Kolom Joni H. Tarigan: FOKUS

0
167

joni hendra tariganPeribahasa ‘sada gia maukta gelah tekuak‘ bagi orang Karo yang kelahiran 80-an dan sebelumnya pasti  bukan merupakan hal yang baru dan mungkin sudah digunakan untuk perumpamaan dalam kehidup sehari-hari.  Orang Karo setelah kelahiran 80-an mungkin sudah banyak yang tidak pernah mendengarnya. Ketidaktahuan itu akibat memang sudah jarang dibicarakan atau juga mereka yang sudah lahir bukan di daerah yang berbahasa Karo.

Masing-masing orang tentu punya pengalaman yang belum tentu sama, dan juga belum tentu berbeda. Bagi saya sendiri peribahasa Karo ini sering diumpamakan kepada mereka yang  hanya memiliki satu orang anak, baik itu perempuan atau laki- laki.

Oya, karena bisa jadi perkataan yang sama tapi makna yang berbeda, saya artikan (sesuai dengan pemahaman saya)  terlebih dahulu kata per kata dari peribahasa Karo ini.

fokus 3Sada adalah satu dan manukta artinya ayam kita. Kata gia bisa diartikan meski atau walaupun, sedangkan gelah  adalah semoga atau hendaknya/ kiranya. Kata terakhir yakni tekuak memiliki arti berkokok. Dalam bahasa Indonesia kira-kira peribahasa ini  menjadi: Meski kita hanya memiliki satu ayam hendaknya [yang satu ini] mampu berkokok.

Kembali  kasus peribahasa ini yang saya ketahui, adalah untuk orang yang hanya memiliki satu orang anak. Apa yang saya pahami adalah dulu itu, mungkin juga sekarang, secara umum orang Karo ingin memiliki anak  banyak.  Jadi penghiburan bagi mereka  hanya memiliki anak tunggal dengan perumpamaan itu adalah bahwa tidak apa-apa keturunannya hanya satu tetapi menjadi manusia yang berkualitas ,  berhasil atau sukses.

Dalam kehidupan yang semakin maju ini, kemungkinan orang yang hanya memiliki satu anak semakin banyak. Memiliki anak satu itu bukanlah lagi sesuatu yang karena memang tidak bisa memiliki keturuan lagi, akan tetapi masyarakat sendiri sudah memutuskan untuk itu, atau bahkan masayarakat yang menikah ada yang bahkan sudah memutuskan menikah tetapi tidak memiliki anak (di Barat mungkin ini sudah biasa). Lantas apa yang diharapkan untuk berkokok alias sukses? Masih relevankah peribahasa Karo di abad ini?

Apa yang saya pahami dan yakini, perumpamaan ini masih sangat relevan, dan saya sendiri baru menyadari bahwa peribahasa itu (bagi saya) tidaklah hanya menyangkut jumlah (satu) atau angka. Bagi saya, lebih dalam lagi, kata satu (sada) dalam peribahasa ini memiliki arti atau nasehat untuk fokus. Fokus adalah kekuatan peribahasa ini.

Seringkali, sebagai manusia, kita ingin melakukan dan memiliki banyak hal dalam waktu bersamaan. Anak-anak kita, kita paksa untuk bisa menguasai bahasa Inggeris, China, Indonesia, Daerah, Matematika, Fisika, Biologi, Sosiologi, Akuntansi, Kimia dan lain-lain dalam waktu yang bersamaan dan nilai adalah patokan dari keberhasilannya. Kita, pada umumnya, tidak bertanya: “Bagaimana kehidupanmu di sekolah nak? Apa yang kau sukai? Apakah hidupmu lebih bahagia setelah sekolah?”

Kebanyakan kita mengatakan: “Anak pengembala kerbo itu saja nilai matematikanya 9. Mengapa kamu yang berkecukupan nilai 4?” Itulah salah satu contoh bagaimana kita tidak mengarahkan anak-anak kita untuk fokus.

Dapat dipahami, tapi jangan pernah dimaklumi, bahwa tindakan kita yang membuat anak-anak kita tidak fokus karena kita sendiri adalah produk yang memang tidak diarahkan untuk fokus. Jangan pernah memaklumi kekurangan ini karena pengetahuan bisa mengatasinya. Pengetahuan di jaman sekarang adalah tanpa batas, tidak harus ke sekolah untuk tahu. Maka kemauan belajar bagi kita orangtua sama-sama dituntut untuk mengarahkan generasi penerus kita untuk fokus.

fokusMari kita siapkan anak kita dengan mental yang kritis dan kreatif. Kita sekolahkan mereka untuk lebih bahagia bukan untuk menderita karena dipaksa mempelajari apa yang mereka tidak perlukan. Seorang anak yang berbakat melukis janganlah paksa menjadi seorang dokter. Seorang anak yang berbakat menjadi militer , jangan paksa mereka menderita jadi ahli perpajakan. Buatlah mereka fokus, dan itu harus berawal dari rumah.

Berawal dari rumah. Kita orangtua harus memberikan diri untuk melihat potensi terbaik untuk anak kita. Sehingga kelak generasi penerus bangsa ini adalah generasi yang cerdas dan mampu mengambil keputusan dan mampu menilai serta menghadapi rintangan.

Dalam kehidupan ini, ketika kita secara total berjalan di jalur talenta yang Tuhan berikan, maka keberhasilan kesuksesan yaitu kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain akan kita raih. Walau pun keahlian kita adalah membentuk rotan, tetapi jika dibuat indah dan menyentuh perasaan maka itu akan menghidupi kita dan orang lain.  Maka sama dengan peribahasa tadi, walapun hanya memiliki satu ekor ayam, tetapi ia berkokok.

Fokus itu penting supaya berkualitas.

Leave a Reply