Transportasi Medan–Dataran Tinggi Karo Belum Bertransformasi

2
135

Oleh: Salmen Sembiring (Berastagi)

 

salmen kembaren 2Tanpa menyebutkan nama armadanya, menurut saya ini adalah cerminan pelayanan bus umum kita. Kalaupun ada yang menyangkal di mulut pasti di hati anda sepakat dengan saya kecuali anda tidak pernah mengunakan  jasa mereka. Selama 5 tahun terakhir, belum ada perubahan yang berarti dalam pelayanan perusahaan yang bergerak di bidang jasa bus penumpang ini.

Hari minggu di awal November [8/11/2015], saya menaiki salah satu armada bus umum trayek Kabanjahe-Medan. Seperti hari Minggu lainnya, penumpang biasanya lebih padat karena efek hari libur. Baik kepulangan anak sekolah, libur keluarga atau para pendaki gunung semua mendukung padatnya penumpang. Begitu berangkat dari di terminal Kabanjahe, penumpang hampir penuh kecuali “bangku tempel” alias kursi tambahan di dekat pintu tengah.

bus 1
Terlihat tangan seseorang memegang besi di jendela bus sambil berdiri di pintu tengah. Di bagian luar bus, terlihat 2 kaki berdiri di atas anak tangga untuk mendaki atap bus.

Di Berastagi, bangku tempel akhirnya diduduki 2 perempuan, seorang Lansia dan seorang gadis. Di dekat pintu tengah, ada 2 pendaki gunung berdiri dan 2 orang di belakang kursi depan atau belakang supir. Artinya, kapasitas penumpang telah melebihi tempat duduk normal.

Belum berhenti di situ saja, kernet masih menawarkan tumpangan bagi siapa saja yang berdiri di pinggir jalan. Akhirnya, di Tongkeh seorang penumpang lelaki dinaikkan lagi. Dia berdiri di pintu tengah bus. Bagian tengah bus begitu padat, bahkan kaki saja tidak bisa bergerak. Akhirnya 2 pendaki minta diturunkan di Doulu karena merasa terlalu sempit. Namun, sepasang pendaki lain naik lagi dari Doulu, dan akhirnya turun juga di Penatapen.

Di Bandarbaru, seorang ayah dan anaknya dinaikkan lagi. Pintu tengah semakin padat. Tepatnya di depan gapura Bumper Pramuka. Sekitar sepuluh pendaki gunung dinaikkan ke atap bus. Tidak kurang 4 perempuan dari yang dinaikkan tersebut. Awalnya mereka tampak tidak ingin naik namun karena diberi informasi bahwa sulit mendapat bus di hari Minggu oleh kernet mereka naik juga.

Mendekati Pancurbatu, ada beberapa penumpang yang turun. Penumpang yang di atap bus akhirnya semua disuruh masuk ke dalam bus dan berdiri di lorong antar bangku. Hal ini dikarenakan ada pos polisi di Pancurbatu yang sering melakukan sweeping penumpang di atap. Begitu lewat Pancurbatu, beberapa pendaki naik lagi ke atap bus sedang yang perempuan disuruh tetap berdiri di dalam.

Kesemua rangkaian ini adalah cermin pelayanan industri transportasi kita yang melemah. Reaksi penumpang turun sebelum tiba di tujuan merupakan bentuk kekecewaan yang mendalam. Hal yang sama terjadi 5 tahun lalu saat saya masih kuliah dan sampai hari ini belum banyak berubah. Pengusaha dan manajemen transportasi seharusnya melakukan transformasi dalam pelayanan ini.

Industri bus ini tidak hanya memindahkan barang melainkan juga memindahkan jiwa manusia. Sebagai contoh menaggapi hal ini adalah menjalankan armada yang bus 2lebih saat hari Minggu. Atau tidak memberi armada disewa oleh pihak tertentu saat hari Minggu.

Ada dua hal yang dapat kita lihat dari rangkaian ini. Pertama, mental pengusaha/ operator  yang “serakah”. Hal ini ditandai dengan menaikkan penumpang melebihi kapasitas dalam keadaan sadar diri. Istilah  lainnya adalah aji mumpung, mumpung sewa padat kenapa tidak (?). Ini juga sikap mental yang salah. Kita tidak pernah tahu berapa banyak yang membatalkan kunjungan ke tempat wisata Karo hanya karena susahnya armada menuju lokasi. Tidak hanya pihak otobus yang dirugikan melainkan juga sendi sendi industri wisata dan akhirnya Pemkab Karo.

Ke dua, lemahnya pengawasan. Seharusnya pengawasan ini juga dilakukan secara ketat di Berastagi, Tongkeh dan Bandarbaru. Bandarbaru dan Berastagi telah memiliki pos polisi namun tidak begitu ketat pengawasannya. Kita tahu, aturan yang jelas dan tegas dapat mengontrol mental yang “sakit” ini.

Ke tiga, tempat ini selayaknya memiliki pos polisi atau Satlantas yang digunakan secara instensif mengawasi hal tersebut untuk perbaikan pelayanan. Selain itu, juga dapat dilakukan oleh Dishub atau gabungan personel Pemda. Sesuai amanat Undang Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa tujuan transportasi adalah menciptakan pelayanan lalu lintas yang aman, selamat, tertib dan lancar.

2 COMMENTS

  1. Hal ini terjadi terutama krn hukum ekonomi demand and supply yg tdk seimbang. Kebutuhan (penumpang) banyak tp fasilitas bus (supply) terbatas shg salah satu solusinya menyediakan layanan transportasi yg mencukupi. Sebenarnya calon penumpang pun tdk akan mau menyabung nyawa duduk diatas atap bus klu mereka yakin akan ada bus lain yg akan melayani mereka.Hal ini diperparah oleh paradigma awak bus yg menganggap penumpang (yg adalh manusia) sm dgn komoditas sayur mayur, yg dr dulu mmg muatan dasar angkuan umum dr T.Karo ke Medan.

    • Pak Sitepu, dilihat dari sisi ekonomi benar juga Pak. Tapi penulis lebih melihat ke sisi mental (Baik Mental Pengusaha Karo juga mental Regulator/Dishub dan Satlantas). Semua hal ini bisa berubah jika pengusaha bus bermental Real Karo yang “mehamat” ras “bujur”. Juga dari regulator dimana sweepeng yang pasti dan tanpa pandang bulu. Ini perlahan lahan pasti tereliminir. Kalo penumpang pasti memilih pelayanan terbaik (termasuk pilihan terbaik diantara terburuk)

Leave a Reply