Kolom Joni H. Tarigan: Kereta Cepat dengan Pertanian Karo

0
175

joni hendra tariganSaya semakin yakin bahwa Jepang dan masyarakatnya masih merasa seperti bermimpi dengan ditunjuknya China untuk membangun kereta cepat Jakarta–Bandung. Keyakinan ini berdasarkan obrolan saya dengan orang Jepang sendiri. Sudah 4 orang  rekanan tenaga kerja dari Jepang menyampaikan kekecewaan mereka. Alasan kekecewaan tersebut sudah saya paparkan pada tulisan sebelumnya.

Bagi mereka yang pessimis tentu saja tidak ada untungnya proyek ini. Para pengamat yang hemat wawasan bahkan memaparkan ketidaklayakan proyek ini dari hitung-hitungan tiket dan juga kemampuan BUMN Indonesia. Pemangat ini dan satuan orang yang menempatkan garis hidupnya di jajaran pesimis, tentunya lebih pesimis lagi jika proyek ini bisa bermanfaat untuk pertanian Karo secara khusus, dan pertanian Nusantara secara umum.

Pandangan pesimis tersebut akan mengungkapkan banyak kegilaan. Pertama ialah, kereta cepat tidak ada kaitannya denga pertanian. Ini yang membuat ide pasti sedang kereta cepat 4banyak hutang sehingga mengigau. Berikutnya adalah, kereta cepat ini dibangun dari Bandung ke Jakarta. Tanah Karo jauh saja tidak, amat sangat jauh pun tidak. Tempat proyek ini terpisah antar pulau antara Jawa dan Sumatera. Pasti yang mencetuskan ini adalah sakit Jiwa. Kegilaan yang lain akan dilontarkan adalah, ini kereta cepat bukan pesawat cepat. Sama sekali tidak masuk akal, jangankan masuk akal masuk tong sampah pun tidak pantas. Itulah kira- kira tanggapan kaum pesimis dan pengamat hemat wawasan.

Baiklah, saya bukan ilmuan juga bukan pengamat (pengamat belum tentu ilmuan). Saya hanyalah rakyat biasa yang bekerja di pembangkit listrik dengan gaji pas-pasan. Akan tetapi, saya ingin menjadi  seperti Tahir (pemilik Mayapada Group), ingin seperti Bill Gates (pemilik Mircrosoft), ingin seperti B.J. Habibie (pemilik Habibie Center). Saya akan tambah dianggap sudah cacat mental karyawan swasta pembangkit listrik di Indonesia, tetapi ingin menggapai  tingkat tertinggi untuk kebaikan.

Saya akan coba sambungkan proyek kereta cepat ini dengan pertanian Karo.

Jalur kereta tersebut  akan dibuat dengan melewati 8 stasuin yakni: Gambir, Manggarai, Halim, Cikarang, Karawang, WALINI, Kopo, dan Gedebage (Kolom Rheinald Kasali -Kopas: Menyoal Ribut-ribut Kereta Cepat Jakarta-Bandung).  Anda pasti tidak melihat ada nama Kabanjahe, tidak juga Berastagi, tidak juga Medan. Jangankan Medan, Lampung saja tidak disinggahi.

kereta cepat 5
Ladang jagung di Taneh Karo.

Masing- masing stasiun tersebut juga akan dirancang untuk pembentukan kota-kota baru sekitarnya dengan konsep-konsep yang berbeda. 8 stasiun berarti akan muncul juga 8 konsep kota baru.  Saya tertarik dengan konsep kota yang akan dibangun di wilayah WALINI. Masih berdasarkan kolom Rehinald Kasali, bahwa kota ini akan dibangun untuk dijadikan pusat riset kesehatan dan obat-obatan, teknologi pertanian dan bioteknologi.

Anda pasti belum juga melihat nama Karo dari konsep pembangunan Walini ini. Tetapi setidaknya ada kata pertanian di sana, dan sebenarnya inilah yang menyambungkan Karo dan Walini lewat pembangunan kereta cepat ini.  Teknologi pertanian akan menjadi sangat bermanfaat bagi sistem pertanian di seluruh Nusantara, termasuk TANEH KARO.

JAKARTA–BANDUNG  itu dapat ditempuh dengan waktu yang sangat singkat. Distribusi barang dan jasa yang dibutuhkan untuk mendukung pusast teknologi pertanian ini akan menjadi sangat cepat. Ketersedian barang, jasa dan modal akan menumbuhkan temuan-temuan teknologi pertanian.  Maka Taneh Karo yang masih megandalkan sistem pertanian tradisional bisa memanfaatkan ini agar dapat melakukan sistem pertanian dengan keterlibatan IPTEK.

Saya yang punya cita- cita mendirikan Bank Pertanian, melihat konsep pengembangan Walini ini menjadi sangat bermanfaat untuk bisa menerapkan sistem pertanian yang lebih effektif dan efisien. Teknologi pertanian yang dikembangkan akan menjadi standard dalam pengolahan pertanian jika petani ingin menggunakan modal dari Bank Pertanian.

Mudah-mudahan, saya tidak dianggap gila lagi. Tentu tidak berlebihan bahwa proyek kereta cepat ini akan berdampak bagi pertanian Karo.

Leave a Reply