Kolom M.U. Ginting: Mundur Dikit, dan Rupiahpun Menguat

0
136

M.U. Ginting 2Bagus sekali ini JHT (Joni H. Tarigan) mengambil tema ekonomi jadi informasi penting dan bahan diskusi serta penambah inspirasi. JHT sering mengapresiasi B.J. Habibie, terutama dalam industri penerbangan. Banyak inisiatif dan kegigihannya yang patut dipuji dalam mengangkat industri pesawat terbang negeri ini. Tetapi, perhatian dan dukugan sangat tak memadai dari negara selama ini sehingga jalan lambat bahkan ada tendensi mau dihilangkan. Persaingan dengan luar negeri pasti banyak juga mempengaruhi sikap pemerintah terhadap industri Habibie.

Rakyat banyak sangat suka dan mendukung jerih payah dan keberhasilan Habibie, tetapi rakyat banyak bukanlah pembeli utama dari industri ini.

Pemikiran JHT mengurangi atau menghilangkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk industri ini pastilah sangat memperingan dan melancarkan usaha ini, apalagi kalau dapat dukungan 100% dari negara.

rupiah 2Pengalaman mengurus ekonomi nasional seluruh dunia ialah bahwa negaranya selalu mendukung usaha nasional itu seperti negara-negara EU. Walaupun dalam kata-kata sering disangkal, tetapi sebaliknya menginginkan dan bahkan sering ’menasihati’ supaya negeri berkembang menghapuskan dukungan negaranya, supaya mereka bebas masuk. Rencana pemerintah menghapuskan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPPnBM) sesuai dengan tuntutan negara lain untuk melancarkan export mereka ke Indonesia. Artinya, menggerakkan pertambahan import barang-barang ‘mewah’ itu dan sebaliknya menghambat pertumbuhan industri barang-barang itu di Indonesia. Kita juga bisa labih waspada terhadap lobbi luar negeri dalam soal penghapusan PPnBM ini, karena betul-betul meningkatkan export mereka.

Dalam rencana penghapusan PPN dari pihak galangan kapal sudah menyatakan apresiasi tinggi, karena dengan begitu perusahaan galangan dalam negeri ini akan bisa bersaing dengan negeri-negeri ‘murah’ tetangga seperti China, Vietnam, Korea, dll. yang selama ini jadi saingan dan penghalang bagi perkembangan perusahaan galangan kapal dalam negeri.

Usaha luar negeri menjatuhkan mata duit negeri berkembang seperti Indonesia, Malaysia, Thailand adalah juga usaha strategi besar menguasai negeri-negeri ini dari segi ekonomi. Bagi bankir rentenir internasional, ini sangat gampang melakuannya dengan senjata dolarnya.

“Bank Dunia juga sudah mengeluarkan peringatan kepada negara-negara berkembang agar mewaspadai efek dari kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Kebijakan tersebut dikhawatirkan memicu keluarnya arus modal dari negara-negara berkembang.” (CNN Indonesia). Fed (Bank Negara Amerika) menaikkan suku bunga untuk tujuan ini sudah sering, bukan sekali ini saja. Tiap kali ada krisis ekonomi negeri berkembang Fed bikin itu. Ingat juga bahwa Fed adalah perusahaan swasta bukan milik negara Amerika Serikat. Fed dimiliki oleh perusahaan besar bank-bank USA bankir-bankir rentenir internaional.

“Negara-negara berkembang harus mewaspadai karena bisa memicu keluarnya arus modal,” kata Bank Dunia.

rupiah 3Dia hanya menyebutkan kenaikan suku bunga Amerika Serikat sebagai penyebabnya, tapi tidak menyebutkan kalau dalam era elektronik ini yang paling gampang dilakukan dalam pemindahan modal ke sana kemari cukup dengan menekan satu-dua tombol komputer. Memindahkan ratusan Triliyun dolar keluar dari Indonesia atau Malaysia hanya pakai waktu detik-detikan. Inilah yang berpengaruh sangat besar, walaupun tak menghilangkan pengaruh kenaikan suku bunga itu. Satu hal lain yang juga tak dibuka ialah bahwa perpindahan besar-besaran ini bukan tak sepengatahuan Bank Indonesia. Karena itu, Gubernur Bank Indonesia menentang permintaan DPR untuk mengaudit Bank Indonesia. Sikap Gubernur Bank Indonesia dalam merahasiakan transaksi dolar ini memang sangat menentukan nasib bankir rentenir pemilik dolar dunia.

Dalam debat terakhir, Gubernur BI malah mengeritik Jokowi katanya hanya mau cari popularitas dengan rencana menurunkan harga BBM. Banyak yang berpendapat dalam hal ini Gubernur BI tidak etis mengeritik presiden dalam kebijakan BBM. Paling bagus memang dia bikin audit berapa dolar yang keluar dan siapa yang pindahkan sehingga rakyat tahu persoalan sesungguhnya mengapa dollar naik.

Belakangan ada sedikit kenaikan rupiah, walaupun tak seberapa tetapi kelihatan perubahan. Memang ngeri juga kalau DPR sudah mulai mengutik-utik keterbukaan dalam BI terutama

dalam transaksi dolar ini. Akibatnya, akan sangat buruk bagi bankir rentenir internasional itu kalau semua kegelapan yang masih ’rahasia’ bagi BI dan dolar ini terbuka semua. Daripada terbuka semua, mundur dikit (dan rupiah pun menguat dikit).

Sekali lagi membuktikan bahwa TRANSPARANSI dan KETERBUKAAN adalah penyelamat dunia juga dari segi finans dan ekonomi.

Leave a Reply