Kuliner Tradisional: Cimpa Unung-unung

1
216

Oleh: Rikwan Sinulingga (Nangbelawan)

 

rikwan sinulinggaCimpa adalah penganan khas Suku Karo yang banyak jenisnya: a.l. Cimpa caleh-caleh, cimpa matah, cimpa tuang, cimpa lepat, cimpa bohan, cimpa unung-unung.

Penyebutan cimpa ini berdasarkan bahan, bentuk dan proses perbuatannya.

Cimpa yang paling dikenal diantara orang Karo adalah cimpa unung-unung. Jenis cimpa yang satu ini cukup akrab di kalangan Suku Karo terutama pada saat pesta tahunan (kerja tahun). Sebaagian kampung-kampung Karo merayakan pesta tahunan bersamaan dengan musim tanam padi ladang (merdang) sebagian lainnya pada saat padi ladang sedang bunting atau berbunga (erbunga benih) atau bersamaan dengan musim panen (rani).

cimpa 5Cimpa unung -unung ini terbuat dari bahan-bahan tepung ketan, gula merah dan kelapa. Tepung yang dibasahi dan dibentuk menjadi potongan sederhana dan di tengah di isi dengan campuran gula merah dan kelapa yang sudah dimasak (goreng) terlebih dahulu. Isinya ini biasa disebut inti dalam bahasa Indonesia, tapi dalam bahasa Karo disebut unung, seperti halnya isi dari batang pohon ubi kayu yang disebut juga unung dalam bahasa Karo. Dari kata unung inilah nama cimpa unung-unung.

Adapun kata cimpa hanya ditemukan dalam bahasa Karo, tidak ada di dalam bahasa Melayu maupun bahasa Batak. Saat ini, hanya Suku Karo yang merayakan pesta tahunan (kerja tahun) dengan mengadakan berbagai pertunjukan tradisional rakyat dan mengundang tamu untuk menikmati berbagai makanan khas setempat yang umumnya terbuat dari beras; berbagai jenis cimpa, lemang (rires), tapai (tape), emping beras (pahpah).

Potongan yang sudah jadi kemudian dibungkus dengan daun rumput wangi yang disebut bulung singkut atau daun pisang dan kemudian dikukus. Kira-kira setengah jam dikukus, cimpa siap dimakan bersama.

cimpa 8Sebagaimana sering diucapkan oleh orang-orang Karo, makna sesungguhnya dari cimpa ini adalah kebersamaan. Bukan hanya kebersamaan mengkonsumsinya, tapi juga kebersamaan dalam pembuatannya. Biasanya pembuatannya dilakukan setelah selesai makan siang saat hari H pesta tahunan dan dibuat oleh para ibu-ibu atau muda mudi kampung.

Sambil membuat cimpa sambil bercengkerama, menambah suasana keakraban dan kebersamaan dalam kekerabatan Suku Karo.

1 COMMENT

Leave a Reply