Gestok

2
364

Edi Sembiring (Jakarta)

 

edi sembiringgestokYang terjadi adalah Gerakan Kudeta 1 Oktober yang dilakukan Suharto terhadap Soekarno. Di tanggal 1 Oktober 1965, secara sepihak Suharto menunjuk dirinya sendiri sebagai Menpangad. Padahal di Halim Perdanakusumah, Presiden Sukarno sempat menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamudro sebagai pengganti sementara Menpangad Yani.

Itu sebab kaum Sukarnois lebih menerima menyebutnya Gestok atau Gerakan 1 Oktober dari pada Gestapu atau G30S/PKI.

Kelompok Pro Suharto lebih mempropagandakan G30S/ PKI ketimbang ucapan Bung Karno Gestok 1965. Tanggal 1 Oktober 1965 mulai dilakukan pembantaian terhadap kaum Sukarnois. Jutaan kaum Sukarnois hidup sengsara, yang mengaku Sukarnois dipersulit dan dipenjara bahkan tak bisa pulang ke negeri ini.

Tanggal 1 Oktober 1965 adalah awal penghancuran yang diarahkan kepada kaum Sukarnois. Suharto tahu, lawan terberatnya bukan PKI tapi Sukarno dan pengikutnya.

Selanjutnya, kaum-kaum muda Sukarnois terus bermunculan. Dari merekalah lahir perlawanan-perlawanan terhadap Orba. Dan, hingga kini, semangat militansi kaum Sukarnois yang lebih teruji. Semangat membela negeri ini.

Mengenang 1 Oktober adalah mengenang Kudeta Suharto terhadap Sukarno.

2 COMMENTS

  1. “Mengenang 1 Oktober adalah mengenang Kudeta Suharto terhadap Sukarno.” (ES). Sangat betul perumusan ini, dilihat dari kejadian nyata ketika itu.
    Kudeta 30 september adalah “kudeta” let-kol Untung. Saya bikin ‘kudeta’ dalam tanda kutip karena Untung tak pernah mau merebut kekuasaan, apalagi bermaksud jadi presiden, tak ada itu debenak Untung. Setelah gerakan Untung 30 Sept besoknya ada kudeta sebenarnya yaitu kudeta Soeharto. Soekarno pada pokoknya sudah tak punya kekuasaan dan wibawa apa-apa setelah 1 Okt 1965.
    Pertanyaan yang sangat hakiki dan perlu diperhatikan ialah apakah Soeharto bisa ambil alih kekuasaan apalagi jadi presiden sekiranya Ahmad Yani masih ada disamping Soekarno?

    Yani sudah diangkat oleh Soekarno sebagai menpangad (menteri panglima Angkatan Darat) sejak 1962, sedangkan Soeharto hanya panglima Kostrad. Dia berada dibawah komando Yani, dan sudah didesas desuskan akan menggantikan Soekarno jika proklamator itu sakit atau berhalangan. Dan Yani adalah seorang nasionlis pro Soekarno, karena itu juga imperialis LN tak akan menerima Yani sebagai pengganti Soekarno. Bagi kekuasaan LN ini menyingkirkan Soekarno tak ada gunanya kalau Yani masih ada disampingnya, karena Yani pasti akan menggantikannya. Ketika Soeharto korupsi pentil dan ban mobil, Yani juga yang menangkap Soeharto. Kekuasaan Yani dan bayangan kekuasaan Soekarno akan pindah ke Yani tak disukai oleh kekuatan imperialis yang selalu mengincer SDA yang masih kaya itu. Orang-orang nasionalis dimana saja tak disukai oleh imperialis barat yang mata duitan itu.

    Situasi Indonesia sekitar tahun-tahun itu memang sangat rumit dilihat dari segi kontradiksi yang berlaku ketika itu. Di Indonesia sendiri ada 3 kekuatan besar yang sedang mencari moment masing-masing. Sudah tentu adanya kekuatan-kekuatan ini adalah sebagai akibat langsung atau pengaruh langsung dari kontradiksi pokok dunia dalam perang dingin, antara blok barat dan blok timur. Blok barat atau yang biasa disebut blok neokolin atau imperialis sudah sejak kemerdekaan berusaha menanamkan cakarnya di Indonesia yang kaya SDA itu.
    Begitu juga blok timur bikin usaha yang sama gesitnya.

