Kolom M.U. Ginting: Neolib diantara Retorika dan Kerja

0
197

M.U. Ginting 2Menarik memang analisa praktis dari Renald Kasali di Kompas,com. Gampang dimengerti dan aktual juga, dengan menggunakan istilah ’Tuhan’, ’Rakyat’ atau ’Neolib’ sebagai jurus ampuh tarik simpati.  Menyangkut dua menteri di kabinet Jokowi, si A dan si B, dia membedakan menteri yang ’beretorika’ dan menteri yang ’bekerja’. Sama-sama ‘untuk rakyat’.

Banyak memang pejabat yang pandai beretorika, tetapi di belakangnya ada ‘udang di balik batu’ kata orang lama negeri ini. Beretorika untuk pencitraan, popularitas, persiapan pemilihan yang akan datang dan sebagainya atau mengalihkan isu dari dugaan korupsi.

Ada yang tak bisa beretorika, bisanya cuma bekerja untuk rakyat, diam diam saja. Yang beretorika saja dan dengan maskud buruk, jelas bukan orang baik, bukan orang neolib 2baik bagi rakyat dan sebenarnya tak perlu diangkat jadi menteri. Dari segi lain, siapa pula menjamin bahwa yang ’bekerja’ saja dan diam-diam tak banyak ngomong bukan wakil ’neolib’ di Indonesia?

Neolib adalah organisasi kekuasaan besar kapital dunia, mereka berhasil adu domba dalam likwidasi 3 juta orang Indonesia 1965 demi akses ke SDA dan emas Papua. Sudah lebih dari setengah abad dan sampai sekarang juga masih bercokol di sana, dan malah secara diam-diam (bekerja diam) di perpanjang lagi 6 bulan, lantas dialihkan pula ke soal saham dalam berbagai retorika.

Neolib tak urusan pakai siap saja yang mau diperbudak atau dimanfaatkan, yang pandai beretorika atau yang pandai bekerja diam, semua dimanfaatkan. Sama halnya dengan menggunakan Tuhan soal ISIS, percaya atau tak percaya Tuhan tak urusan, yang penting dimanfaatkan semua demi tujuan utama bisnis neolib: duit, tambang, SDA dan kekuasaan (juga demi duit).

Mengapa Jokowi mengangkat menteri jenis A yang hanya pandai beretorika?

Leave a Reply