Kolom Joni H. Tarigan: Buah dan Ikan Tuk Anakku

0
171

joni hendra tariganSore ini, hari begitu cerah. Tidak terlihat tanda- tanda mendung, sehingga kami yakin hujan tidak akan turun. Matahari semakin terik saja, akan tetapi pepohonan membentengi kami dari terpaan langsung sinar matahari. Akan tetapi, bukan cuaca yang membuat keringat bercucuran dan setiap langkah terasa letih. Pengunungan yang naik turunlah yang membuat nafas tersengal dan tenaga seperti terlalu cepat habis. Akan tetapi perjalanan kami unuk kepentingan pengembangan panas bumi kami tuntaskan dengan baik.

Saya begitu antusias dalam setiap pekerjaan yang diserahkan kepada saya. Berbekal pendidikan di bidang teknik mesin, saya pun sudah mulai bercampur dengan berbagai macam pengetahuan di bidang ilmu bumi, terutama geologi. Di lain pihak, saya juga begitu antusias menjadi quality control dalam konstruksi jalur pipa panas bumi.

buah 3
Pasar Buah, Cibubur. Foto: HERLI SITEPU

Di luar jam kerja, saya juga begitu antusias terus mempelajari kehidupan ini, mempelajar kehidupan rumah tangga saya, mempelajar manusia dan bumi tempat manusia  hidup.  Bagi saya, pekerjaan, keluarga, spritualitas , dan sosial adalah komponen hidup.

Melihat anak setiba di rumah ketika malam tiba, saya dibuat sangat antusias sebagai bapak karena melihat perkembangan anak saya. Mungkin benar kata orang, sakit yang lebih parah adalah letih karena pikiran.

Pikiran saya begitu gembira melihat anak kami ini, saya bahkan selalu kagum dan tentunya kekaguman ini sepasang dengan kekaguman kepada ibunya. Pikiran yang bahagi ini menghapus rasa letih dari pekerjaan. Ketika makan malam tiba, saya begitu asik mengamati Rafael yang sangat lahap mengabiskan makanannya. Seperti biasanya, setelah makan kami pun menyantap buah. Rafael yang sudah 2 tahun tidak ketinggalan lahap.

tuna 3
Pasar ikan, Cibubur. Foto: HERLI SITEPU.

Begitu saya senangnya melihat Rafael saya pun mengelus kepalanya sambil berkata: “Nak, bapak tidak bisa beli mobil untuk membawamu senang-senang. Jangankan mobil, sepeda saja belum bisa bapak belikan. Tetapi, bapak berusaha membelikanmu anggur dan buah-buahan lain untuk kau makan, beras yang bagus, ikan tuna, ikan kakap dan ikan-ikan segar lainnya. Semoga bisa berguna untuk kebutuhan tumbuh kembangmu, nak.”

Saya yakin Rafael belum paham, tapi itulah ungkapan dan keadaan sebenarnya.

Kami tak punya mobil dan kendaraan lainnya, tapi kami bahagia memberikan sebisa mungkin kebutuhan anak kami.

Selamat petang.





Leave a Reply