Perdagangan Ramuan Obat Tradisional Karo

1
513

harga pisang 2HERLINA SUKATENDEL. KABANJAHE. Di Pusat Pasar Kabanjahe ada sekelompok kios-kios yang menjual berbagai macam obat-obatan tradisional. Ada macam-macam obat siap pakai seperti minak pengalun (minyak kusuk), kuning (param/ pupur) dan sembur (ramuan menir beras yang pemakaiannya dengan cara kunyah dan menyemburkan ke perut). Tapi, ada juga banyak bahan-bahan ramuan seperti akar-akaran, buah-buahan, daun-daunan, bunga-bungaan, biji-bijian, kulit kayu, dll.

Rata-rata kios penjual obat ini juga menjual bahan-bahan bumbu masakan seperti jahe, lengkuas, temu lawak, kunyit, jeruk nipis, jeruk purut, kulit manis, dll. karena rempah-rempah ini adalah juga bahan-bahan obatan. Demikian juga bahan-bahan mengunyah sirih seperti daun sirih, gambir, pinang, dan kapur yang juga menjadi bahan-bahan obatan atau keperluan upacara ritual tradisional.

obat 4Bahan-bahan ramuan yang dijual di sana bukan hanya yang ditanam di ladang atau kebun, tapi juga yang harus dicari di dalam hutan, seperti peldang raja, gagaten arimo, sibalik angin, siputar balik, dll.

Perdagangan obat-obat tradisional seperti ini kita temukan juga di Pusat Pasar Berastagi (Dataran Tinggi Karo), dan Pasar Pancurbatu (Karo Hilir). Menurut laporan-laporan penulis Belanda, perdagangan obat-obatan tradisional di pasar-pasar tradisional Karo telah ada sejak sebelum jaman kolonial. Memang, ekonomi pasar (market economy) atau pertanian untuk uang (cash crop) telah berlangsung di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) sejak Pre Kolonial.

1 COMMENT

  1. Menarik juga market economy Karo ini.
    Dulu belum ada mata uang, kemungkinan transaksi dagang pakai cara ‘barter’, barang satu ditukar dengan barang lain seperti bawa lacina ku tiga mulih mbaba sira. Atau bisa juga ada yang pakai logam tertentu, seperti emas atau perak. Mengapa tidak bawa anak kambing tukar belasan ayam atau induk ayam atau piga-piga sabugan . . . .

    Orang Karo Kuno banyak kreasinya, lihatlah filsafat hidup dan dialektikanya yang sudah begitu tinggi. Dialektika-Pikiran thesis-antithesis-synthesis Hegel yang di Karo Kuno dibilang ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’, atau Panta Rei Karo (dialektika alam) ‘aras jadi namo, namo jadi aras’. Karo Kuno sudah pikirkan itu sejak ribuan tahun karena sivilisasi Karo sudah lebih 7400 tahun. Yunani Heraklitos dan Tao baru terpikir soal dialektika itu 500 BC. Hegel apalagi baru 200 th lalu.

    Kalau kita perhatikan dan mengikuti perubahan dan arah perkembangan sekarang dalam soal demokrasi dan leadership dan juga soal perkembangan EQ (the clash of emotions, the clash of civilization), ketiga unsur perubahan ini sangat kompatibel dengan way of thinking Karo. Soal lainnya yang juga sangat sesuai (kompatiebel) dengan way of thinking Karo ialah soal win win solution yang di Karo sejak adanya sivilisasi Karo yaitu ‘sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring’. Dalam bahasa internasional sekarang ini perubahan ke Quiet Revolution ke abad introvert yang sangat kompatibel dengan sifat dan way of thinking Karo.

    Lihatlah soal demokrasi di dunia yang mengarah ke demokrasi etnis Karo, dalam soal egaliternya dan dalam soal kehorizontalannya terlihat dalam praktek tradisonal Karo dalam runggu rakut sitelu tutur siwaluh. Disini tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Ada yang paling tinggi yaitu Kalimbubu, tetapi jadi kaimbubu semua bergilir. Jadi merata dan adil. Tidak ada yang menjadi kalimbubu sepanjang masa dan dimana saja. Lain tempat, lain yang berperan atau diperankan sebagai kalimbubu. Demikian juga jadi anak-beru dan sukut atau senina-sembuyak. Demokrasi duni mengarah ke demokrasi adat karo.

    Lihatlah soal leadership dunia yang mengarah ke ‘pemerataan’ dalam rangka menghilangkan hierarki lama. Karo tidak ada hierarki dalam kepemimpinan, seperti terdapat dalam arih-arih anakberu-senina-kalimbubu. Disini ada ‘hierarki’ tetapi bergilir , seperti yang menjadi kalimbubu sebagai tempat yang dihormati dan dihargai. Ada pekerja (anak beru) tetapi juga bergilir dan adil. Ada sukut (sembuyak, senina) sebagai ‘tuan rumah’ dan juga bergilir dan adil. Gotong-royong atau siurup-urupen dalam masyarakat Karo dari dulu sampai ke abad modern ini masih berlaku mantap. Dan musyawarah ‘runggu’ dalam bahasa dan tradisi Karo masih mantap dalam kehidupan Karo. Jadi semua perubahan dan arah perkembangan dunia sangat mendekati suasana dan pikiran yang sudah ribuan tahun ada di Karo.

    Luar biasa memang cara pikir dan kreasi Karo.

    MUG

Leave a Reply