Manipulasi Rumah Sakit Terhadap BPJS

1
202

Sekedar pencerahan jelang Pilkada

 

Oleh: Aries Sebayang

Aries SebayangBerdasarkan pengamatan saya praktik kecurangan terhadap BPJS, Jankesmas, dll. dilakukan rumah sakit dengan beragam modus. Modus yang dilakukan bertujuan agar klaim tagihan rumah sakit ke BPJS Kesehatan membengkak.

Praktik curang ini dilakukan secara sengaja. Misalnya, ada pasien daftar peserta kelas II, tetapi ditempatkan di kamar perawatan kelas III. Tindakan ini tentu akan membuat rumah sakit tsb sangat diuntungkan walaupun negara dirugikan.

bpjsModus lain adalah memberikan obat ke pasien 5 jenis tetapi menagihkan ke BPJS sampai 10 jenis mirip makan 5 porsi bayar 10 porsi. Paling parah lagi adalah menciptakan pasien fiktif dengan memakai kartu BPJS pasien sehat lalu memasukkan nama tersebut sebagai pasien terdaftar sehingga seolah-olah banyak pasien yang dirawat tetapi faktanya tidak ada.

Untuk mengelabui petugas BPJS maka diambillah pasien lain lalu dilakukan pengobatan yang seolah-olah gratis dan pasien tsb disuruh menandatangani atas nama pasien lain.

Praktik-praktik kecurangan ini memang asik karena uang seger terus saja masuk dan sulit dibuktikan karena mata LSM tidak mengarah ke sana.

Saya teringat waktu di sebuah rumah sakit yang menangani kanker di Medan. Ada calo kartu Askes dsb. yang berani membayar sebuah kartu dengan harga jutaan asal mau digunakan sebagai pasien fiktif. Alamak …

Sekedar pencerahan.

1 COMMENT

  1. Bagus sekali ini ada yang memulai soal BPJS ini, banyak yang tak terpikir kesana, dan yang terpikir kesana diam saja maka akan begitu terus selama-lamanya.

    Ayo orang Karo proaktif dalam soal memerangi kegelapan. Hanya itulah penyelamatan bagi Karo dan juga bagi Indonesia dan dunia. Kegelapan adalah penghalang perubahan dan kemajuan. Meniadakan KEGELALPAN berarti melapangkan jalan bagi kemajuan Karo.
    Meniadakan KEGELAPAN harus dilaksanakan oleh semua orang Karo karena mencapai kemajuan juga harus dilaksanakan oleh semua orang Karo tanpa kecuali.

    “Jika hanya diam tak akan ada perubahan”, termasuk di soal BPJS ini.

    Kalau bisa didapatkan fakta/data yang lebih lengkap tentu lebih menjamin bisa diteruskan dengan cara hukum. Tetapi untuk ini dibutuhkan supaya publik ikut aktif memulai mengumpulkan fakta apa saja yang mencurigakan dalam penggunaan BPJS itu. Kalau publik tak ikut aktif, tak ada keterbukaan dan kalau tak ada keterbukaan, tak akan ada kemajuan dalam menerangi soal gelap ini.

    Di ERopah banyak juga diantara reporter pakai kamera tersembunyi membuktikan banyak transaksi gelap, dan cara ini sangat efektif. Tetapi saya pikir kalau dibandingkan dengan partisipasi publik dalam soal kegelapan ini tak akan ada bandingannya, karena akan sangat efektif, perluasan dan pendalamannya tak terbatas sampai tiap soal tuntas mendeteil.

    Kegelapan semacam BPJS ini tak sesuai dengan way of thinking Karo, sifat kejujuran dan keadilan yang sangat dipuja oleh orang Karo sejak jaman kuno, sejak ribuan tahun lalu. Adanya penyimpangan yang sudah sangat jauh dari cara pikir Karo ini tak lepas dari pengaruh pikiran luar yang masuk ke Karo. Juga sangat ketat pengaruh negatif pendatang yang filsafat hidupnya lain dari Karo dan juga sangat efektif lewat pejabat-pejabat mumpung di Karo yang punya pengaruh dalam kekuasaan tetapi mereka bukan berasal dari Karo. Walaupun pejabat mumpung ini hanya tinggal sementra di Karo tetapi imbasnya sangat terasa karena punya pengaruh tertentu di kekuasan Karo.

    Disamping itu pengaruh besar sifat negatif orang Karo yang lebih suka mendiamkan daripada mengatakan. Orang Karo lebih suka menganggap semua orang lain jujur dan mengharapkan jujur. Sering yang sudah jelas salah juga masih dibela jujur..

    Di jaman kuno Karo, ini bisa bejalan, tetapi di era sekarang harus mengatakan apa yang harus dikatakan. Kalau tidak bakal punah. Suku-suku bangsa dunia yang sudah punah berkelakuan begitu pada umumnya, mereka jujur dan diam saja dan mengharapkan semua jujur terhadap mereka. Yang sudah bangkit melawan pikiran ’jujur diam’ ini akan selamat dari kepunahan. ”Talu si bujur” kata orang Karo, artinya sudah sedar.

    MUG

Leave a Reply