Awal Pembatakan Suku Karo

1
748

Oleh: Sada Arih Sinulingga (Kabanjahe)

 

Sada Arih SinulinggaPembatakan Suku Karo oleh Belanda untuk memecah-belah (devide et impera) antara Suku Melayu dengan Suku Karo. Suku Karo jika dirunut ke belakang adalah dahulu disebut sebagai Orang Haru / Aru. Disebut demikian karena wilayah ini diyakini sebagai bekas Kerajaan Haru yang terkenal itu dan sempat hendak ditaklukkan oleh Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada menyebutnya sebagai salah satu daerah yang hendak ditaklukkannya dalam isi Sumpah Palapa.

Ekspansi memperluas jajahannya diyakini membuat semakin lemah kekuasaan Kerajaan Haru. Rakyat Haru banyak yang mencari tempat-tempat aman di daerah pegunungan yang kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan baru sebagai wujud pemerintahan yang masih bercorak Haru/ Aro yang dikenal sebagai Karo saat ini.

mekar 3
Mesjid Raya Medan

Setelah runtuhnya Haru maka Suku Karo atau Rakyat Haru tidak lagi pernah dipimpin oleh satu pemerintahan rakyat, tapi melainkan menjadi beberapa kerajaan yang dikenal dengan sibayak. Di saat melemahnya Kerajaan Haru, datang lagi utusan Kerajaan Samudera Pasai dari Aceh untuk melakukan exspansi wilayahnya ke arah bekas Kerajaan Haru tersebut dengan mengawini Putri Hijau atau Sehngenana beru Sembiring Meliala.

Keinginan mempersunting Putri Hijau menjadi alasan utama bagi Sultan Samudera Pasai masa itu menaklukkan Haru. Meletuslah perang antara Pasukan Putri Hijau sepanjang Delitua, Labuhan Deli dan Hamparan Perak. Dengan sebuah tipu muslihat, pasukan Aceh menebarkan perak di sekitar terjadinya pertempuran menyebabkan para pasukan Putri Hijau jadi lengah dan kalah karena memungut perak yang mereka lemparkan. Tempat itu sampai sekarang dikenal dengan sebutan Hamparan/ Amparen Perak.

Kekalahan ini praktis menyebabkan daerah Haru nyaris tak bertuan. Sultan Samudera Pasai pada masa itu kemudian mengutus dan menempatkan Gocah Pahlawan (yang panglima Perang Aceh dalam perang menaklukkan Putri Hijau)  sebagai perwakilan Sultan Samudera Pasai di Deli. Gocah Pahlawan nantinya melepaskan diri dari Aceh dan mendirikan kerajaan baru dikenal sebagai Kesultanan Deli.

Dahulu istananya Sultan Deli di Labuhan Deli. Asosiasi Perkebunan Tempai Deli (Deli Maschapij) kemudian menghadiakn Istana Maimoon dan Mesjid Raya di lokasinya yang sekarang.

Gocah Pahlawan mengawini Nang Baluan beru Surbakti, saudari kandung Datuk Sunggal yang dari merga Karo-karo Surbakti. Oleh Datuk Sunggal, dinobatkanlah Gocah Pahlawan sebagai Sultan yang pertama di Kesultanan Deli.

mekar 4
Datuk Sunggal yang dari Karo-karo Surbakti

Sampai sekarang masih berlaku dalam pengangkatan Sultan Deli maka Datuk Sunggal yang mensyahkan karena kedudukannya sebagai Ulun Jandi (pemilik tanah),  kalimbubu bagi Kesultanan Deli. Sejak itulah menurut saya di Deli /Medan sekitarnya berkembang kelompok masyarakat dengan corak agama Islam yang dikenal sebagai Suku Melayu . Oleh karena itu, Suku Melayu adalah orang-orang yang datang telah beragama Islam dan bercampur dengan orang-orang Karo yang menjadi Melayu .

Mereka disebut sebagai Suku Melayu karena beragama dan berbudaya Islam. Jika pun ada perbedaan diantara keduanya tidaklah lebih hanya soal beda budaya karena keyakinan yang berbeda. Melayu yang Islam dan Karo yang masih beradat dan berbudaya sebagai suku Karo.

 

 

Pembatakan Suku Karo

Pembatakan terhadap Suku Karo merupakan taktik Penjajahan Belanda untuk memecah belah (devide et impera ) antara Suku Karo dan Suku Melayu di Sumatera Utara. Sebelum kedatangan penjajahan Belanda di Tanah Deli/ Tanah Karo bekas Kerajaan Haru/Aro, Suku Karo dan Suku Melayu dapat hidup rukun dan berdampingan. Walaupun beda budaya, adat dan sistim kepercayaan/ relegi, kedua suku ini hidup bersama dalam suatu wilayah.

mekar 5
Gambaran orang-orang Karo di Masa Kolonial yang saat itu masih bisa ditemukan juga di Medan dan daerah sekitarnya.

Suku Karo adalah kelompok masyarakat yang diyakini masih menjunjung kuat nilai-nilai luhur yang diwarisi nenek moyangnya, sedangkan Melayu merupakan kelompok masyarakat baru saat itu yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam oleh pendatang. Sebagian orang-orang Karo belakangan dikenal juga sebagai Orang Maya-maya atau Melayu Kampung setelah masuk Islam. Ada dua budaya, adat dan sistim kepercayaan yang berbeda namun pada kenyataannya dipimpin oleh pemerintahan yang satu pada masa itu di Deli yang, bagi orang-orang Karo, merupakan Karo Jahe (Karo Hilir). Sebagian lagi dari wilayah Karo (Taneh Karo) adalah Karo Dataran Tinggi (Karo Gugung).

