Kolom Wijayanto W. Aji: Se Haters Speech, Upaya Kembalikan Budaya Ketimuran

1
176

wijayanto 8Dalam 3 minggu ini (Surat Edaran) SE Haters Speech telah menjadi perdebatan netizen di media sosial. Banyak sekali pro kontra dalam menyikapi SE Haters Speech Polri yang sebenarnya edaran tersebut ditujukan kepada internal Polri, terutama Polda-polda yang ada di daerah.

Secara substansi, SE hanya ingin mengendalikan demokrasi ala media sosial yang sudah sangat kebablasan dan upaya mengembalikan budaya ketimuran yang jadi ruh kehidupan manusia Indonesia yang sudah mulai tergerus oleh jaman.

Sejak bangsa ini melakukan pembelajaran berdemokrasi pasca era Reformasi digulirkan, banyak sekali pembelajaran proses demokrasi di dunia nyata yang mulai menemukan bentuknya. Namun, ketika munculnya media sosial mulailah demokrasi Indonesia seakan terjadi ekspresi kebebasan yang mulai kebablasan karena dianggap bisa melakukan komunikasi tanpa terbentur ruang dan waktu. Ini menyebabkan para netizen bebas berkomentar dengan siapapun tanpa harus bertatap muka dengan orang yang diajak komunikasi.

se hater speech 2Ketika komunikasi dengan pejabat bahkan presiden sekalipun sangat mudah untuk melakukan komunikasi secara transformatif. Namun, karena saking bebasnya proses komunikasi tersebut yang seolah tanpa aturan baku, sehingga dengan mudah melampiaskan kepenatan hidup di dunia maya tanpa harus terjebak norma yang berlaku bahkan aturan yang ada di dunia rill. Seolah-olah saling serang, saling hujat, saling fitnah menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan media sosial.

Momentum puncaknya ketika pertarungan Pilpres 2014 dimana terjadi pertarungan sengit antar 2 kubu untuk memenangkan pertarungan opini di dunia maya. Ini pada akhirnya berimbas pada pola menghasut, menghujat, memfitnah, menyebarkan berita bohong hingga melecehkan para personal pejabat menjadi dinamika kotor serta rusuh saat kampanye. Karena perilaku tersebut berulang-ulang akhirnya sikap tersebut diadopsi sebagai perilaku baru, berlindung dari yang namanya kebebasan berekspresi dan berdemokrasi.

Bahkan perilaku tersebut sebagai pembenar dari sikap dalam memusuhi kaum minoritas, misalnya kelompok Sunny dengan Syah, komunitas JIL dengan Wahabi, kelompok Islam dengan Kristen hingga melecehkan indivividu pejabat karena merasa Jokowi diserang, Prabowo diserang Megawati, SBY bahkan Saiq Agil dan Safii Maarif diserang.

Demokrasi yang kebablasan ini akhirnya menjangkiti semua umur mulai dari yang belajar media sosial hingga yang sudah berumur pun ikut berpengaruh dalam perilaku rimba raya media sosial.

se hater speechMunculnya SE Haters Speech diharapkan mampu meredam upaya demokrasi kebablasan dalam dunia media sosial. Namun, karena merasa ekspresi kebebasan yang kelewat tercerabut akhirnya beberapa orang yang selama ini bebas menghina serta menghasut melalui media sosial mulai membentuk opini seolah-olah bahwa SE Haters Speech itu membelenggu kayak model Orde Baru. SE Haters Speech sebenarnya diberlakukan untuk internal Polri terutama Polda-polda di daerah dalam menyikapi laporan yang muncul tentang kebebasan ekspresi di media sosial sehingga sebagai upaya preventif. Diharapkan Polri menjadi pionir untuk mengingatkan netizen untuk kembali ke budaya ketimuran daripada terus melakukan ekspresi kebebasan yang sudah kebablasan.

