Pray for Paris: YA ENGGAK GITU

0
237

Oleh: Fitra Chord Barus (Jakarta)

 

fitra chord barusA : “Pray for Paris”
*Lalu si A pun mengganti latar profil facebook dengan bendera Perancis.

B : “Waktu kejadian yang sebelum-sebelumnya kamu gak segitunya deh, pake ganti-ganti latar profil segala. Kan kejadian di kota X dan negara Y juga memakan korban jiwa. Yang soal asap baru-baru ini juga sama, gak keliatan tuh simpati kamu saat itu yang seperti sekarang.”

A : “Lha, waktu kejadian sebelumnya memang facebook ngasih opsi kayak sekarang? Kan enggak toh?”

B : “Itulah.. Kenapa waktu itu di facebook gak ada?”

A : “Lha, kok tanya saya? Gih sono curhat ke founder facebook, jangan ke saya. Lagian kalo saya sedang bersimpati dengan Paris, apakah itu salah?”

B : “Bukan begitu.. Kan ada juga korban di kota X, negara Y, dan yang lainnya.”

A : “Lha, terus maksudnya saya harus bagaimana?”

B : “Ya bersimpati juga lah. Pas yang di X, Y, dan lainnya kok banyak yang diam. Pake ‘Pray’ segala. Kayak beneran aja mendoakan. Padahal siapa yang tau apakah kamu itu beneran mendoakan apa tidak.”

A : “Lha, memangnya kalau saya sedang bersimpati terhadap tetangga saya yang dalam kondisi sulit, kamu bisa tau? Enggak toh? Kalau saya sedang bersimpati dengan teman saya yang berduka, kamu bisa tau? Enggak toh? Soal saya sedang bersimpati atau tidak terhadap sesuatu, kan saya yang tau.

Jadi maksud kamu, saya harus bilang-bilang ke kamu kalau saya sedang bersimpati terhadap sesuatu, gitu?”

B : “Ya enggak gitu.”

A : “Soal mendoakan, ini sama saja dengan bersimpati. Itu urusan saya, bukan urusan kamu. Apakah saya benar-benar mendoakan atau hanya sekedar ucapan mulut, itupun urusan saya, bukan urusan kamu.

Kalau kamu sedang bersimpati terhadap sesuatu, memangnya kamu harus laporan ke saya?”

B : “Ya enggak gitu.”

A : “Kalau kamu sudah mendoakan seseorang atau sesuatu, memangnya kamu harus kasih laporan ke saya, bahwa kamu benar-benar telah mendoakannya?”

B : “Ya enggak gitu.”

A : “Di lain sisi, jika saya sedang bersimpati terhadap sebuah kejadian, sedangkan saya lihat sepertinya kamu tidak bersimpati dengan kejadian itu, apakah saya boleh memaksa kamu untuk ikut bersimpati?”

B : “Ya enggak gitu.”

A : ” Artinya andaikan saya memang tidak bersimpati dengan kejadian yang kamu sebutkan tadi, itu urusan saya toh? Bukan urusan kamu?” Ngapain juga kamu “ngurusi” urusan saya? Memangnya kamu kurang kerjaan ya “ngurusi” urusan orang?”

B : “Ya enggak gitu.”

A : “Lha, jadi masalahnya apa toh?”

B : “Saya gak suka aja ngeliatnya.”

A : “Lha, soal suka atau gak suka, itu masalah kamu, bukan masalah saya. Sudah ya, saya mau berdoa untuk Paris nih.”

Leave a Reply