Kesultanan Deli yang bercorak Islam namun rakyatnya ada dua budaya yakni Budaya Melayu dan Budaya Karo. Keduanya kita sebut masing-masing sebagai Suku. Datuk Sunggal (Serbenaman) yang bermarga Surbakti, Datuk Sinembah Tanjung Muda (Patumbak) bermarga Barus, Datuk XII Kuta Hamparan Perak bermarga Sembiring Pelawi /Keturunan Guru Patimpus Sembiring Pelawi pendiri kota Medan, dan Datuk Sukapiring, semuanya dari Suku Karo.

Kedatukan ini kedudukannya perwakilan/ pemimpin wilayah yang langsung dibawah Sultan. Ini jelas sekali jika Suku Melayu dan Suku Karo bisa hidup berdampingan, mulai dari wilayah Medan ke arah pegunungan masih banyak perkampungan Suku Karo dan Kerajaan Karo. Di Sunggal sendiri pada masa itu terdapat rumah adat Karo (foto). Selain itu, Panglima Hali di Pulo Berayan dikenal bermarga Tarigan Sibero (orang Karo). Demikian juga nama-nama daerah di Kota Medan masih memakai bahasa Karo selain nama Medan yang berasal dari kata Madan yang atinya sembuh dari suatu penyakit.

Perlawanan Datuk Sunggal terhadap Belanda mendapat bantuan dari orang-orang Karo dan dari Aceh seperti Suku Alas, Suku Gayo dan Suku Tamiang menyebabkan Belanda mendapat kesulitan untuk menaklukannya. Bangsal-bangsal tembakau Belanda pada malam hari sering dibakari oleh penduduk. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat bekerjasama dengan Datuk Sunggal, namun Suku Melayu di bawah pimpinan Datuk Sunggal dan Panglima Nabung Surbakti tidak pernah berhasil ditaklukan.

Peperangan ini telah menjadi perhatian Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia/ Jakarta dan Pemerintahan Belanda saat itu. Walaupun Kesultanan Deli telah dapat diajak untuk bekerjasama namun tidak serta merta Datuk Sunggal tunduk atas perjanjian antara pihak Sultan dengan pihak Belanda. Bagi Datuk Sunggal bersama rakyat Suku Melayu dan Suku Karo, bahu membahu mengusir penjajah dari Tanah Sunggal dan sekitarnya seperti Binjai, Langkat dan ke arah pegunungan.

Taktik Belanda untuk memisahkan antara Suku Melayu dan Suku Karo adalah menanamkan kebencian kepada keduanya agar tidak mendapat simpati meluas dari rakyat banyak. Suku Karo disebutnya sebagai Batak, yang perampok, pemerkosa, pencuri, tak beradab, kanibal dan bermacam-macam tuduhan keji yang ditujukan kepada pasukan Datuk Sunggal. Sebagian besar anggota pasukan Datuk Sungal berasal dari Suku Karo.

Cara seperti ini lazim sekali dilakukan Belanda dengan taktik devide et impera. Di lain pihak, Suku Melayu didengungkannya lagi kepada orang-orang Karo sebagai suku yang pemalas, kawin semarga dan macam-macam tuduhan lainnya agar orang-orang Karo memandang Melayu rendah. Bahkan, untuk suku Jawa yang saat itu didatangkan dari Jawa sebagai pekerja perkebunan disebutnya sebagai orang yang suka memakan kutu.

Kata Batak disematkan kepada Suku Karo karena Belanda ingin menanamkan kebencian kepada Suku Melayu yang telah Islam, yang telah beradab, sedangkan Orang Batak adalalah manusia yang harus dijauhi karena sifatnya yang batak.

Sebenarnya, ini hanya bertujuan menunjukkan sifat bukan menunjukkan suku. Dikatakan Belanda Batak karena yang ia lihat ada sekelompok masyarakat di pedalaman yang masih primitif dan kanibal dengan bermacam-macam kejahatan yang mereka besar-besarkan.

Kebenciannya kepada pejuang yang dianggapnya menganggu kekuasaannya tersebut, Belanda menyebutnya sebagai Batak. Belanda tahu memanfaatkan situasi jika Melayu sangat tidak suka dan sangat takut kepada Batak. Untuk memisahkan dan melemahkan Perang Sunggal agar tidak dibantu Suku Melayu dibatakkannyalah Suku Karo .

Untuk berikutnya juga didatangkan misionaris Kristen terhadap Suku Karo. Ini juga merupakan taktik pemisahan lebih dalam antara Suku Melayu yang Islam dan mengkristenkan Suku Karo. Pada akhirnya, ada dua hal jarak besar pemisah antara Suku Melayu dengan Suku Karo yakni pembatakannya dan pengkristenannya.

Semoga bermanfaat.

Catatan: Foto head cover adalah sebuah bangunan bergaya arsitektur Karo (tempat penyimpanan pusaka) yang berada di depan Istana Maimun, Medan.

1 COMMENT

Leave a Reply