, dan itu pilihan hidup.

1 COMMENT

  1. Ada yang berjuang mencapai APBD supaya bisa dilego, Ahok sebaliknya mau mengawasi supaya bisa digunakan adil untuk kepentingan masyarakat.
    Ahok baru yang pertama bikin begitu. Mudah-mudahan nanti ada di Karo yang memulai cita-cita yang sama dengan Ahok. Maka Karo akan jadi yang kedua di Indonesia.

    MUG

Leave a Reply