Anti Money Politic vs Pepesan Kosong

0
165

Oleh: Edi Sembiring (Jakarta)

 

edi sembiringAndai uang diganti dengan cangkul, bibit, pupuk dst akankah ada kampanye Anti Politik Cangkul, Anti Pemberian Bibit, Anti Sogokan Pupuk, dst? Capek kalilah bila ada.

Itulah kegagalan pendidikan politik kita, baik oleh partai, LSM, dst. Tiap Pilkada, pemilih yang “diajarkan” untuk anti Money Politic. Padahal yang paling gampang justru menekan Paslon dengan jerat hukum.

Di tiap Pilbup, demokrasi jadi berhala. Seakan bupati terpilih adalah pasti si pembawa perubahan. Dan, debat kusir TS dan simpatisannya pun hanya sekedar membenturkan isu-isu saja. Tak ada yang mendebatkan program-program. Lagunya masih lagu lama.

Kalau sudah begini, siapa yang tak “tergiur” uang? Toh semua Paslon tak menjanjikan program-program menggiurkan. Pilihannya : pepesan kosong atau uang? Jelas mereka memilih menerima uang.

Coba kita ingat kampanye PKI. Pilih PKI dan Landreform akan ada. Jadilah organisasi Barisan Tani Indonesia (BTI) menjadi organisasi terbesar di masanya. Dan petani mana yang tak tergiur? Sebelum Landreform hadir, “beri mereka tjangkul.”

Saya ingin katakan “politik itu seni.” Seni merebut kekuasaan.

money politicSejak jaman Yunani dan Romawi Kuno, politik sudah disebut:
1. ’’art politica’’ (seni berpolitik),
2. ‘’politike techne’’ (teknik politik),
3. ’’art possible’’ (seni kemungkinan; artinya sesuatu yang tidak mungkin dapat diubah menjadi mungkin atau sebaliknya).

Seni merebut hati pemilihnya. Seni membuat jalan buntu tak lagi ada. Seni membuat pemilihnya yakin bahwa programnya pasti terealisasi.

Jangan berkoar-koar kampanye Anti Money Politic kalau pilihan lainnya hanya program pepesan kosong.

“Kita tidak bisa mengarahkan angin, tetapi setidaknya kita bisa menyelaraskan layar.”

Kita tak bisa menghempang money politic tapi setidaknya bisa membuat usaha itu sia-sia. Bila Paslon lainnya mampu meyakinkan pemilihnya dengan kontrak politiknya, dengan janji kesejahteraan yang hadir di depan mata.

Leave a Reply