Kolom M.U. Ginting: Pembantaian PKI Akan Disidang di Belanda

2
181

“The only thing necessary for the triumph of evil is that good men do nothing.” – Edmund Burke

 

M.U. GintingIni masih berlaku sekarang juga, the evil modern juga akan menang kalau orang baik diam saja. Nation Indonesia akan menjadi bangsa besar kalau evilnya berkurang dan good men maju. Good men inilah yang menentukan kejayaan dan kebesaran satu ntion, bukan evil men. Adalah kejadian sejarah yang sangat bagus kalau sekarang semakin banyak orang baik Burke mengeluarkan pendapatnya termasuk para hakim dan jaksa internasional.

Bisa jadi pemikiran:

1. Imperialis ketika itu mau menyingkirkan Soekarno demi kebebasan ke SDA Indonesia. Soekarno yang nasionalis dan patriotis sangat menentang imperialis dengan politik anti Neokolonialis-nya yang terkenal di AAA ketika itu. Soekarno adalah penghalang utama untuk bisa menguasai SDA Indonesia.

 

pki 22. Imperialis sudah menetapkan Soeharto pengganti Soekarno, tetapi Soeharto tak akan bisa maju jadi Presiden sekiranya Ahmad Yani masih hidup, karena Ahmad Yani sebagai panglima AD adalah tertinggi di militer ketika itu dan Soeharto jauh di bawah Yani. Yani juga sudah diinginkan oleh Soekarno sendiri jadi penerusnya. Yani juga adalah seorang nasionalis yang tidak pro imperialis. Karena itu tingkat pertama strategi ini ialah menghilangkan Ahmad Yani lebih dahulu dari panggung pertarungan.

Bagaimana taktik atau akal bulus dan strategi menyingkirkan Ahmad Yani memang sangat kompleks dan susah dipahami bagi banyak orang ahli. Kemudian dalam sejarah berikutnya ada juga contoh tipikal yang sama dengan proses penyingkiran Soekarno yaitu di Grenada, di situ ada Untungnya, ada Soekarnonya dan ada Soehartonya.

The ultimate goal for EHMs was simple: to expand U.S. corporate empire. included Indonesia, Panama, Ecuador, Columbia, Saudi Arabia, Iran, and other strategically important countries.

(Pengakuan John Perkins dalam bukunya EHM)

Both in 1958 and in 1965, the CIA directly interfered in the internal affairs of Indonesia.

(dari Surat Dewi Sukarno Tentang Peran CIA di Indonesia Tahun 1958 dan 1965)

pki 3The CIA began destabilizing Grenada in 1979, when a man named Maurice Bishop ousted the eccentric thug who ruled the island. Bishop set to work developing a better life for Grenada’s citizens and earned much popular support for doing so. He ran afoul of the US fairly quickly, though, when he failed to join in the quarantine of Cuba.

(from the book The CIAs Greatest Hits by Mark Zepezauer)

Di Grenada 1983 dan di Indonesia 1965:

Maurice Bishop – Soekarno

Bernard Coard  Untung

Hudson Austin – Sorharto 

3. Pengadaan politik ‘kiri’ dan ‘kanan’ yang dimulai sejak ‘manifesto komunis’ pada dasarnya adalah juga alat imperialis untuk menguasai ekonomi dan kekuasaan dunia dengan perpecahan kiri dan kanan.dalam satu nation dan dalam skala internasional dalam blok timur dan barat..

2 COMMENTS

  1. Komunisme atau pecah-belah.

    Bagus dan penting selalu meninjau satu soal dari banyak segi, terutama dari dua segi yang bertentangan. Sekarang dalam soal ini orang Karo juga sudah bisa karena orang Karo sudah punya pikiran dialektis dalam filsafat hidupnya yaitu tesis-antitesis-syntesis Karor ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’. Inilah perubahan kwalitas pikiran bangsa ini, berani meninjau dari banyak segi, yang pasti akan lebih lengkap daripada selama ini tiap soal ditinjau dari segi sepihak (yang berkuasa saja), dan solusinya juga sepihak, dan pasti tak adil. Sebabnya dulu belum ada keterbukaan, belum jamannya.

    Sekarang era keterbukaan, era informasi elektronik dan internet yang sudah memungkinkan semua orang (publik) ikut ambil bagian dalam menganalisa dan bikin usul penyelesaian tiap soal kemanusiaan. Dengan era keterbukaan ini maka dunia telah berubah tingkat sivilisasinya, sekarang adalah era sivilisasi baru bagi dunia dan kemanusiaan.

