Simposium Nasional Akuntasi ke 18 di USU Medan Dihadiri Menristek Dikti

2
240

Minta Sebayang 2MINDA SEBAYANG. MEDAN. Simposium Nasional Akuntasi yang ke 18 (SNA-XVIII) telah berlangsung baru-baru ini [16-19 September 2015]  di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU), Medan dengan tema ‘Peluang dan Tantangan ASEAN Economic Community (AEC) Terhadap Profesi Akuntan’. Bertindak sebagai ketua panitia adalah Dr. Syafruddin Ginting Sugihen SE MAFIS Ak CPA CA.

Acara pembukaan dihadiri oleh  Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (MENRISTEK DIKTI) Prof. Dr. Mohamad Nasir CA yang sekaligus menjadi keynote speaker dengan judul ‘Strategi Pemerintah Menghadapi AEC bagi Profesi Akuntan di Indonesia’.

Beberapa hadirin penting lainnya adalah Plt. Gubernur Sumatera Utara Ir. H. Tengku Erry Nuradi MSi, Plt. Rektor USU Prof. Dr. Subhilhar MA PhD, Ketua Dewan Pengurus IAI, Prof. Mardiasmo, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Prof. Ilya Avianti, dan Ketua IAI-KAPd Dr. Hj. Nunuy Nur Afiah SE MSi Ak CA.

sna 1
Saat pembukaan Simposium Nasional Akuntansi XVIII

Selama 4 hari, secara paralel para pemakalah memaparkan hasil penelitian mereka. Pada SNA kali ini, ada 200 hasil penelitian yang lolos seleksi dan pada acara penutupan diumumkan juga 3 orang yang menjadi excellent paper.

Workshop yang dilaksanakan antara lain adalah mengenai Metodologi Penelitian tentang strategi menembus jurnal internasional terindeks scopus, research experiment, penelitian mixed method dengan menggunakan NVIVO dan Research Study Literature dengan metode meta analisis.

Selain itu, juga diadakan forum diskusi untuk program studi S1, Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk), vokasi, S2 dan S3 yang membahas tentang issue terkini di bidang akuntansi, kurikulum berbasis KKNI dan outcome yang diharapkan lulusan masing-masing strata pendidikan.


[one_fourth]peluncuran 2 buku[/one_fourth]

Hasil diskusi ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk pengembangan kurikulum dan bahan ajar dalam proses pendidikan dan praktik akuntansi. Kegiatan lain yang dilakukan di SNA-XVII ini adalah peluncuran  dua buah buku yang ditulis oleh dosen senior akuntansi yaitu buku  ‘Pelangi di Cakrawala Profesi Akuntan’ karangan Drs. Hans Kartikahadi Ak CA dan buku ‘Peranan Akuntansi Dalam Korupsi’ yang ditulis oleh Prof. Moenaf Regar MASc

sna 3
Para peserta tertarik untuk berfoto bersama dengan para penari dari Suku Karo.

Selama kegiatan para peserta juga dijamu dengan beraneka makanan khas Sumatera Utara dan panitia mengadakan pesta durian yang mendapat antusisme tinggi dari para peserta. Panitia juga memperkenalkan aneka budaya seperti aneka pakaian adat suku-suku yang ada di SUMUT dan tarian-tarian khasnya seperti tarian Karo, Melayu dan Simalungun. Dibuka juga sebuah pameran yang memamerkan aneka produk UMKM khas SUMUT seperti bika Ambon, songket Melayu Deli, batik gorga, dan lain sebagainya.

Pada hari terakhir, panitia sudah menyiapkan paket-paket wisata kepada seluruh peserta, yang dimulai dengan city tour ke Istana Maimun dan diikuti dengan wisata ke tempat-tempat menarik di SUMUT seperti Danau Toba, Pulau Samosir, Taman Simalem Resort dan tentu saja Berastagi.

Semoga SNA-XVIII ini tidak hanya meningkatkan kompetensi semua peserta yang mengikuti kegiatannya namun juga dapat menjadi ajang untuk mempromosikan destinasi wisata yang ada di SUMUT khususnya Taneh Karo.

Foto head cover: Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

2 COMMENTS

  1. Dalam laporannya soal SNA di Medan, MS tulis di SS:

    ”Panitia juga memperkenalkan aneka budaya seperti aneka pakaian adat suku-suku yang ada di SUMUT dan tarian-tarian khasnya seperti tarian Karo, Melayu dan Simalungun.”

    Bagus sekali inisiatif ini, menghubungkan kegiatan akademisi ini dengan kultur dan budaya. Saya kira memang begitulah seharusnya dalam abad sekarang ini, apapun atau kegiatan apapun tak akan terpisah dari kultur dan budaya rakyat itu. Disini berbagai budaya daerah dalam Bhineka Tunggal Ika. Terlihat Karo, Melayu dan Simalungun.

