Kolom M.U. Ginting: Pencerahan dan Harapan

0
141

M.U. Ginting 2Baguslah  ‘The Look of Silence’ ini diangkat di Sora Sirulo. Pencerahan penting bagi seluruh bangsa karena selama ini masih digelapkan dan lebih jelek lagi dianggap tabu untuk mengkedepankannya.

Ada dua film soal ini, yang satu ‘The Act of Killing’ juga sudah diputar di banyak TV Eropah, tetapi juga di Jakarta dalam acara undangan tersendiri. Kedua film ini menggambarkan keadaan sebenarnya karena dibintangai sendiri oleh pelaku-pelaku yang masih hidup.


[one_fourth]untuk pencerahan[/one_fourth]

Sebagian menganggap bahwa pembuatan film ini adalah dalam rangka kembali menghidupkan sentimen permusuhan masa lalu dan dengan begitu bertujuan mengadudomba dengan menghidupkan kembali permusuhan itu di kalangan rakyat Indonesia. Tidaklah bisa kita pastikan apa tujuan pembuatan film ini karena dibuat oleh kalangan asing, dengan maksud dan tujuan apa, dialah yang pasti tahu. Tetapi dari keterangan sutradaranya sendiri mengatakan bahwa dia bermaksud semata-mata untuk pencerahan kejadian masa lalu yang sangat tragis itu, tak bermaksud untuk mengadu-domba rakyat Indonesia.

Karena itu, pastilah juga tak salah kalau kita mengatakan bahwa kedua film ini ada positif dan negatifnya bagi rakyat Indonesia. Paling bagus bagi kita semua ialah kalau kita ambil dan kembangkan yang positifnya, terutama dari segi informasi dan pencerahan tadi.

”Pencerahan dan Harapan” kata-kata abadi Alm. Sutradara Ginting.

Dengan pencerahan kita saling memberi harapan, dan dengan harapan yang optimis, kita akan maju bersama lebih cepat dalam segala hal, terutama dalam kesedaran politk Abad 21 yang sudah jauh berbeda dengan abad lalu (Abad 20).

pencerahan 2Lebih menggembirakan lagi ialah bahwa belakangan ini lebih banyak lagi disiarkan di media Indonesia, online atau offline soal peristiwa 30 September lalu. Di situ selalu ada bahasan pro-kontra politik lama itu. Itulah bagusnya, kalau dibandingkan dengan era Orba, hanya boleh keluar pendapat yang pro penguasa. Sekarang yang pro dan yang kontra bisa maju saling mengkedepankan argumentasi, mendalam atau dangkal, luas atau sempit, ilmiah atau gombalan, tak soal. Semua itu adalah gambaran kontradiksi dari satu persoalan. Itulah tenaga penggerak perubahan. Tak ada perubahan kalau hanya satu pendapat saja, kalau hanya pendapat satu pihak yang berdominasi seperti era Orba, tak ada perubahan dan tak ada perkembangan dan dengan sendirinya juga tak ada kemajuan.

Kalau abad lalu dimana kontradiksi pokok dunia ialah kontradiksi dua blok, antara Barat dan Timur, abad 21 kontrdiksi pokok itu sudah berubah dengan runtuhnya blok timur blok Soviet. Bisa saja sebagian berpendapat kalau blok timur masih ada di bawah Rusia Putin, dan blok barat masih ada dibawah USA Obama.

Apa bedanya?

Rusia Putin masih ada termasuk senjata canggihnya bisa terus diperbarui, tetapi siapa yang mau di bawahnya seperti masa lalu?

USA Obama masih ada dan masih kuat, tetapi China sudah tumbuh sebagai kekuatan raksasa yang secara ekonomipun tak bisa dikalahkan oleh negara manapun. Senjatapun mereka bisa kembangkan sejauh apa saja.


[one_fourth]penilaian kembali peristiwa 30 September 1965[/one_fourth]

Imbangan kekuatan dunia itu sudah berubah, sehingga imbangan dan perubahan kesedaran manusia dengan bantuan era keterbukaan serta informasi luas mengenai apa saja, terutama yang tadinya masih digelapkan dalam Abad 21, sekarang malah dibuka, termasuk bagi kita yang penting ialah penilaian kembali peristiwa 30 September 1965.

Adakah yang digelapkan dalam sejarah 1965? Masih adakah golongan yang berkepentingan untuk menutupi seluk beluk kejadian itu?

Jawabnya: Masih ada. Adakah golongan yang berkepentingan membuka rahasia kegelapan 30 Sept 65? Ada!

Kita berterimakasih karena masih ada dua pikiran ini di kalangan kita. Karena itu jugalah ada kontradiksi sebagai tenaga penggerak perubahan dan perkembangan. Adu argumentasi yang semakin ilmiah akan menguntungkan semua, artinya nation indonesia yang kita cintai bersama. Kita bukan mencari siapa yang salah tetapi mencari kebenaran yang ilmiah yang memihak rakyat negeri kita. Kebenaran yang memihak kemajuan, tidak membikin mundur siapa saja.

Karena itu bisa disimpulkan bahwa kontradiksi pokok dunia sekarang ialah perjuangan untuk keadilan, bagi seluruh nation Indonesia dan semua nation-nation dunia.

Leave a Reply