Pendakian Gunung Penanggungan dari Tamiajeng (1)

0
125

Laporan: Ita Apulina Tarigan (Surabaya)

 

Ita Apulina Tarigan 2Setelah kecewa dengan penjelasan petugas kehutanan di posko pendaftaran Welirang, kami beralih ke Gunung Penanggungan. Di google tingginya tertera hanya 1.653 mdpl. Tidak terlalu tinggi. Tetapi, menurut para pendaki mahir, membutuhkan 4 jam untuk mencapai puncaknya.

Jalurnya berbatu dan sulit. Di musim kemarau begini, abu bukan main tebalnya sehingga alas kaki licin dan harus penuh perhitungan menjejakkan kaki. Belum lagi angin kencang yang membuat abu kalang kabut menganggu pemandangan. Masker di musim ini menjadi perlengkapan yang wajib.

Setelah menyelesaikan segala administrasi dan mengecek ulang perlengkapan, kamipun bersiap-siap mendaki.

pendakian 2
Tenda baru selesai didirikan. Terlihat Egia Sitepu (mengenakan baju berwarna merah jambu) sedang berpose di depan kamera.

Hal utama yang diingatkan petugas posko adalah agar pendaki membawa cukup bekal air. Di atas gunung sama sekali tidak ada air. Akhirnya kami membawa sekitar 12 botol air mineral ukuran 1,5 liter dan ditambah jerigen ukuran 5 liter. Cukup berat menambah beban. Tetapi, daripada kekurangan air, kami angkut juga.

Sepanjang perjalanan menuju Posko 2, jalanan lumayan datar dan agak menurun. Rasanya hepi sekali sesekali kami bergurau. Di perjalanan kami heran bertemu dengan kelompok pendaki yang duduk sembarangan di tepi jalan karena kecapekan. Mereka kelihatan lusus dan compang camping. Kami tertawa geli melihat mereka.

Sampai di Posko 2 sembari minum air tebu segar kami bertemu dengan seorang bapak yang memanggul rumput makanan ternak. Mula-mula Lutfi bergaya memanggul rumput, lalu yang lain berebutan mencoba termasuk saya. Masyaallah, beratnya luar biasa. Harus berdua memanggulnya.


[one_fourth]nafas sudah satu-satu[/one_fourth]

Perjalanan berlanjut ke Posko 3. Kami didahului seorang perempuan dengan pakaian trail dan hanya membawa ransel kecil. Geraknya lincah sembari berlari. Masih bisa tertawa. Tetapi tidak lama. Sesampai di kebun salak kami mulai dihadapkan dengan jalur pendakian sebenarnya. Batu-batu semakin besar dan jalan semakin menanjak. Bertemu lagi beberapa pendaki yang tersenyum menyapa, lalu berujar: Semangat Kakaaaak! Nafas sudah satu-satu, rasanya membalas sapaan merekapun sudah berat. Abu semakin tebal, debu beterbangan setiap berpapasan dengan mereka yang turun.

Di Posko 3, kami berhenti lagi. Saya sampai tertidur kecapekan, teman-teman yang lain juga berbaring. Rasanya lebih 30 menit kami mangkal di Pos 3. Akhirnya, dengan menguatkan hati, kami berjalan lagi. Saya tertinggal di belakang dengan Deni dan Ulum. Ulum sepertinya tidak tega, lalu mengambil ranselku dan membawanya. Di depan sudah tidak kelihatan lagi Egia, Lutfi dan Adel.

Melewati Posko 4, medan semakin sulit. Berkali-kali berhenti menarik nafas. Berkali-kali menapakkan kaki dengan waspada. Debu tebal membuat kita ragu dengan batu yang dipijak. Sesekali batu berjatuhan.

pendakian 3
Mengaso sejenak.

Akhirnya Pukul 16.00 (sore), tibalah di Puncak Bayangan. Angin semakin kencang, debu beterbangan. Mendirikan tenda butuh konsentrasi. Pasalnya, angin meniup tidak tanggung-tanggung. Akhirnya lega rasanya dapat membersihkan diri sekadarnya di dalam tenda.

Teman kami Ulum yang berpengalaman di alam bebas mulai menyiapkan peralatan memasak di dalam tenda. Betapa kagetnya kami ketika dia mulai mengeluarkan isi ranselnya satu per satu. Kukusan, panci, penggorengan, tempe, beras, sayuran, telur.

Oh, my god! Saya, Egia dan Adel langsung jadi fans Ulum, soalnya setelah kecapekan jarang ada yang mau ribet dengan masakan. Malam itu kami makan enak. Nasi, sup sayur macaroni, tempe, telur dan tentu saja dengan teh dan kopi. Menu bubur kacang hijau dibatalkan, karena kami khawatir kekurangan air. Dan cuaca semakin dingin, anginpun semakin kencang.

Angin semakin kencang. Tadi sebelum berangkat, petugas dan beberapa pendaki yang turun mengatakan malam sebelumnya terjadi badai. Sepertinya, malam ini juga akan terjadi (BERSAMBUNG).



Leave a Reply