Pemetaan Suku Strategi Penjajah di Sumatra (Karo Bukan Batak)

1
422

Oleh: Sada Arih Sinulingga (Kabanjahe)

 

Sada Arih SinulinggaMengapa disebut GBKP nama Gereja Batak Karo? Pertanyaan ini selalu muncul oleh orang-orang yang merasa Batak. Sebenarnya, sudah berulangkali dijawab, namun selalu muncul untuk menyatakan dalil agar Suku Karo adalah Batak. Okelah, saya jawab lagi dengan lebih padat, dengan pertanyaan pula. Siapa yang membawa agama Kristen? Siapa yang membatakkan suku-suku di Sumut ini di luar Suku Melayu? Untuk apa mereka menciptakan gap antara Melayu yang Islam dan suku di luar Melayu yang tidak Islam (yang masih memeluk kepercayaan yang bukan Islam maupun Kristen) dan kemudian mengkristenkannya?

Pertanyaan terakhir jika Karo adalah Batak dikarenakan GBKP, mengapa gereja Pakpak dan gereja Simalungun tidak ada huruf Bnya?

Paling terakhir, jika semua adalah Batak, yang mana Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, dan Mandailing juga Batak, mengapa HKBP tidak ada hurup Tnya? Semestinya, bila gereja mereka itu hanya mencakp ornag-orang Toba, bukan kah sama seperti GBKP untuk Batak Karo maka hal yang sama untuk Batak Toba juga HKBTP?

Saya akan coba jawab pertanyaan saya di atas? Bahwa yang membawa agama Kristen di tanah Batak adalah Penjajahan Belanda. Saat itu ada istilah 3G (coba lihat buku sejarah apa itu 3G). Sebelum ke Tanah Batak sesungguh telah didatangkan desamisionaris ke Tanah Mandailing namun ditolak keras oleh orang Mandailing bahkan misionaris tersebut dibunuh oleh penduduk. Selanjutnya Belanda mendatangkan lagi misionaris berikutnya. Kali ini, ditempatkan di daerah Silindung Tanah Batak.

Nomensen awalnya juga ditolak. Menurut cerita, beliau pernah menderita sakit bernanah di sekujur tubuhnya dan pulang ke Eropah namun beliau tetap melanjutkan keinginannya untuk bisa mengkristenkan Orang Batak. Akhirnya berhasil.

Inilah dijadikan tonggak awal masuknya Kristen ke Tanah Batak dan lahirnya HKBP. Nomensen merupakan Ephorus pertama HKBP disebut Ompui sampai sekarang.

Aceh yang Islam telah lama ingin dikuasai Belanda namun selalu mendapat perlawan keras dari rakyat Aceh. Mereka bahu membahu melawan penjajahan Belanda. Demikian juga di Sumatera Barat.

Bukankah perlawanan Imam Bonjol yang dikenal dengan Perang Paderi itu sebagai bentuk perlawanan rakyat Minangkabau untuk mengusir penjajah dan penegakan kemurnian Islam di Minangkabau? Perang Paderi yang begitu besar pernah membunuh ribuan orang Suku Batak dan yang masih hidup berlarian ke daerah-daerah pegunungan Tanah Batak. Sedangkan di Tanah Deli yang dihuni oleh Suku Melayu telah dapat mereka tahlukkan dengan bentuk kerjasama. Melalui Sultan Deli pada masa itu telah mengikatkan perjanjian untuk menanam tanah-tanah di Deli untuk membuka perkebunan tembakau yang terkenal itu dengan konsesi 75 tahun dengan kompensasi membangun Istana Maimoon, masjid Raya yang ada di Kota Medan sekarang ini.

Walau demikian, bukan berarti tidak mendapat perlawan dari rakyat terutama perlawanan dari Datuk Sunggal yang orang Karo bersama-sama rakyat Karo mengusir penjajah dari tanah mereka yang terkenal dengan Perang Sunggal (anehnya media Belanda menyebutnya Perang Batak/ Batack Orloog, padahal perang ini oleh Suku Karo dan Melayu yang mendapat bantuan dari Alas, Gayo dan Tamian (Aceh). Tujuannya agar Belanda jangan sampai memperluas jajahannya dari Tanah Deli terus ke pegunungan Karo dan Aceh Tenggara.

Di Tanah Batak sendiri Sisingamangaraja XII tampil memimpin perlawanan rakyat terhadap Belanda atas dibawanya ajaran Kristen yang menurutnya merusak Salmen Kembaren 4kepercayaan, adat dan Kebudayaan Batak di Tanah Batak. Terjadilah perang rakyat untuk mengusir Belanda namun akhirnya Sisingamangaraja juga berhasil dibunuh Belanda, sehingga setelahnya ajaran Kristen semakin meluas di Tanah Batak terlebih setelah Belanda membuka sekolah-sekolah untuk orang Batak di Tanah Batak.

