Kolom M.U. Ginting: PENDAPAT BERKEBALIKAN

1
131

M.U. Ginting 2“Pertama berapa kerugian negara dari pajak dan royalti. Berapa kerugian negara akibat kehancuran lingkungan hidup. Apa dampak sosial. Audit itu menjadi dasar untuk kontrak Freeport tak perlu diperpanjang dan take over oleh Indonesia,” kata Ketua Institut Hijau Indonesia Chalid Muhamma sebagaimana dilansir oleh Merdeka.com.

Kalau ini dasar dan titik tolak pemikiran soal Freeport tentu sangat cocok dengan tujuan murni cita-cita nation negeri ini atau sesuai dengan Trisakti Bung Karno. Pendapat-pendapat yang berkebalikan pastilah juga banyak dan harus juga diketahui demi pengetahuan yang lebih mendalam soal Freeport sebagai perusahaan Neoliberal yang sudah berdominasi di sana sejak 1966.

Sudah setengah abad. Mulanya dengan mengorbankan 3 juta orang Indonesia yang dianggap penghalang ke akses SDA dan akses ke emas Papua. Dan, bahwa sudah banyak orang Indonesia yang jadi ’anak didik’ Neoliberal tidaklah perlu kita kebalikan 2bersitegang leher. Bagusnya ialah bahwa orang-orang ini akan keluar tampil sendiri secara terbuka atau tertutup.

Indahnya lagi ialah, semakin banyak yang tak bisa ditutupi. Itulah perubahan sivilisasi, dari tertutup ke terbuka, era KETERBUKAAN.

Setelah selama 50 tahun tertutup, sekarang jelas semakin sulit menutupi kegelapan itu. Bagi kita sudahlah jelas sekali, apalagi dengan melihat semua peristiwa dunia sekarang ini, bahwa adu domba, pertikaian, sampai ke perang, adalah alat ampuh menguasai SDA, pajak rakyat (di Eropah) seperti bikin ISIS untuk merampok SDA Syria dan Irak, kemudian suruh beli senjata dari industri senjata yang butuh untung besar.

Soal Freeport sudah tercipta pertentangan (adu domba) kecil, antara menteri dan ketua DPR dalam soal perpanjangan dan soal saham. Keduanya pada ribut cari untung kecil, untung besar selamat. Seperti di Paris pada sibuk cari ’otak’ teror Paris, untuk menutupi otak sesungguhnya. Hebat memang taktik Neoliberal ini.

”Tetapi bagi saya, saya semakin senang dengan kondisi saat ini. Semakin banyak yang bertentangan muncul ke permukaan, bahkan sampai ke tingkat “elite”. Artinya, gelombang perubahan itu semakin nyata terjadi.” kata Joni H. Tarigan (Pengalengan, Jawa Barat).

Ini adalah kesimpulan dialektis yang sangat berkwalitas tinggi. Dasar semua proses perubahan dan perkembangan, yaitu PERTENTANGAN atau biasa kita sebut KONTRADIKSI.

Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan.

1 COMMENT

  1. ”Tetapi bagi saya, saya semakin senang dengan kondisi saat ini. Semakin banyak yang bertentangan muncul ke permukaan, bahkan sampai ke tingkat “elite”. Artinya, gelombang perubahan itu semakin nyata terjadi.”
    Kalimat ini adalah dari JHT, dalam arikel mulanya salah tulis namanya.
    Minta maaf.
    MUG

Leave a Reply