Kisber: TUK (Bagian 2)

1
115

Oleh: Bastanta P. Sembiring

 

Hidup Adalah Eksperimen

kisber 27Sebelumnya, Tuah adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Kota Medan. Hingga karena sesuatu hal dia harus angkat kaki dari kampus.  Kepada kedua orangtuanya, dia selalu beralasan kalau otaknya yang  tidak sanggup mengikuti setiap mata kuliah di kampus. Itulah alasan yang selalu dilontarkan jika mereka bertanya mengapa sampai pemuda berperawakan santai ini harus mengakhiri kuliahnya. 

 

Pada dasarnya, ibu Tuah tidak pernah percaya dengan alasan itu, akan tetapi, sebagai orangtua yang baik, dia menyarankan untuk mengambil kuliah di lain tempat, atau setidaknya mengikuti pelatihan-pelatihan keterampilan.

Tuah selalu mengelak, namun dengan sabar sang ibu terus memberikan dorongan. Ya, itu wajar pikirku. Sebagai orangtua tentunya mereka tidak ingin anaknya nantinya susah dalam menjalani hidup. Hingga akhirnya Tuah pun bersedia mengikuti nasehat sang ibu dan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang masih berada di sekitar Kota Medan dan mengikuti beberapa kursus keterampilan.

Tiga tahun setelah itu. Akhirnya selesai juga studi Strata Satu (S-1) Tuah, dan pada November 2009 dia diwisuda dan berhak menggunakan gelar Sarjana Teknik (ST) di belakang namanya.

Lega rasanya, satu keinginan orangtua sudah Tuah penuhi. Sekarang babak baru dalam kisah hidupnya pun akan segera dimulai.

 

* * * *

Dengan bantuan kerabat, Tuah dapat bekerja di salah satu perusahaan pertambangan di Kalimantan. Namun tidak lama dia keluar, karena merasa tidak nyaman dengan pekerjaan itu. Dari perusahaan yang satu ke perusahaan lainnya. Belum ada yang benar-benar dirasa nyaman.

Dua tahun kemudian, berkat bujuk rayu dari seorang kolega sang ibu, walau jujur berat rasanya, Tuah memutuskan mencobanya. Hitung-hitung tambah daftar pengalaman kerja di riwayat hidup.

Menjadi tenaga honorer atau tepatnya Guru Tak Tetap (GTT) dengan gaji yang kecil (bahkan sering molor hingga berbulan-bulan), fasilitas minim dan di daerah pelosok di Provinsi Jambi yang terpencil dengan peradaban dan budaya yang jauh berbeda dengan daerah asalnya, sesungguhnya bukanlah harapan Tuah.

Orang-orang bilang, ini daerah Indonesia yang belum merdeka. PLN, Telepon, signal seluler dan saluran PAM belum ada. Namun, daripada menjadi pengangguran dan beban orangtua. Itu jauh lebih baik.

Makanan adalah salah satu penderitaan yang paling menyiksa baginya. Susah mencari makanan enak yang sesuai dengan lidah orang Karo. Bahasa, bahkan udara dan airnya membuatnya tidak nyaman dan bakalan berat rasanya untuk bisa bertahan lama di tempat barunya itu.

Akan tetapi, seperti kata pepatah ‘alla bisa, karena biasa’. Semoga itulah yang terjadi. Ya! Yang benar saja! Tuah si anak mami yang manja dan peraté-até bertahan juga. Setahun lebih sudah dijalaninya dan semakin lama  semakin terbisa dan merasa nyaman.

Orangtuanya  selalu berpesan sebelum Tuah pergi meninggalkan rumah: ‘Jikalau kita pergi ke daerah rantau/ asing, harus selalu bijak dan bersahaja dalam bertindak, dan jangan lupa mencari sangkep geluh (sanak saudara), sebab merekalah nantinya orangtua dan sanak saudaramu di perantauaan  yang menjagamu dan menemanimu dalam suka maupun duka. Kata-kata itu tidak pernah dilupakannya dan selalu tertanam dalam hati dan pikiranya.

Ternyata memang benar. Pengalaman dan lingkungan mengajari dan mendewasakan kita. Itulah yang terjadi terhadap Tuahta Sembiring.

Kehidupan di tempat baru tampaknya berjalan normal. Dia senang dapat bertemu teman-teman baru yang beraneka ragam dari berbagai suku yang saat di Medan tidak dia temui.  Maklumlah, Tuah tipe anak rumahan.

