Menonton ‘The Look of Silence’ di TV Belanda

1
133

Johra Hoogendoorn (Zaandam, Nederland)*

 

bandarakomunis 1Setelah menonton film dokumenter tentang peristiwa 1965, Adi pria paruh baya (44) mengunjungi para pembunuh yang terlibat dalam pembunuhan massa di tahun itu. Adi adalah adik Ramli yang terbunuh pada peristiwa berdarah itu.


Dari cerita ibu Adi dan juga cerita sang pembunuh, Ramli disiksa dan ditikam tapi sempat melarikan diri. Namun sayang, Ramli dijemput di rumah oleh para pembunuh yang menamakan diri mereka pahlawan negara . Ramli akhirnya meninggal setelah kemaluannya dipotong.

Dari semua ex pembunuh peristiwa 1965 yang Adi temui, tak satupun diantara mereka yang merasa bertanggungjawab atau merasa bersalah. Bahkan mereka sangat bangga dengan apa yang mereka telah lakukan. Mereka pun mengaku sangat disegani dan dihormati sampai sekarang. Orang-orang kampung sangat takut dan hormat pada mereka.

Pak Inong, seorang agamawan yang ex pembunuh mengaku membunuh karena kaum PKI adalah orang-orang tak beragama dan perlu dihabiskan. Pak Inong mengaku telah meminum darah para korbannya supaya dia tidak jadi gila karenanya.

komunis 2
Para ex pembunuh yang memperagakan bagaimana mereka memperlakukan tahanan saat itu; menyeretnya ke hilir sungai untuk dipenggal.

Amir Siahaan, yang adalah komandan pada eksekusi Sungai Ular, malah meminta balas jasa, bahwa jasa-jasa mereka seharusnya dibalas dengan mengirim mereka jalan-jalan ke Amerika naik kapal terbang atau naik kapal cruise. Dia mengaku telah mengubur hidup-hidup para tahanan PKI.

Pak Siahaan ini orang kaya raya di kampungnya. Diapun mengaku bahwa banyak orang-orang yang mengirim batu, semen dan lain-lain ketika dia membangun rumahnya. Katanya ini semua balasan atas perbuatan baiknya.

Ketika Adi meminta tanggungjawab Pak Siahaan atas kematian kakaknya Ramli, Pak Siahaan mulai emosi dan merasa dirinya tak bertanggungjawab. Semua tanggungjawab pemerintah, katanya. Yang Pak Siahaan maksud adalah pemerintah Orde Baru.

Sambil menahan emosi dan air mata, Adi pun bertanya pada Pak Siahaan: “Seandainya aku berbicara di Orde Baru sama bapak, apa yang bapak akan lakukan?”
“Saya nggak bisa bayangkan apa yang terjadi,” jawab Pak Siahaan.

Dari jawaban Pak Siahaan kita sudah tahu bahwa memang pemerintahan Orde Baru adalah pemerintahan diktator. Siapa yang berani bertanya dengan tujuan mencari kebenaran, akan dihadang. Karena memunculkan kebenaran, berarti memunculkan dosa Soeharto. Dan, ini tidak boleh !!!

2 dari ex pembunuh mengaku bahwa perjuangan ini adalah perjuangan rakyat, bukan aksi ABRI atau pemerintah. Tapi kita semua tahu siapa backingnya di belakang. Mereka (pemerintah) menjaga diri utk mengindari amarah dunia, jelas mereka.

komunis 3
J I J I K aku melihat ex pembunuh ini yang menceritakan aksi pembunuhan yang dia lakukan sambil tertawa.

Pak M.Y. Basrun yang adalah ex Sekretaris Jenderal aksi 1965 itu, yang menjabat sebagai ketua DPR sejak thn 1971 meminta kepada Adi untuk tidak lagi mengungkit masa lalu.

Karena, jika masa lalu itu diungkit, bisa timbul lagi peristiwa yng sama. Pak Basrun akui tidak mungkin rakyat memilihnya jadi anggota DPR jika rakyat dendam terhadapnya.

“Bisa jadi anda terpilih karena tekanan-tekan,” tanya Adi.

“Oo tidak! ” jawab Pak Basrun.

Pak Basrun hanya memesan pada Adi,”Rubah!”

Di menit-menit terakhir film dokumenter ini terlihat Adi mengunjungi pamannya (adik ibunya).

Ternyata si paman ini adalah penjaga tahanan PKI waktu itu.

Adi pun bertanya pada pamannya kenapa tidak membela Ramli ponakannya saat itu? Si paman mengaku tidak punya daya. Dia hanyalah abdi negara yang menjalankan tugas sebagai penjaga tahanan. Jika dia membela Ramli, dia akan bisa dibunuh juga.

 

* * * *

Ach, saya menangis saat menonton film dokumenter yang berdurasi sekitar 1 jam 40 menit ini. Kok ada ya manusia yang sadis seperti ini?

komunis 4
Pak Kemat … Dia juga tahanan tapi sempat melarikan diri dan terhindar dari pembunuhan. Dia menganjurkan pada Adi untuk memaafkan masa lalu. “Maafkan mereka yang telah berbuat sadis terhadap kita … Seumpama koreng, koreng itu telah sembuh dan jangan dikorek-korek lagi,” tegasnya .

Ibu dan keluarga Adi menasehatkan pada Adi supaya berhati-hati karena orang-orang ex pembunuh itu masih punya kuasa. Mari kita doakan supaya peristiwa 1965 tidak terjadi lagi.

