Berita Foto: Bus Jawa Serasa Medan–Kabanjahe

1
329

bus

 

Lawit GintingLAWIT GINTING. BOGOR. Foto ini adalah kiriman seorang teman. Dia kemarin [Minggu 4/10] menompang buss Banyuwangi (Jawa Timur) ke Jakarta. Katanya, naik bus ini serasa naik di perjalan Medan–Kabanjahe.

Sepanjang perjalanan sang pengemudi memutarkan VCD yang berisi lagu-lagu Karo. Lalu, kawan itu penasaran untuk mengetahui apakah pengemudinya seorang Karo. Ternyata dia bukan orang Karo, tapi dia banyak berteman dengan orang-orang Karo di Lampung. Bahkan dia sudah bisa berbicara dalam bahasa Karo sedikit-sedikit.

1 COMMENT

  1. Menarik juga posting LG ini, memperhatikan fenomena kecil tetapi sebenarnya sangat besar. Hanya soal lagu Karo yang dipasang sepanjang rute Banyuwangi-Jakarta. Dari segi sifat manusia sepanjang rute ini memang melalui daerah introversi Jawa. Lagu-lagu introversi Karo tak berlawanan dengan kuping introvert Jawa, juga Sunda. Berlainan halnya kalau rute itu melalui daerah penduduk extrovert, kupingnya lain dalam mendengarkan lagu-lagu Karo. Bahkan ada yang bilang kayak orang bersedih saja (dulu), atau paling banter kayak lagu India katanya. Tetapi sekarang dalam soal ejek-mengejek kedaerahan sudah sangat berkurang, yang ada ialah saling menghargai sesama daerah manapun semakin menonjol. Manusia makin pandai dan makin ingin mengetahui kultur-kultur lain dalam Bhinneka Tunggal Ika, terutama yang senang mempelajari seni, kultur dan budaya bangsa-bangsa dan suku bangsa.

    Ragam dan Perbedaannya yang sangat banyak dalam Bhinneka itu, tak pernah terbayangkan selama ini oleh penduduk Bhinneka itu sendiri. Sekarang berangsur semakin banyak anak-anak muda kita bukan hanya ingin mengetahui tetapi juga sangat menghargai dan menghormati ragam dan perbedaan itu. Ada keoptimisan perkembangan bagus bangsa ini dari segi kultur dan budaya daerah. Dalam tingkat perkembangan berikutnya, dasar inilah yang akan menjadi tulang punggung kekuatan nation negeri ini dan juga dasar memulai kemajuan bersendikan KEARIFAN LOKAl di era Globalisasi artinya pembangunan lokal yang kuat adalah dasar pembangunan nation yang kuat. Mengapa globalisasi memaksakan perubahan ini?

    Seorang sociolog Amerika Daniel Bell pernah bilang dalam era globalisasi telah terjadi suatu perubahan besar dalam tugas dan kemampuan satu negara (nation state). Dia bilang: “The nation-state is becoming too small for the big problems of life and too big for the small problems of life,” . Ada banyak sekali contoh yang bisa dicocokkan dengan pendapat Bell ini, karena makin terlihat bagi kita semua bagaimana susahnya pemerintah negeri ini menyelesaikan soal-soal hidup kita secara praktis. Negara sudah terlalu besar disini. Tetapi menghadapi soal-soal besar yang ditimpakan oleh luar misalnya, negar terlalu kecil, seperti menghalangi turunnya harga rupiah misalnya. Karena itu soal-soal praktis kehidupan di kampung atau di daerah tak bisa lain adalah orang-orng daerahlah yang menyelesaikan dan kita sebut KEARIFAN LOKAL. Ini masuk akal karena di tiap daerah ada kekuatan tersembunyi yang tak pernah digali atau digerakkan menjadi kekuatan hidup membantu pembangunan apa saja dan jadi tenaga pendorong yang kuat.

    Dan dalam menghadapi soal besar seperti harga dollar itu, negara terlalu keci dan dalam menghadapi soal sampah di Jakarta atau di Karo, negara terlalu besar Lantas apa lagi sebenarnya yang bisa dikerjakan oleh negara ini? Soal besar dianya terlalu kecil, soal kecil dianya terlalu besar. . Masih adakah yang bisa dikerjakan oleh negara atau nation state itu?

    Soal-soal lokal sudah menjadi penanganan budaya lokal atau kearifan lokal. Soal sampah dan lingkungan kota harus jadi tugas walikota yang langsung bisa melihat persoalannya. Urusan negara yang paling masuk akal sekarang ialah melihat dan mengawasi sehingga semua kementerian, institusi dan lembaga-lembaga negara stiap saat bisa mengganti/memecat orang-orangnya yang tidak bisa mengikuti perubahan yang sesuai dengan tuntutan bagi instiusinya atau kementeriannya yang sudah harus disesuaikan dengan perubahan jaman.

    Semua kementerian dan institusi punya tugas yang sudah ditetapkan menurut aturan tiap institusi. Tetapi kelemahan selama ini ialah bahwa orang-orangnya masih dalam era mental lama, sehingga tak ada atau belum ada institusi atau kementerian yang pas cocok dengan perkembangan sekarang. Rakyat merasakan semua akibat institusi yang belum menyesuaikan diri ini, seperti kenaikan dollar yang seharusnya jadi penanganan institusi tersendiri (BI) secara terbuka dan berani audit secara transparan sehingga publik mengerti seluk beluknya, jadi pengetahuan bagi semua. Tetapi siapa yang menjelaskan kepada rakyat banyak dimana salahnya semua ini? Ini pun adalah juga tugas negara nasional itu dalam memecat dan mengganti pejabat negara yang tak becus, tak tergantung apakah ini tugas besar atau kecil, problem besar atau peoblem kecila kehidupan.

    Sudah banyak juga anlisa dan pendapat internasional bahwa lingkungan dan penanganannya dimulai dari kota-kota besar sebagai sumber utama gas-gas beracun dengan industri-industri beratnya. Ini tak bisa ditangani oleh negara, tetapi bisa ditangani oleh walikotanya. Ahok sudah bersihkan Ciliwung dan kota Jakarta, satu contoh konkret yang suah ada. Pasar Berastagi atau Kabanjahe harus jadi tanggungjawab bupati atau walikota, dan di Karo dengan memanfaatkan KEARIFAN LOKAL KARO. Nation Indonesia atau Jokowi atau Ahok tak mengetahui kearifan lokal Karo. Tetapi orang Karo mengerti, dan hanya orang Karo yang lebih pandai dalam menyelesaikan soal-soal hidupnya dan daerahnya.

    MUG

Leave a Reply