Kolom Wijayanto W. Aji: Memaknai Pahlawan di Sekitar Kita

1
129

wijayanto 8Pahlawan itu ketika kita saling menghormati dan toleransi meskipun beda visi. Pahlawan itu ketika sering membeli produk di pasar tradisional atau di PKL tanpa harus menawar serendah-rendahnya kayak kita beli di mall ,McD dan restoran besar lainnya yang berapapun dibeli sungkan menawar.

Pahlawan itu ketika update status di media sosial menginspirasi yang lain daripada memprovokasi, memfitnah atau bahkan menyebarkan berita bohong. Pahlawan itu ketika ada masalah sosial seperti asap, macet atau banjir turut action memberi solusi bukan memperkeruh keadaan.

Pahlawan itu ketika buruh menyikapi upah dengan produktifitas dan bekerjasama dengan perusahaan memajukan usahanya daripada demo yang merusak produktifitas orang lain. Pahlawan itu jadi pejabat atau politisi yang anti korupsi dan mencegah korupsi di sekelilingnya daripada menumbuhsuburkan budaya korupsi di lingkungan kita.

pahlawan 4Pahlawan itu ketika lulus sarjana mampu menciptakan lapangan kerja dengan memanfaatkan potensi lokal daripada jadi pegawai atau daftar PNS. Pahlawan itu taat aturan dan tertib berlalulintas.

Pahlawan itu ketika kita mampu mengoptimalkan potensi kita demi memajukan dan menggerakkan ekonomi lokal demi Indonesia sejahtera. Pahlawan itu ketika menyikapi segala keadaan tanpa harus mengeluh tapi berbuat yang terbaik untuk diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar kita.

Pahlawan itu mampu membaca setiap peluang dan kesempatan untuk mensejahterakan diri kita dan lingkungan kita. Pahlawan itu ketika jadi bupati, walikota, gubernur, menteri ataupun presiden mampu memberikan terobosan yang out of the box demi meningkatkan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya dan melakukan akselerasi pembangunan.

Pahlawan bagi yang pacaran adalah berpacaranlah yang sehat dan mampu mengispirasi pasangannya untuk meningkatkan produktifitas diri masing-masing tehadap lingkungan.

Pahlawan itu rajin menabung sesering mungkin untuk memakmurkan diri kita dan lingkungan kita.

1 COMMENT

  1. Menarik sekali definisi kepahlawanan dalam artikel ini. Melukiskan pahlawan praktis dalam kehidupan nyata sehari-hari, sangat inspiratif.
    Belakangan rame juga diskusi soal kepahlawanan ini, termasuk seorang ketua DPR yang mengusulkan pemimpin pembantaian 3 juta orang tanpa kedip mata Soeharto jadi pahlawan nasional. Apa ketua DPR satu ini bisa juga disebut pahlawan ya? Tetapi sekiranya ketua DPR satu ini juga mau dengan tulus hati memperhatikan nasib jutaan keluarga orang-orang yang dibantai itu, pasti akan ada muncul keseimbangan dalam usulnya, dan dia jadi pahlawan keseimbangan kontradiksi.

    Yang masih belum ada keseimbangan dalam usul kepahlawanan nasional ini ialah masih dilupakannya kepahlawanan Badiuzzaman Surbakti yang berperang seperempat abad dalam ‘Batak Oorlog’ atau ‘Perang Sunggal’ melawan perampokan tanah subur ulayat suku Karo di Sumtim yang dijadikan perkebunan karet, tembakau dan sisal oleh Belanda demi mendukung ekonomi pemerintah kolonial Belanda. Disini jelas masih perlu ‘keseimbangan’ kepahlawanan nasional. Panitia kepahlawanan nasional masih belum mengenal kepahlawanan Badiuzzaman Surbakti dalam ‘Batak Oorlog’, panitia ini hanya mengangkat jadi pahlawan yang mereka sudah kenal saja. Salah siapa ya kalau mereka tak kenal pejuang nasionalnya sendiri? Atau ada pahlawan salah angkat dalam ‘Batak Oorlog’? Perang ini adalah perang orang Karo bukan perang orang lain karena tanah ulayat Karo yang dirampok Belanda. Mestinya perang Badiuzzaman ini namanya ‘Karo Oorlog’. Tetapi orang Belanda tak mengerti beda kedua suku ini, orang Indonesia bisa membedakan. Bagi Belanda semua ‘teroris’ (penentang penjajahan) ketika itu dianggap ‘batak’, termasuk ‘terorist’ panglima perang Badiuzzaman Surbakti yang kemudian di buang ke Jawa dan mati dipembuangan tanpa pernah boleh pulang ke Sunggal tanah kelahirannya. Kuburannya pun tak dihargai. Mestinya setidaknya dipindahkan ke salah satu Taman Pahlawan Indonesia, Surabaya atau Kabanjahe.

    MUG

Leave a Reply