Seperti kata Pak Bahrun “RUBAH”. Karena kebanyakan pelaku pembunuhan adalah mereka orang awam yang telah dihasut dengan propaganda. Ini pelajaran buat kita, jangan lagi mau dipropagandai!!

Sejarah yang benar perlu kita pelajari supaya kita bisa berbenah diri, tapi KITA TIDAK HARUS DENDAM, apalagi membalas dendam. Balas membalas akan menimbulkan perang saudara antara kita.

* Penulis adalah wartawan Sora Sirulo untuk Belanda asal Toraja.


1 COMMENT

  1. Baguslah ’The Look of Silence’ ini diangkat di SS, pencerahan penting bagi seluruh bangsa karena selama ini masih digelapkan dan lebih jelek lagi dianggap tabu untuk mengkedepankannya. Ada dua film soal ini, yang satu ’The Act of Killing’ juga sudah diputar di banyak TV Eropah, tetapi juga di Jakarta dalam acara undangan tersendiri. Kedua film ini menggambarkan keadaan sebenarnya karena dibintangai sendiri oleh pelaku-pelaku yang masih hidup.

    Sebagian menganggap bahwa pembuatan film ini adalah dalam rangka kembali menghidupkan senitmen permusuhan masa lalu dan dengan begitu bertujuan mengadu domba dengan menghidupkan kembali permusuhan itu dikalangan rakyat Indonesia. Tidaklah bisa kita pastikan apa tujuan pembuatan film ini karena dibuat oleh kalangan asing, dengan maksud dan tujuan apa, dialah yang pasti tahu. Tetapi dari keterangan sutradaranya sendiri mengatakan bahwa dia bermaksud semata-mata untuk pencerahan kejadian masa lalu yang sangat tragis itu, tak bermaksud untuk mengadu-domba rakyat Indonesia.

    Karena itu pastilah juga tak salah kalau kita mengatakan bahwa kedua film ini ada positif dan negatifnya bagi rakyat Indonesia. Paling bagus bagi kita semua ialah kalau kita ambil dan kembangkan yang positifnya, terutama dari segi informasi dan PENCERAHAN tadi.

    ”Pencerahan dan Harapan” kata-kata abadi Sutradara Ginting. Dengan pencerahan kita saling memberi harapan, dan dengan harapan yang optimis, kita akan maju bersama lebih cepat dalam segala hal, terutama dalam kesedaran politk abad 21 yang sudah jauh berbeda dengan abad lalu (abad 20).

    Lebih menggembirakan lagi ialah bahwa belakangan ini lebih banyak lagi disiarkan di media Indonesia, online atau offline soal peristiwa 30 sept lalu. Disitu selalu ada bahasan pro-contra politik lama itu. Itulah bagusnya, kalau dibandingkan dengan era Orba, hanya boleh keluar pendapat yang pro penguasa. Sekarang yang pro dan yang kontra bisa maju saling mengkedepankan argumentasi, mendalam atau dangkal, luas atau sempit, ilmiah atau gombalan, tak soal. Semua itu adalah gambaran kontradiksi dari satu persoalan. Itulah tenaga penggerak perubahan. Tak ada perubahan kalau hanya satu pendapat saja, kalau hanya pendapat satu pihak yang berdominasi seperti era Orba, tak ada perubahan dan tak ada perkembangan dan dengan sendirinya juga tak ada kemajuan.

    Kalau abad lalu dimana KONTRADIKSI POKOK DUNIA ialah kontradiksi dua blok, antara Barat dan Timur, abad 21 kontrdiksi pokok itu sudah berubah dengan runtuhnya blok timur blok Soviet. Bisa saja sebagian berpendapat kalau blok timur masih ada dibawah Rusia Putin, dan blok barat masih ada dibawah USA Obama. Apa bedanya? Rusia Putin masih ada termasuk senjata canggihnya bisa terus diperbarui, tetapi siapa yang mau dibawahnya seperti masa lalu? USA Obama masih ada dan masih kuat, tetapi China sudah tumbuh sebagai kekuatan raksasa yang secara ekonomipun tak bisa dikalahkan oleh negara manapun. Senjatapun mereka bisa kembangkan sejauh apa saja. Imbangan kekuatan dunia itu sudah berubah, sehingga imbangan dan perubahan kesedaran manusia dengan bantuan era keterbukaan serta informasi luas mengenai apa saja, terutama yang tadinya masih digelapkan dalam abad 21, sekarang malah dibuka, termasuk bagi kita yang penting ialah penilaian kembali peristiwa 30 september 1965. Adakah yang digelapkan dalam sejarah 1965?

    Masih adakah golongan yang berkepentingan untuk menutupi seluk beluk kejadian itu? Jawabnya: masih ada. Adakah golongan yang berkepentingan membuka rahasia kegelapan 30 sept 65? Ada! Kita berterima kasih karena masih ada dua pikiran ini dikalangan kita. Dan karena itu jugalah ada KONTRADIKSI sebagai tenaga penggerak perubahan dan perkembangan. Adu argumentasi yang semakin ilmiah akan menguntungkan semua, artinya NATION INDONESIA yang kita cintai bersama. Kita bukan mencari siapa yang salah tetapi mencari kebenaran yang ilmiah yang memihak rakyat negeri kita. Kebenaran yang memihak kemajuan, tidak membikin mundur siapa saja. Karena itu bisa disimpulkan bahwa KONTRADIKSI POKOK DUNIA sekarang ialah PERJUANGAN UNTUK KEADILAN, bagi seluruh nation Indonesia dan semua nation-nation dunia.

    MUG

Leave a Reply