Di Tanah Karo, Belanda membawa misionaris Kristen dan menempatkannya di Buluh Awar Kecamatan Sibolangit yang masuk Kabupaten Deliserdang sekarang ini. Tahun datangnya missionari pertama ke Tanah Karo ini (1890) diperingati sebagai tahun “tibanya Kabar Gembira ke Tanah Karo” yang sekarang ini agak-agak dipaksakan sebagai hari lahir GBKP padahal nama GBKP sendiri baru muncul di Sidang Sinodenya yang pertama tahun 1941 di Sibolangit. Terjadi perubahan nama dari sebelumnya Gereja Karo.

Di atas tadi ada saya jelaskan tentang Perang Sunggal, perang yang cukup lama sebagai perlawanan rakyat Melayu dan Karo kepada Belanda namun Belanda menyebutnya Perang Batak/ Batak Orlog. Inilah taktik licik Belanda dengan devide et impera, pecah belah dan kuasai. Belanda membesar-besarkan kejelelekan Suku Batak sebagai suku tak beradab, primitif, perampok, kanibal terhadap suku Melayu sehingga antara Suku Melayu yang Islam mengganggap orang Batak adalah suku yang harus dijauhi dan dibenci, musuh bagi Melayu.

Siapa pun yang tidak Islam disebutnya sebagai Batak. Di sisi lain, orang yang disebutnya Batak dikenalkannya agama Kristen sehingga kemudian semkin mudah menambah gap dengan mempertentangkan antara Melayu yang Islam dengan Batak yang Kristen dan masih Kepercayaan lama.

Cara ini dilakukannya dengan maksud dan tujuan agar perlawanan terhadap Belanda menjadi lemah.

Ada dua kekuatan masyarakat yang tidak mungkin bersatu bahkan saling membenci. Selain itu, agar ada jurang pemisah antara Sumatera bagian Barat/ Minangkabau yang Islam dan Aceh yang Islam sehingga ada di tengah kekuatan pemisah karena beda agama dan kultur. Inilah rekayasa sosial Belanda pada masa itu yang dilakukan oleh ahli-ahli Antropologi Belanda yang tujuannya adalah agar mudah dikuasai dan dijajah.

Cara ini menyebabkan ada proses pembatakan bagi beberapa suku yang salah satunya menciptakan Tarombo Si Raja Batak oleh W.M. Hutagalung yang dimulai sejak tahun 1920. Program pembatakan ini tujuannya adalah agar terjadi pemisahan antara Melayu yang berkultur Islam dan Batak yang berkultur adat istiadat lama dan masuknya Kristen. Selain itu, untuk memisahkan kedekatan dan pengaruh Aceh di bagian Utara Sumatera dan Minangkabau yang berkultur Islam di bagian Barat Sumatera.

Rekayasa sosial ini selain menciptakan gap juga menghilangkan suku-suku yang ada. Dengan tarombo tersebut seolah-olah yang disebutnya BATAK berasal dari satu nenek moyang yang sama yakni Si Raja Batak yang datang dari Langit di Pusuk Buhit yang sesungguhnya oleh para ahli dari suku Batak sendiri hanya sebuah mitos. Di lain pihak, oleh suku Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandaling memiliki riwayat sejarah, bahasa, adat budaya dan wilayah kediaman yang berbeda.

Jika ditinjau dari segi kedekatan bahasa, adat budaya justru orang KARO lebih dekat ke suku-suku Pakpak, Alas, Singkil dan Gayo di Aceh. Semoga bermanfaat. MEJUAH-JUAH, NJUAH-JUAH, salam KARO BUKAN BATAK. Bujur, Lias ate.

1 COMMENT

  1. Saya sangat setuju dengan teori mama SASLingga di atas dan memang demikianlah sesungguhnya.

    Mengenai Perang Tanduk Benua/Perang Sunggal yang oleh media Belanda dikatakan “Perang Batak/Batak Orlog (?)”, Belanda punya kepentingan dan misi kotor di sini dan ingin bangun persepsi kalau Pemerintah dalam hal ini Hindia Belanda sedang berusaha menumpas penjahat, kaum kafir, kanibal, perompak, manusia biadap, dll – semua yang buruk.

    Sehingga, perang ini akan didukung oleh banyak pihak, khususnya penguasa lokal Karo – Melayu dan target lebih besar dan luas, yakni dukungan masyarakat internasional.
    Bandingkan jika perang ini dinamai “Perang Karo” atau “Perang Melayu” yang nota bene dua suku bangsa ini dikenal sebagai rakyat asli Sumatera Timur. Persepsi umum yang terbangun, ialah “Pemerintah berperang dengan rakyat sipil, penduduk asli”. Apa kata dunia.????

    Jadi, penamaan perang yang dilakoni oleh orang Karo dan Melayu yang juga didukung saudara dari Sumatera bagian utara (sekarang NAD) sangat menentukan posisi Belanda saat itu di mata internasional, juga kaum lokal (strategi pecah belah), apalagi eksploitasi Sumtim yang turut didukung pemodal Eropa sangat dipengaruhi oleh isue ini.
    Mejuah-juah KARO BUKAN BATAK!

Leave a Reply