Berkebun Menyehatkan dan Mensejahterakan

0
197

bastantaberkebun 1BASTANTA P. SEMBIRING. PATUMBAK. Di beberapa kota kini banyak dikembangkan pertanian di rumah. Bahkan kini sudah menjadi trend di masyarakat. Mungkin tujuan awalnya bukan untuk mencari keuntungan uang, tetapi lebih kepada kegemaran, kesehatan, serta pemenuhan akan kebutuhan sayur di rumah. Namun, jika hasil maksimal melebihi kebutuhan, bisa juga menghasilkan uang.

Seperti yang dilakukan oleh beru Ginting (58) di Kampung Karo (Kecamatan Patumbak, Deliserdang). Di setiap sudut rumah yang kosong, semuanya dimanfaatkan untuk berkebun. Kegiatan ini sudah dilakoninya sejak 30 tahun.

Awalnya, berkebun di rumah ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Kepada Sora Sirulo, pensiunan PNS (Guru) ini bercerita masa sulit saat awal pernikahaNnya hingga kelahiran ketiga anaknya. Saat itu, untuk dapat memiliki rumah sendiri, diapun dan suami berhutang dengan boroh gajinya dan suami yang juga seorang PNS (di Dinas Kesehatan), sebagai jaminan, sebagaimana lazim dilakukan kalangan PNS saat itu.

“PNS dulu tidak seperti sekarang. Kalau tidak punya sampingan, cuma beras catu saja yang kita sanggup dan sulit untuk sekolahkan anak. Gaji saja tidak cukup,” kata beru Ginting INI.

Karena gaji tiap bulannya sudah habis membayar hutang, maka tentu beru Ginting dan suami pun harus putar otak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka berkebun di rumah salah satu alternatif.

Saat Sora Sirulo berkesempatan melihat kebun di sekitar rumahnya, dapat kita temui aneka sayuran seperti ubi, labu, bayam, kangkung, cabai, tomat, bawang, sere, dsb. Ada juga tanaman oba-obatan, hingga buah-buahan seperti rambutan, kelapa, belimbing, jambu biji, duku, kelengkeng, dll.

Dari informasi yang diperoleh Sora Sirulo, dulu pernah juga ada durian, jeruk, jambu air, alpukat, mangga, marquisah, kasemak, dll. Namun, ada yang mati karena pembusukan oleh serangga dan memang ada juga yang sengaja ditebang untuk kemudian diganti dengan tanaman yang baru.

berkebun 3Beru Ginting pernah juga mencoba menanam apel, hanya saja tidak sempat buah matang sudah busuk, sehingga akhirnya diganti dengan tanaman yang baru.

Selain berkebun, beru Ginting juga beternak. “Dulu kita juga pernah ternak kambing dan babi, namun sekarang tinggal ayam dan ikan lele saja.”

Beru Ginting mengaku merasa sangat terbantu dari segi ekonomi dengan berkebun ini. Selain terbantuk untuk konsumsi keluarga, sisanya dijual ke warung-warung di sekitar rumahnya. Jika musim buah, diapun harus menjual ke pedagang di pasar.

“Lumayan untuk jajan anak-anak,” katanya.

Selain itu, kegiatan ini pun dirasakannya menyehatkan, apalagi setelah tidak aktif mengajar, dengan berkebun dia tetap ada aktivitas dan menikmatinya.

Selain berkebun di rumah, selama ini beru Ginting dan keluarga juga mengolah lahan pertanian dan persawahan. Belakangan dia tidak lagi melakukannya karena kesibukan urusan keluarga yang semakin bertambah sejak pensiun 2 tahun lalu. Bahkan tampak kebun di rumahnya juga kini kurang perawatan.

Kegiatan berkebun di rumah ini tentu sangat menyenangkan dan bermanfaat. Selain menyehatkan, karena menghasilkan tanaman yang sesuai keinginan kita (misalkan bebas/ rendah pestisida, dsb), menyuplai oksigen, dsb juga mensejahterakan, karena sangat membantu untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Bahkan, seperti yang sudah disinggung, jika hasil maksimal melebihi kebutuhan, dapat juga menghasilkan uang.

Leave a Reply