Mengapa Jokowi Ketemu Anak Dalam di Kebun Sawit?

0
209

Oleh: Nur Mala (Vrij Universiteit, Amsterdam)

 

Nur MalaMasih ingat kehebohan foto Presiden RI dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba? Nah, SAYA MAU BERBAGI INFORMASI TENTANG SUKU ANAK DALAM. Kenapa harus repot-repot? Karena kehebohan soal foto-foto ini malah melebihi berita tentang penanganan korban asap. Juga malah menutupi esensi permasalahan utama Suku Anak Dalam. Beberapa pertanyaan, misalnya, “kok Suku Anak Dalam pakai baju biasa dan bukan pakai cawat?”, “kok mereka ada di kebun sawit dan bukan di hutan?”, ada juga yang komentar, “kok ada bungkus minyak goreng ****** di foto?”

Nah, komentar-komentar ini menurut saya masih netral dan kritis, karena selanjutnya, seperti kita tahu, komentar-komentar yang nyinyir bahkan sarkasis jauh lebih buuuanyaaakkkkk bagaikan bintang di langit, yang intinya loncat ke kesimpulan bahwa foto-foto Jokowi dengan Suku Anak Dalam merupakan foto rekayasa – alias Suku Anak Dalamnya jadi-jadian dan bayaran – tapi settingnya kurang bagus – masa sih di kebun sawit – sehingga gampang ketahuan.

anak dalam 2
Lingkungan (hutan) tempat tinggal Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBDB)

Yah, tidak bisa disalahkan juga sih, karena tidak semua dari kita paham siapa itu Suku Anak Dalam. Saya justru menyesalkan Kementrian Sosial, Pemprov Jambi, dan Setneg, yang tidak memberikan informasi tentang kondisi terakhir Suku Anak Dalam, sehingga menjadi boomerang pada saat foto-foto presiden bersama Suku Anak Dalam dipublikasikan.

Nah, karena itu saya ingin berbagi, karena saya pernah melakukan pendampingan peningkatan kapasitas ekonomi Suku Anak Dalam, bersama UI dan NGO di Jambi. Walaupun tidak intens, alias bolak-balik Jambi-Jakarta, namun setidaknya ada beberapa yang bisa saya bagi.

Apakah saya hebat karena melakukan pendampingan pada Suku Anak Dalam?

No, No, No. Masih ada banyak relawan-relawan hebat, tenaga kesehatan, para guru rimba -yang rela menerima resiko terpapar malaria-, yang saat ini melakukan pendampingan pada Suku Anak Dalam secara intens. Mereka pasti lebih paham tentang Suku Anak Dalam. Sayangnya, pahlawan-pahlawan ini terlalu low profile sehingga banyak yang tidak muncul di media. Saya cuma mau berbagi beberapa informasi yang mungkin bisa menjawab beberapa pertanyaan di media sosial tentang Suku Anak Dalam.

Tak kenal maka tak sayang, kan?

Q: Siapa sih sebenarnya Suku Anak Dalam?

anak dalam 3A: Mereka yang kita kenal sebagai Suku Anak Dalam (mereka sendiri menyebut diri mereka sebagai ‘Orang Rimba’ untuk menunjukan identitas kerimbaan mereka, dan selanjutnya kita akan menggunakan istilah ‘Orang Rimba’) adalah suku asli Jambi yang awalnya wilayah hidup mereka meliputi hampir seluruh wilayah Provinsi Jambi. Sejatinya, Orang Rimba adalah masyarakat yang hidup berpindah-pindah dalam wilayah adat tertentu, dan menghidupi dirinya dengan berburu dan mencari hasil hutan.

Q: Kok ada Orang Rimba di kebun kelapa sawit? Bukankah seharusnya mereka semua ada di dalam hutan?

A: Itu karena sebagian besar hutan di Provinsi Jambi sudah tidak ada. Saat ini hutan di Jambi hanya tersisa di area yang dijadikan Taman Nasional. Sisanya sudah menjadi areal perkebunan sawit dan permukiman.

Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) sudah ditetapkan sebagai wilayah hidup Orang Rimba oleh pemerintah. Tapi, tidak semua Orang Rimba menetap di sini. Proporsi luas Taman Nasional ini terhadap luas Provinsi Jambi hanya kurang dari 2%. Kelompok Orang Rimba yang menetap di sini umumnya adalah kelompok yang sejak jaman dulu sudah memiliki wilayah territorial di sana. Sisanya, hidup di luar taman nasional ini.