    Pada era sivilisasi Karo 5000 th lalu, semua soal iselesaikan terbuka dengan musyawarah, tak ada soal yang ditutupi dan tak ada juga yang berusaha menutupi, sebaliknya semua berusaha mengkedepankan supaya bisa dicari solusi dan semua mencari solusi. Dan ini masih mungkin pada sivilisasi kuno itu karena memang masih belum banyak soal yang komplex seperti sekarang, kontradiksi utama masih dengan alam, bukan sesama manusia atau grup manusia, dpl belum lahir yang namanya kekuasaan. Pada era primitif Karo ini berlaku era keterbukaan, tak ada yang butuh kegelapan.

    Dari keterbukaan jaman lama (primitif) ke jaman baru era sekarang walaupun masih dalam proses menuju keterbukaan yang sepenuhnya. Disini berlaku dari keterbukaan ke kegelapan dan ke keterbukaan lagi, dalam kwalitas yang lebih tinggi: keterbukaan-kegelapan-keterbukaan lagi.

    Era kegelapan muncul setelah lahir yang namanya kekuasaan, artinya setelah adanya perbudakan, feodalisme, kemudian kapitalisme sampai sekarang. Disini berdominasi adalah kegelapan, keterbukaan berubah hanya jadi cita-cita dan harapan bagi rakyat, atau sebagai jargon politik bagi penguasa, karena kekuasaan tadi secara hakiki harus menyimpan kegelapan, harus banyak rahasianya. Itulah hakekat alamiah kekuasaan.

    Ada dua pikiran yang menentang pengaruh luar sekarang. Pertama menentang liberalisasi modal barat (TPP), yang lainnya menentang ‘liberalisasi’ ekonomi China yang sudah merupakan kekuatan raksasa dunia dari segi ekonomi. Bagi China lebih gampang karena di Indonesia sendiri sudah dikuasai oleh kekuatan ekonomi orang-orang China perantau. Dan ini sudah terjadi sejak kemerdekaan dan semakin ketat di era Soeharto dan juga era reformasi.

    Ketika era Soekarno, dilarang orang-orang China di daerah/kabupaten, maksudnya dalam rangka mengurangi monopoli ekonomi daerah oleh orang China dan menonjolkan orang pribumi. Banyak yang menentang sikap ini dan bikin dua kubu di Indonesia, ‘kiri’ dam ‘kanan’ yang semakin nyata dan tajam kontradiksinya. Puncak kontradiksi ini ialah 1965, setelah Ahmad Yani dibunuh dan melapangkan jalan bagi Soeharto menyingkirkan Soekarno. Soeharto tak mungkin ambil kekuasaan dari Soekarno kalau Yani masih hidup. Yani lebih tinggi kekuasaannya dari Soeharto yang jauh dibawah Yani dalam hierarki militer ketika itu. Ketika Soeharto korupsi pentil ban mobil, Yani yang menangkap Soeharto.

    Kalau dulu pertarungan ‘kiri’ dan ‘kanan’ dalam skala global antara timur dan barat, sekarang tak ada lagi sekat itu. Karena itu harus jadi perhatian yang lebih mendalam soal pertarungan ekonomi dunia dimana China sudah merupakan faktor yang besar dan tak mungkin dikalahkan oleh siapapun. Ini adalah kenyataan didepan mata Indonesia. Karena itu strategi Indonesia paling bagus ialah bagaimana bekerja sama dan memanfaatkan kekuatan raksasa itu demi kemajuan bangsa sendiri. Tunduk dibawah syarat dan kehendak ekonomi China sama juga bahayanya tunduk dibawah syarat ekonomi neoliberal barat (TPP). Keduanya sama-sama mematikan bagi nation Indonesia. Karena itu yang betul ialah berdikari, tetap masih seperti Soekarno inginkan sejak kemerdekaan yang tertera dalam Trisaktinya: berdaulat, ekonomi berdikari, dan berkultur nasional (kekuatan kultur semua suku bangsa negeri ini). Yang ke 3 ini tak kalah pentingnya dari yang pertama dan kedua, karena penggerogotan kultur adalah salah satu cara modern menundukkan satu nation. Moral kultur suku-suku bangsa nation Indonesia sangat tinggi, dan menentukan bagi tiap suku bangsa dan dengan sendirinya bagi nation Indonesia. Karena itu merusak secara moral berbagai kultur suku bangsa pasti berakhir dengan kepunahan satu suku atau kepunahan satu nation.