Sebenarnya SE Haters Speech bukan merupakan hal baru dalam koridor aturan di Indonesia. UU ITE juga sudah mengatur hal tersebut dan bahkan kayak aturan di KUHP juga sudah lengkap mengatur tentang pencemaran nama baik, penghinaan, penghasutan, fitnah bahkan aturan penyebaran berita bohong. Bahkan dalam ketentuan aturan yang diberlakukan oleh akun media sosial kayak Twitter, Instagram dan Facebook juga ada aturan tentang penghinaan, penghasutan, memfitnah dan menyebarkan berita bohong.

Dalam aturan tersebut selama ada yang melaporkan akan ditindaklanjuti sama kayak se hater speech 3SE Haters Speech. Mengapa kita semua harus heboh menyikapinya?

Terlepas apapun kontranya terhadap SE Haters Speech, ada hikmah positif dari edaran tersebut agar bersama-sama memiliki kesadaran kolektif untuk kembali ke budaya ketimuran; budaya saling menghargai satu sama lain, bertoleransi, tenggang rasa antar suku ras dan agama yang berbeda dan juga saling menghargai saat mengkritik ketika beda pilihan politik.

Kalau SE Haters Speech mampu dimaknai sebagai gerakan berkesadaran demokrasi melalui identitas ketimuran, maka tidak ada lagi pengrusakan demokrasi di dunia nyata yang mulai matang dalam transformasi ekspresi demokrasinya.

Mari melalui momentum SE Haters Speech kita kembalikan demokrasi kita bermartabat yang dapat menjunjung tinggi harga diri bangsa serta menghargai martabat manusia seutuhnya siapapun tokohnya. Silakan ekspresikan kritik anda dengan lebih bermartabat demi majunya Indonesia jaya.

Merdeka !!!!!!!!!

* Penulis adalah Direktur Eksekutif CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGRESSIF MOVEMENT ( CS REFORM) dan sekaligus Pengamat Sosial Politik Asal Jawa Tengah.

1 COMMENT

  1. Sedikit tambahan soal ‘hate speech’ ini dari segi bertentangan, atau dari segi lain.

    “Hate speech = murder ” di plakat demonstran. Apakah ini juga budaya ketimuran, siapa tahu.

    ‘kembali ke budaya ketimuran’ kata penulis, yang bermaksud sangat tulus cari kebaikan ketimuran. Paling ngerusak budaya ketimuran adalah rezim Soeharto sembelih 3 juta manusa tanpa kedip mata. Hate speech atau ngerompi juga dikatakan sekarang, dimana disitu juga bisa termasuk ‘hate speech’. Dulu tak bisa disebarkan, sekarang bisa karena ada internet. Lantas keluarlah se hate speech. Dalam soal ngerompi ini semua masyarakat lakukan, tinggi rendah intensifnya tergantung situasi dan orangnya. Saya pikir tak tergantung timur atau barat. Timur atau Barat, Sekarang atau Dulu, ngerompi masih jalan. Akar permasalahan masih sama dan berubah hanya dengan perjalanan kesedaran manusia. Tetapi perubahan kesedaran ini sangat lambat, dalam soal ini sudah terlihat hampir begitu saja selama ribuan tahun,

    Apakah dasarnya hate speech itu? Dasarnya adalah PERBEDAAN:

    – Perbedaan kepentingan terutama yang berkaitan dengan duit yang bisa bikin saling bunuh.
    – Perbedaan politik juga rame, 3 juta orang bisa disembelih tanpa kedip mata.
    – Perbedaan kultur bisa bikin perang etnis, korbannya juga jutaan seluruh dunia, terjadi juga di Kalteng,Kalbar, Maluku dll.
    – Perbedaan perorangan/pribadi, akan sangat menarik dan lengkap kalau dilihat dari segi psikologi. Kebencian yang sudah memuncak yang akan meledak itu harus di embuskan keluar sehingga bisa lega lagi dalam hati, biasa dikatakan oleh seorang psikolog.

    Perbedaan adalah alamiah dan MUTLAK. Karena perbedaan adalah mutlak dan alamiah
    maka sebagai manusia kita harus MENERIMA dan MENGAKUI perbeaan itu. Dengan sikap menerima dan mengakui ini saja, maka solusi sudah separuh jalan. Separuhnya lagi ada dalam “kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan”.

    MUG

Leave a Reply