Dia mulai belajar menempa diri menjadi sosok humanis yang kritis, peduli, lembut, dan mulai mencintai alam, seperti sosok Sir Thomas Stamford Raffles yang tiga tahun sebelum kepindahanya, sempat membaca sebagian dari kisah hidupnya dalam buku “Raffles Sang Pejuang” karya: Thomas Janferson.

Sosok pria yang lembut dan berwibawa, orientalis, pecinta ilmu pengetahuan, anti perdagangan manusia, anti monopoli ekonomi (liberal), dan juga pengarang dari buku: “History Of Java” serta bekas administrator Inggris di Bengkulu yang juga kita kenal sebagai penemu bunga raksasa (bunga bangkai) yang akhirnya dinamai dengan namanya dan sahabatnya (Dr. Arnold): “Rafflesia Arnoldi.”

Pendiri Singapura ini bagi seorang Tuahta Sembiring Meliala, adalah sebagai teladan dalam hal humanisme dan etos kerja. Seorang administrator sejati yang menginspirasi hidupnya, walau Tuah sadar benar kalau sesungguhnya tidak sanggup seperti dia. Namun, inilah hidup. Harus terus berjuang, berusaha menjadi yang terbaik. “Hidup adalah eksperimen,” kata seorang tokoh pemuda yang kemudian hari dikenal sebagai penjahat legendaris, Jhony Farrel Sembiring (alm).

* * * *

Pagi itu, tepat Pukul 07.00 wib, seperti biasanya Tuah sudah keluar dari rumah. Dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra X yang sudah lebih 5 tahun menemaninya semenjak kuliah di Medan, dengan santai, dia melaju kendaraannya yang ber-plat BK itu.

Menyusuri perbukitan di sepanjang Jalan Lintas Timur Sumatera, Jambi.

“Wah! Inilah sisi lain dari daerah ini yang membantuku untuk terus bertahan,” katanya dalam hati. Mengingatkanya dengan tanah asal nenek moyangnya di Dataran Tinggi Karo yang sering dielu-elukan dengan sebutan Taneh Karo Simalem (simalem = sejuk).

Pemandangan perkebunan kelapa sawit milik warga yang indah dengan latar belakang hutan dan bukit-bukit  tampak di sepanjang jalan. Di puncak tanjakan kita dapat melihat gumpalan awan pagi yang mengepul seperti salju yang melayang-layang seakan kita diselimutinya; ditambah udara pagi yang dingin menusuk hingga ke sum-sum tulang. Tuah teringat akan kata seorang pria tua yang mengatakan: “Inilah Kanaan” : tanah yang dipenuhi madu dan gandum (kiasan), yang dilingkupi dengan keindahan dan kedamaian abadi, seperti ucapan simalem.

Namun, ada pertanyaan yang selalu mengganjal dalam alam pikirnya: Apakah itu benar (maksudnya abadi)? Dan sampai kapan?

 

kisber 26

 

 

Sebab, industri sudah mulai mendekati daerah tersebut. Tidak bisa dibayangkan awan putih sebersih salju itu suatu saat ternodai oleh kepulan asap industri.

Tebing-tebing yang menambah unik serta indahnya derah ini, dimana dari puncak tertingginya kita dapat menatap perkebunan dan hutan yang terhampar luas nan hijau serta permukiman penduduk, namu akan diratakan karena alasan efisiensi BBM.

Hutan-hutan serta perkebunan kelapa sawit milik warga berubah menjadi kompleks industri dan permukiman padat penduduk yang sumpek dan kumuh. Belum lagi ekspansi korporasi yang bisa-bisa menggeser tradisi budaya, bahkan menyingkirkan masyarakat lokal. Ini mimpi buruk bagi Tuah.

Tidak jarang di tengah malam menjelang pagi Tuah terbangun dari mimpi. Saat yang lainnya tertidur pulas, dia malah dibebani dan dihantui oleh mimpi buruk yang sudah seminggu belakangan ini menjadi bunga-bunga dalam tidurnya.

Ikan-ikan di sungai bermatian terkontaminasi limbah industri. Burung-burung tidak lagi berkicau. Suara simpai (sejenis kera besar berbulu lebat hitam dan putih) yang menangis seperti bayi yang merenget meminta susu tidak lagi terdengar.

Bahkan, mungkin di hari Minggu yang biasa Tuah manfaatkan untuk berburu tidak akan pernah ada lagi, karena hewan-hewan di hutan sudah habis terbakar atau berlarian akibat pembukaan lahan perkebunan besar-besaran. Udara yang segar berganti asap pabrik dan kebakaran hutan. Oh! Ini benar-benar mimpi buruk buat desa barunya Tuah.