    Tiga kekuatan besar di Indonesia ketika itu ialah
    1. kekuatan kiri yang mewakili blok timur dipimpin oleh PKI.
    2. Kekuatan nasionalis dibawah Soekarno sebagai presiden seumur hidup.
    3. Kekuatan kanan diwakili kaum agama serta partai-partai kanan ketika itu seperti Masjumi dan juga kaum intelektualnya yang fanatik barat atau demokrasi barat.

    Dan soal ini bukan hanya di Indonesia tetapi disemua negeri berkembang AAA. Kekuatan 1 dimanfaatkan oleh blok timur (Soviet dan juga China sudah mulai ketika itu, pengaruh Soviet bekurang karena politik revisionisnya). Dan kekuatan ke 3 ini dimanfaatkan oleh imperialis barat Amerika, Inggris dsb. Kekuatan kedua, kekuatan nasionalis tetap anti imperilais-neokolin, karena tetap menjaga kepentingan nasional dan SDA. Karena itu juga ada persaman dengan kekuatan kiri dan PKI dan bahkan sering juga sebagian dari orang-orang nasionlis ini dikatakan ’kiri’ seperti Soekarno sendiri.

    Dari semua partai-partai ’kiri’ dan ’kanan’ partai nasionalis (PNI) inilah yang terbesar dan terbanyak pengikutnya. Partai-partai ’kanan’ terus terang saja melawan PNI dan Soekarno, tetapi partai kiri PKI ingin memanfaatkan kekuatan ini atau terutama Soekarno sebagai presiden seumur hidup, untuk mencapai tujuannya sebagai partai komunis. Secara teori dan praktek disebut bahwa ’kaum nasionlis bisa diajak untuk memihak revolusi’. Kesimpulan ini diambil dari sikap kaum nasionalsi Sun Yat Sen di China yang selalu kerja sama dengan Mao Tse Tung dalam melaksanakan revolusi Tiongkok.

    Desas desus akan adanya kudeta ’dewan jenderal’ (Yani termasuk) yang akan menggulingkan Soekarno, menimbulkan pemikiran tertentu bagi pimpinan PKI walaupun desas-desus ini tak dimengerti asal-usulnya dan kebenarannya. Diduga bahwa PKI mengetahui ini dari agen spesial yang dekat dengan Aidit namanya Sjam Kamaruzzaman yang kemudian dikatakan juga sebagai orang misterius karena tak ada yang mengetahui kemana akhirnya dia setelah 30 Sept itu. Diduga bahwa desas-desus itu berasal dari Sjam dan dengan langkah Untung yang menangkap dan membunuh semua dari ’dewan jenderal’ yang didesuskan itu maka kudeta terhadap Soekarno oleh dewan jenderal dapat dicegah. Kudeta 1 Oktober pimpinan Soeharto berjalan mulus atas bantuan Untung, terutama karena Yani yang akan menggantikan Soekarno sudah tak ada. Imperialis barat yang tadinya ragu karena adanya Yani yang masih bisa menghalangi cita-cita mereka, jadi sangat senang karena Soeharto berhasil melaksanakan semua cita-cita imperialis itu, kebebasan mengeruk SDA Indonesia. Dan itu dia buktikan juga selama 30 tahun lebih menguasai Indonesia. SDA Indonesia, tambang, hutan dan lingkungan jadinya seperti sekarang ini. Pembakaran hutan juga masih terus, meneruskan tradisi dan budaya rakus imperialis menghabiskan apa saja untuk keuntungan dan kepentingan sementara tanpa menghiraukan generasi mendatang.

    MUG

  2. Dari informasi yang semakin meriah di media, semakin terlihat sasaran Soeharto mengarah ke pengikut Soekarno dari golongan nasionalis Bung Karno.

    Terlihat juga di media, misteri penculikan gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja terkeenal sebagai seorang soekarnois dan dikenal juga sebagai seorang yang mau dipindahkan ke Jakarta oleh Soekarno supaya lebih aman dari militer, tetapi belum sempat pindah sudah diculik.

    Bagaimana kisah hilangnya Sutedja? Simak videonya:

    http://www.merdeka.com/peristiwa/misteri-penculikan-gubernur-bali-sutedja-saat-geger-g30s.html

    MUG

Leave a Reply