Kolom Bastanta P. Sembiring: Desah Nafas di Tepi Jalan

0
148

bastantaSaat ini, hampir di setiap daerah dapat dengan mudah kita temui tempat-tempat hiburan, baik itu cafe-cafe, pantai, kolam pancing, taman, kolam renang, dsb. Jika akhir pekan ataupun hari-hari libur lainnya, tempat-tempat ini ramai dikunjungi, baik oleh warga setempat maupun dari luar daerah. Dalam perkembangannya, sering kali tempat-tempat hiburan ini kemudian mengalami pergeseran fungsi. Tidak jarang mereka menjadi lokasi transaksi prostitusi dan narkoba, sehingga masyarakat umum merasa risih untuk berkunjung ke sana.

Pernah sekali waktu, saya dan adik saya pulang dari Gugung (Dataran Tinggi Karo) dan singgah di salah satu cafe di Kota Medan (sekitaran Jl. Setia Budi). Saat asyik menikmati alunan musik dengan suguhan makanan dan secangkir kopi hangat, tiba-tiba kenyamanan itu harus terganggu dengan sekelompok pria dan wanita (apa yang mereka lakukan tidak saya lanjutkan) yang bergabung di tempat itu yang membuat kami pun harus segera meninggalkan tempat itu.


[one_fourth]dengan narkoba dan prostitusi[/one_fourth]

Dalam sebuah diskusi dengan teman-teman, saya pernah mengutarakan pandangan saya tentang dunia hiburan yang identik dengan narkoba dan prostitusi. Susah untuk memisahkan hal ini dan seakan sudah menjadi dua sejoli yang tak terpisahkan dan tidak mungkin dilenyapkan.

Pada dasarnya, saya tidak begitu ambil pusing dengan hal-hal demikian, hanya saja saya lebih menyoroti tentang regulasinya, misalkan lokasi dan waktu. Artinya, harus ada pemisahan antara permukiman penduduk dan pusat kota dengan tempat-tempat yang demikian. Serta akses ke masyarakat umum.

Misalkan di Sumatera Utara kita kenal kawasan Bandar Baru yang merupakan salah satu lokalisasi prostitusi terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Tentunya, 29 tahun saya melewati daerah ini, sedikitpun tidak merasa risih, karena memang ini tempatnya.

cintaTetapi, kini di pantai-pantai, cafe-cafe, dsb, diramaikan dengan menjamurnya hotel-hotel kelas melati yang berdampingan dengan pemukiman padat penduduk juga bebas praktek-praktek demikian beroperasi. Walau terselubung, namun sesungguhnya sudah menjadi rahasia umum dan dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat umum, bahkan kaum remaja. Membuat kita tergelitik dengan pemberitaan media, bahwa banya kelompok yang katanya menolak sentralisasi dan regulasi prostitusi (khususnya), namun tidak peduli dengan penyebarannya.

Sebuah ironi, bukan? Atau jangan-jangan ketidaksetujuan itu berujung pada ketakutan kalau setelah itu akan kesulitan untuk memperolehnya?

Maka tidaklah heran di media-media sosial, kalangan remaja banyak mengumbar foto-foto mesra, bahkan vulgar yang dilakukan di tempat umum dan terbuka. Karena dengan mudahnya mereka mendapat akses untuk tempat-tempat yang demikian.

cinta 3Pantai di sungai-sungai yang saat awal pembukaannya diperuntukkan sebagai tempat bersantai dan pemandian alam, kini diramaikan dengan gubuk-gubuk yang tertutup yang ramai dikunjungi para pelajar. Dengan diiringi gemuruh angin dan aliran sungai, kita terpesona mendengar tiap desahan yang terdengar dari balik-balik gubuk atau kamar-kamar. Masihkah kita berani katakan: “Inikah prilaku remaja sekarang?”

Bahkan, pernah sekali pagi (sekitar pukul 02.00) saat melewati sebuah jembatan di daerah saya, alangkah terkejutnya saya melihat pemandangan sepasang manusia (perkiraan saya usia antara 35 – 40 tahun) tak berbusana yang terkena sorotan lampu kendaraan.

Dengan setengah bercanda, adik saya katakan: “Kasih uang, biar mereka main di hotel, jangan di jalan!” dan dilanjut dengan tawa terbahak-bahak melihat sepasang kekasih (mungkin pasangan selingkuh) itu lari ketakutan ke semak-semak.

Oh, apakah ini? Saya manusia dan lelaki. Punya cita, punya rasa, juga masih punya hasrat pada wanita. Tetapi haruskah demikian?

Demikianlah potret dunia tempat hiburan di negeri ini. Memang merakyat, sehingga mudah diperoleh dan dikunjungi. Tetapi juga menghanyutkan tak terkendali.

Leave a Reply