    Mengaitkan budaya/kultur dengan perkembangan akademisi, maka keduanya akan saling mendorong bagi tiap kultur/budaya, saling mendorong keyakinan bahwa perkembangan seorang akademisi tak bisa dipisahkan dari basis kultur dan budaya yang dimilikinya, sebagai basis jati diri atau identitasnya.

    Dalam penyelidikan ahli-ahli yang sudah sering disebarkan ialah bahwa identitas etnis sangat mempengaruhi self-esteem, dan pada gilirannya self-esteem mempengaruh pencapaian dibidang akdemik. Dengan adanya acara-acara memperkenalkan budaya dan kultur etnis-etnis ini sangat berarti juga dalam menambah memperkuat identitas etnis-etnis bersangkutan.

    Dalam hal memperkuat identitas etnis ini, orang Karo atau etnis Karo sudah sangat jauh meningkatkan self-esteem/identitas kekaroannya dengan berbagai cara seperti mempelajari dan mendalami sejarah Karo dan way of thinking Karo serta filsafat hidupnya yang kompatibel dengan perubahan jaman, terutama juga dalam soal demokrasi. Demokrasi etnis Karo adalah sangat kompatibel dengan perkembangan demokrasi abad sekarang, dari segi egaliternya dan sifat horizontalnya.

    Segi pemikiran Karo lainnya yang juga kompatibel dengan perubahan modern ialah win win solution Karo dalam ’sikuningen radu megersing siagengen radu mbiring’. Inilah solusi dengan menunjukkan kontradiksi atau pertentangan, disini dengan istilah ’sikuningen’ kontra ’siagengen’. Pemikiiran dialektis lainnya ialah thesis-antitesis-syntesis Karo ’seh sura-sura tangkel sinanggel’ yang sudah berumur sangat tua di Karo (penemuan arkeolog terakhir 2011 dimana Karo adalah sivilisasi tertua di Sumatra, sudah berumur 7400 th).

    Bisalah diyakini bahwa pendapat selama ini yang mengatakan bahwa Yunani atau Heraklitos adalah penemu pertama dialektika, tak bisa lagi jadi patokan dengan penemuan sivilisasi dan dialektika Karo yang sudah lebih tua itu. Dielektika Heraklitos dan Tao baru 500 BC, sedangkan dialektika Karo sudah lebih dari 5000 tahun atau sudah exis 5000 BC. .

    Sekarang akademisi modern semakin sering menguji kebenaran ilmiah suatu soal dari segi dialektis ini, artinya dari segi-segi hal-hal bertentangan atau kontradiksi yang ada dalam persoalan itu. Abad lalu pengertian dialektika atau kontradiksi hanya dianggap milik orang komunis atau partai-partai kiri marxis. Sekarang banyak akademisi yang menilai soal-soal dari segi kontradiksi atau thesis-antitesis-syntesis Hegel. Banyak yang merasakan bahwa penjelasan soal-soal tak akan bisa cerah dan ilmiah kalau tidak disertakan pengetahuan dialektis kontradiksi. Atau dengan perkataan lain yang lebih sederhana, penelitian satu soal harus dilihat dari segi-segi atau unsur-unsur yang bertentangan didalamnya.

    Karo sangat beruntung lahir sebagai suku berbudaya tinggi dalam soal kontradiksi dan dialektika, dengan dialektikanya yang sudah tinggi seperti tesis-antitesis-syntesis Karo ’seh sura-sura tangkel sinanggel’ (dialektika pikiran) dan dialektika alam Panta Rei Karo ’aras jadi namo, namo jadi aras’. Ini semua lahir dan muncul dalam proses panjang ribuan tahun pengalaman kehidupan manusia.

    MUG

  2. ”Sekarang kita semakin dapat membedakan antara mana yang
    demi rakyat dan mana yang demi kekuasaan serta mana yang demi lainnya. . . ” kata ahli akutansi SGS ini dalam FB.
    Betul memang manusia jadi lebih pintar menilai mana yang memihak rakyat dan yang tidak dalam era infromasi dan era keterbukaan sekarang ini. Kalau hanya demi kekuasaan saja tentu diragukan omongannya yang demi rakyat.
    Akutansi dan Korupsi bisa bertalian erat, sehingga perlu pengetahuan profesional meneliti kaitan ini, jadi bisa sangat membantu dalam mencerahkan dan menghindari korupsi dibidang ini juga atau seperti SGS bilang bisa ’membedakan mana yang demi rakyat’.

    MUG

Leave a Reply