Kolom Paulus Jepe Ginting: Liberal Kapitalisme di Pilkada Karo

1
194

Paulus Jepe GintingEra Reformasi membuka ruang rekrutmen pemimpin menjadi terbuka lebar. Konstitusi memberi jaminan bagi setiap warganegara dengan persyaratan minim dapat ikut serta dalam proses seleksi dan rekrutmen. Bermunculanlah orang-orang yang merasa bisa, tapi tidak bisa merasa, menjadi calon-calon pemimpin.

Tanpa sadar kita masuk dalam jerat Liberal politik yang menggandeng paham Kapitalisme. Siapa saja punya kapital silahkan ikut.

liberal kapitalisme 3Dari sudut pandang demikian, kita sulit menemukan gagasan besar untuk melakukan perubahan. Etika politik nasional dan kebangsaan kita adalah Pancasila. Demokrasi kesetaraan yang dijiwai oleh musyawarah mufakat memberi ruang secara mufakat sosial bahwa kita mendahulukan dan mendorong orang berkemampuan lebih untuk masuk dalam putaran proses seleksi kepemimpinan politik publik.

Melalui cara ini, gagasan besar perubahan dapat lebih terjamin karena mereka yang masuk dalam proses tersebut justru didorong oleh yang lain dengan kesadaran yang logis.

Potret kekinian para calon di Pilkada Karo sejak awal telah masuk dalam perangkap Liberal Kapitalisme. Hal itu tampak nyata dari kerja-kerja politik yang dilakukan oleh Timses dan para pendukung untuk semua calon. Termasuk paparan mereka di medsos mengarah ke situ.

liberal kapitalisme 2Semua bermuara pada kalkulasi waktu, energi dan finansial. Tak ketinggalan pencitraan demi pencitraan dilakukan secara masif dari waktu ke waktu sampai kita tidak melihat lagi keutuhan karakter, sikap hidup dan cita-cita dari calon. Terbenam dalam gempita pencitraan.

Akhirnya, kita akan sadar bahwa Karo tidak akan berubah secara signifikan. Kita harus siap untuk kembali stagnan syukur tidak mengalami deklanasi kesejahteraan di semua lini kehidupan di Kabupaten Karo.

Ini hanya catatan kaki penegas betapa kita lebih bodoh dari keledai.

1 COMMENT

  1. Kalau sudah ‘lebih bodoh dari keledai’ pastilah sudah mencapai puncak kebodohan. Kalau ditinjau dari segi kontradiksi ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ atau tesis-antitesis-syntesis Hegel dimana kalau satu kontradiksi sudah mencapai puncaknya maka akan berubah ke syntesis dan Karo akan menuju sura-sura baru, artinya kontradiksi dalam tingkat yang lain dari sebelumnya.
    Banyak kejadian nyata mengikuti proses ini, dalam pikiran maupun dalam alam. Kalau dulu pernah ada dalam pikiran kalau jadi pembesar akan jadi kaya, atau ternama, berkuasa dsb, belakangan dalam era keterbukaan ini sudah banyak yang tak berpikiran begitu lagi, artinya keledainya berkurang, hehehe . . . termasuk banyak yang dipenjarakan KPK.
    Kantor Polisi banyak yang menahan motor/spedamotor supaya jadi ATM, masih banyak terjadi. Disini mungkin keledainya malah tambah banyak, tetapi kalau jumlah keledainya sudah mencapai puncak pasti juga terjadi perubahan ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ tadi.
    Bicara soal kebodohan keledai pernah ada yang menyanggah karena di Indonesia tidak ada keledai katanya. Tetapi tiba-tiba banyak yang tak setuju kalau di Indonesia tak ada keledai. Banyak sekali keledai di Indonesia. Coba lihat di DPR katanya. Betul juga memang . . .
    Walaupun di Indonesia tak ada keledai, tetapi kita bisa melihat perubahan dan perkembangan keledai ini dari generasi ke generasi seluruh dunia. Darwin menemukan keledai dalam penyelidikannya, ketika itu seorang pendeta.

    MUG

Leave a Reply