Kalau kita petakan, saat ini ada 4 tipe Orang Rimba berdasarkan lokasi tinggalnya:

1. Orang Rimba yang masih tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas. Mereka inilah yang masih mudah mendapatkan akses ke sumber daya alam dan mudah menjalankan adat mereka.

anak dalam 52. Orang Rimba yang terpaksa tinggal di lahan sawit yang dulunya merupakan territorial adat mereka. Dari pengalaman saya, kelompok inilah yang paling kasihan. Paling terlunta-lunta. Mereka masih mencoba mempertahankan adat mereka, tetapi akses ke sumber daya alam sudah tidak ada. Bagi pemilik perkebunan sawit, mereka dianggap sebagai penghuni illegal. Padahal dari persepsi Orang Rimba, perkebunan sawit itulah yang mengambil paksa territorial adat mereka, tempat hidup mereka selama beratus tahun.

3. Orang Rimba yang tinggal di rumah-rumah yang disediakan Kementrian Sosial. Namun sebagian besar dari mereka tidak tinggal permanen di sini dan hanya menggunakannya sebagai rumah singgah.

4. Orang Rimba yang memang sudah tinggal dan membaur dengan penduduk desa.

Q: Apakah saat ini Orang Rimba masih memegang adat mereka? Apa pakaian mereka? Kok ada yang pake daster?

A: Sebagian besar Orang Rimba masih teguh memegang adat mereka, termasuk yang berada di luar Taman Nasional Bukit Dua Belas. Secara adat, pria berpakaian menggunakan cawat dan wanita menggunakan kemben sepinggang. Sebagian dari mereka yang sudah berinteraksi dengan masyarakat luar, sudah mengenal pakaian biasa.

Q: Trus, apa hubungan Orang Rimba dengan penanganan korban asap?

A: Jangan lupa, bahwa sebagian Orang Rimba masih tinggal di hutan. Saat hutan terbakar, artinya rumah mereka terbakar.

Q: Siapa saja yang sudah berinteraksi dengan Orang Rimba?

A: Banyak. Sebagian besar pasti sudah mendengar tentang Sakola, kan? Sakola adalah salah satu NGO yang berdedikasi memberikan pendidikan literasi pada Orang Rimba. Ada juga KKI Warsi, NGO yang lebih dari 2 dekade memberikan pendampingan pendidikan dan kesehatan pada Orang Rimba. Juga tenaga kesehatan, guru, dan petugas taman nasional yang rela ditempatkan di lini depan. Mereka ini luar biasa.

Well, buat saya pribadi, pertama kalinya kedatangan seorang presiden untuk menemui dan berbicara dengan Orang Rimba adalah berkah luar biasa bagi Orang anak dalam 6Rimba setelah dilupakan bertahun-tahun. Saat ini permasalahan terbesar Orang Rimba adalah hilangnya hutan untuk mencari kehidupan dan menjalankan adat mereka. Mereka juga butuh akses yang setara pada layanan kesehatan, pendidikan, dan hukum. Terlepas dari pro dan kontra terhadap tawaran solusi dari Jokowi yang dianggap belum mengakomodir aspek adat dan budaya dan akar permasalahan Orang Rimba, dan apa rencana kontigensi bagi Orang Rimba bila di masa yang akan datang hutan sudah tidak ada lagi, setidaknya pintu dialog itu sudah dibuka.

Q: Eh, balik ke pertanyaan awal, jadi kira-kira foto-foto itu asli tidak sih?

A: Sejauh yang saya lihat dari foto-foto Jokowi bersama Orang Rimba yang dipublikasikan dan membandingkan dengan pengalaman saya waktu di sana, saya sih yakin kalau itu memang foto asli, baik Jokowi – nya (bukan Jokowi jadi-jadian) dan Orang Rimba-nya juga asli.

Q: Tapi gw masih tidak percaya. Gimana donk?

A: Gak pa pa! Kepo itu baik! Artinya anda berbakat sebagai peneliti, wartawan, atau petualang. Yang paling afdol memang membuktikan sendiri. Kalau selama ini backpacker-an ke Bali atau Lombok, bagaimana kalau sekarang backpacker-an ke Jambi? Saat bus anda menyusuri perkebunan sawit di Jambi, dan menemukan sekelompok orang dibawah pohon sawit dengan tenda seadanya, mungkin anda sudah menemukan Orang Rimba.

Ingin bertemu Orang Rimba di lokasi foto/foto itu? Rutenya mudah. Naik pesawat/ bus ke kota Jambi. Dari Kota Jambi naik travel ke Kabupaten Sarolangun. Dari pusat kota Sarolangun gunakan angkot atau ojek ke Desa Suban atau SPI dimana anda bisa mengakses pintu masuk ke Taman Nasional Bukit Dua Belas. Jangan lupa mengurus SIMAKSI buat yang mau masuk taman nasional. Jangan nyampah di taman nasional. Jangan nekat masuk kalau tidak pegang SIMAKSI.

Nb: karena ini wilayah endemik malaria, jangan lupa minum obat malaria dan berkonsultasi dengan dokter pribadi sebelum berangkat.

Foto head cover: Penulis (kanan) bersama ibu-ibu dan seorang anak kecil Suku Anak Dalam di dalam Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBDB).

Leave a Reply