    Masalah ‘komunis’ atau ‘komunisme’ sudah jauh meninggalkan jaman. China sendiri bukan komunis dalam arti komunis Marx, pemerintahannya maupun ideologinya. Orang-orang PKT (Partai Komunis Tiongkok) sekarang ini hanya memanfaatkan disiplin komunis yang ditinggalka Mao Tse Tung demi mempertahankan kekuasaan mereka sendiri. Demi kekuasaan dan kebahagiaan mereka sendiri, orang-orang PKT ini akan berusaha terus menghidupkan partai komunisnya. Dari segi kekuasaan mutlak negara, orang-orang ini tak terkalahkan, sudah begitu dari sejak semula berdirinya PKT dan negara China, begitu sampai sekarang dan akan dipertahankan terus begitu.

    Dimana ada orang terkaya di dunia kalau bukan di China. Dimana ada fabrik-fabrik yang buruhnya ditindas dan diperlakukan seperti budak kalau bukan di China. Itulah ‘komunis’ China. Tentu ini bukan lagi komunisme Marx.

    Apa itu komunisme Marx bisa dibaca aslinya di Manifesto Komunis Marx 1848.

    Apakah komunisme dari segi pandang sekarang?
    Ditinjau dari segi politik pecah belah kemanusiaan, pecah belah satu nation dan dunia sejak lahirnya manifesto itu sampai berakhirnya era blok barat dan timur, terlihat jelas bahwa politik ‘kiri’ dan ‘kanan’ itu adalah politik pecah belah yang sangat rapi, dimulai dengan manifesto partai komunis itu 1848 itu. Dari situ dimulai dengan ‘hantu’ proletar seluruh dunia, satu taktik perpecahan yang sangat nyata dalam satu nation yang utuh. Dengna ‘hantu’ ini tak ada lagi satu nationpun yang utuh di dunia. Banyak yang berhasil dibujuk atau ditipu oleh ‘hantu’ ini seperti Lenin, Mao, Stalin, dll. Bahkan Soekarno dalam batas tertentu juga tertipu.

    Apakah Marx dan Engels sebagai hantunya atau yang berhasil dibujuk ‘hantu’ ini, tentu sangat menarik untuk didiskusikan. Marx dan Engels kemungkinan besar juga adalah orang-orang yang diperalat oleh hantu itu. Saya ada hati yang lebih jujur terhadap Marx dan Engels, saya tak begitu yakin kalau kedua orang ini bermaksud memecah belah dunia dan memecah tiap nation dunia, walaupun kenyataan sebagai akibat karya mereka ini tak ada nation yang utuh lagi, semua terpecah belah dan banyak yang mati.

    Di Indonesia banyak yang mati dibantai oleh orang-orang evil/’hantu’ yang memperalat orang biasa menjadi evil, demi mencapai SDA dan sumber emas di Papua. Sekarang dalam era keterbukaan dan sivilisasi keterbukaan, orang baik ‘good men’ Burke perlu maju, termasuk dikalangan hakim dan jaksa international seperti di Belanda itu, untuk turut mencerahkan kegelapan masa lalu, membantu proses dialektika: “keterbukaan-kegelapan-keterbukaan” dalam menuju keterbukaan kwalitas baru. Keterbukaan jaman sekarang sudah bukan lagi keterbukaan seperti era sivilisasi kuno Karo 5000 tahun lalu. Kwalitas keterbukaannya sudah jauh lebih tinggi. Itulah tesis-antitesis-syntesis Hegel atau ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ orang Karo.

    MUG

  2. Kejadian pada tahun 1965 tidak serta merta langsung terjadi. Pasti perencanaannya sudah ada dan dalam perencanaan itu pasti banyak pihak yang terlibat. Mungkin Barat juga mempunyai motive yang berbeda. Bagaiman dengan bangsa-bangsa di Timur. Mungkin kita juga harus jeli memperhatikan apa yang terjadi di Indonesia. Mungkin saja Komunis dari negeri lain yang berminat untuk menguasai Indonesia tetapi rakyat Indonesia yang lugu yang di habisi dan pentolan-pentolan Komunis pendatang menyamar sebagai orang anti Komunis tetap berjaya sampai hari ini.

    Silakan baca ini:http://m.eramuslim.com/berita/analisa/sri-bintang-pamungkas-rezim-jokowi-persilakan-cina-jajah-indonesia.htm

Leave a Reply