Dia membayangkan teriakan mesin-mesin disel akan mengganggu tidur lelapnya. Eksodus besar-besara tak terkendali dan tanpa dibarengi pemahaman pengelolaan lingkungan dan tentunya taraf ekonomi yang sanggup mendukung itu semua, seperti tata ruang kota yang baik dari segi tata letak bangunan, pengelolaan sampah dan limbah cair, taman kota, tempat bermain, ketersediaan air bersih, dan tentunya udaranya.

Oh, dunia! Apakah tidak ada konsep modernisasi dan industrialisasi yang lebih bersahabat dengan alam? Mungkin, tidak! Tuah membayangkan suatu saat nanti hidup di kota yang tak berprikemanusiaan, yang dimana tidak ada ketersediaan oksigen dan air bersih yang cukup menunjang kehidupan yang sehat. Sungguh kita sudah diperlakukan tidak adil.

Terkadang mengutuk kebijakan-kebijakan pemerintah atas ijin-ijin industri yang tidak memperhatikan kehidupan di sekitar, yang hanya mengaung-ngaungkan semangat pembangunan. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana mendongkrak PAD saja. Masih bagus kalau benar PAD, takutnya kantong istri muda.

AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), apa pun itu namanya, menurutku hanya isapan jempol belaka. Yang ada: alam semakin rusak.

Akh! Tidak ada artinya mengeluh, toh dunia ini tidak dapat berbuat apa-apa! Dalam benak selalu berkata “Sedikit perbuatan baik dari kita, semoga yang lain mengikutinya.” Mungkin itu yang benar.

“Pukul 07.20 wib. Oh! Bertambah lima menit,” katanya sambil memandangi jam tangan saat di parkiran sekolah.

“Mungkin karena jalannya lambat,” jawabnya sendiri dalam hati.

“Tidak apa. Toh kita tidak terlambat sampai di sekolah,” lagi katanya.

Di sekolah tempatnya mengajar, bel masuk berbunyi tepat Pukul 07.30 wib. Hal ini karena jarak sekolah dengan permukiman warga cukup jauh dan kebanyakan pelajar di sekolah itu tinggal di kampung-kampung pedalaman sekitar dan dengan jalan melintasi medan yang terjal dan licin. Beruntung Tuahta mendapatkan tempat tinggal di rumah yang letaknya tepat di pinggir jalan negara.

Sahabat Kerinci dan Melayunya kebanyakan adalah keluarga yang sudah tinggal di daerah itu lebih puluhan tahun, jadi banyak juga diantaranya putra kelahiran derah tersebut.

Tuah selalu salut dengan beberapa keluarga, berbeda dengan keluarga Melayu pada umumnya. Walupun hidup susah dengan mata pencarian sebagai penjual ikan dari hasil tangkapan di sungai dengan jala dan bubu (sejenis keramba dari rotan) serta buruh tani; dan kaum ibu kebanyakan bekerja sebagai tukang cuci dari rumah ke rumah, akan tetapi mereka hidup dalam kebahagiaan.

Tinggal di lingkungan keluarga Melayu penganut ajaran Islam Konservatif tidaklah terasa risih baginya yang seorang Nasrani untuk tinggal dan berbagi.

“Mereka berbeda,” pikir Tuah.

Tidak takut sakit hati jika memberi atau meminta sesuatu dari mereka. Tidak ada rasa jijik mereka akan pemberian, begitu juga Tuahta sebaliknya. Ini sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang sering dia temui, yang mereka merasa jijik dan selalu bilang: “Orang Kristen makan babi.”

Itulah makna berbagi yang sesungguhnya: jujur, tulus, tiada rasa curiga dan jijik. Bahkan anehnya, kaum pendatanglah yang demikian prilakuanya.

Saat melintasi setiap ruangan di sekolah, Tuah selalu disibukkan dengan membalas senyum dan sapaan dari siswa dan siswi, rekan sesama guru, serta pegawai lainya. Maklumlah, guru termuda dan terpopuler di sekolah itu. Hehehe…

Kedekatannya dengan siswa/i dan semua penghuni sekolah itu, membuatnya merasa terhibur dan menempa diri menjadi mahluk sosial yang sesungguhnya. Tetapi seperti kata pepatah ‘Andere zeite, anderi zitten’ , dia pun sedikit merasa risih jika seorang warga ataupun siswa/i menjabat tangannya serta menciumnya. Mungkin karena tidak terbiasa.

Bersambung

1 COMMENT

Leave a Reply