Kolom M.U. Ginting: Terorisme, Senjata, Bank dan Proyek

1
162

M.U. Ginting 2Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, menilai kinerja Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) selama ini gagal. Bahkan, dia menganggap upaya pemberantasan teror selama ini seolah menjadi proyek.

“Penanganan terorisme harus serius dan sungguh-sungguh. Selama ini, seolah-olah terorisme harus ada, kalau tidak ada, maka tidak ada lagi pekerjaan,” kata Din usai memberikan kuliah umum Mahasiswa Pasca Sarjana, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sol, sebagaimana diberitakan oleh Merdeka.com [Rabu 25/11].

Din Syamsuddin terlihat sangat jeli mengikuti perubahan dan perkembangan jaman. Dia menggambarkan perubahan sangat tepat. Dulu terorisme dipandang sebagai ’kesucian’ agama atau ideologi tertentu, seperti pandangan terhadap ideologi ’sosialisme/ komunisme’ atau ’demokrasi dan kebebasan’. Sekarang terorisme dibikin sebagai proyek cari kerja, kelihatannya memang benar juga, tidak lagi se’suci’ dulu.

ISIS adalah tempat cari kerja bagi orang-orang kriminal, dan anak-anak muda yang gampang tertipu dengan iming-iming duit dan senjata di tangan. Seakan-akan punya teror 2kekuasaan tak terbatas dengan restu bebas membunuh dan merampok siapa saja yang ’kafir’ yang bukan Islam seperti di Irak dimana banyak suku-suku bangsa minoritas yang punya kepercayaan sendiri atau Kristen.

Soal ISIS sangat jelas tujuan sebenarnya sejak semula yaitu merampok dan menguasai SDA (tambang minyak) di Syria dan Irak. Lantas, mereka disuruh beli senjata canggih untuk perang. Senjata canggih dan perlengkapan perang dibeli dari pedagang senjata internasional,  dibeli juga a.l. dari Perancis atas restu presiden Hollande. 

Tidak perlu ragu bahwa di belakang pabrik senjata ialah bankir/ rentenir internasional yang cari duit dengan untung berlipat ganda dari perang yang dimana saja bisa dibangkitkan. Hollande kelihatan sial memang, jual senjata ke ISIS kemudian harus membom ISIS, lalu Paris dibom pula oleh ISIS. Katanya balas dendam karena Perancis ikut membomi ISIS di Syria dan Irak.

Secara politis, ISIS dimanfaatkan untuk menghalangi perkembangan Islam Shia (Iran) di Timur Tengah, demi kepentingan Islam Sunni (Arab) dan kepentingan Israel. Dalam taktik cari profit penjualan senjata ini, Putin juga di’aktif’kan. Putin masih berada di jaman Soviet walaupun dunia sudah berubah. Dia disuruh memihak Assad sebagai boss kuat di ujung satunya dan di ujung lain NATO. 

Semua butuh senjata, mudah-mudahan bankir di belakang senjata Putin bukan bankir di belakang senjata NATO. Tetapi, kemungkinan itu selalu ada, mengingat kekuasaan bankir internasional ini bukan main besar pengaruhnya. Juga karena dalam soal duit, semua orang beragama sama.

Kalau ketua MUI Din Syamsuddin mengatakan bahwa terorisme ini sekarang adalah ”proyek”, begitulah proyek itu berjalan dengan semua latar belakangnya yang semakin jelas dalam era KETERBUKAAN. Dulu memang belum jelas sekali soal adanya ’proyek’ ini.

1 COMMENT

  1. Pencerahan ke masyarakat akan berfungsi sebagai akumulasi kekuatan sejati rakyat, kekuatan yang tak bisa dibandingkan dengan senjata apapun. Saya teringat lagi kata-kata Sutradara Ginting ‘pencerahan dan harapan’. Sutradara ketika hidupnya memang selalu berusaha memberikan pencerahan dan sekali gus juga berusaha menghidupkan harapan dalam hati publik negeri ini. Cita-cita pencerahan dan harapan ini sangat terlihat imbasnya sekarang ini, dan sangat laju perubahan dan perkembangannya karena era internet, era digital informasi global yang melibatkan semua manusia dan semua lapisan sosial. Dan yang paling membanggakan lagi bagi kita orang Indonesia ialah bahwa di Indonesia perubahan itu sangat cepat dan didepan sekali dibandingkan denan negeri-negeri lain.
    Memang masih menjadi tanda tanya juga mengapa Indonesia bisa didepan dalam perkembangan ini. Jawaban pertanyaan ini menurut pendapat saya ialah karena kultur, budaya dan way of thinking Indonesia itu sendiri yang memungkinkan perubahan cepat ini. Salah satu ialah adanya sifat kejujuran dan ketulusan yang sangat mendasar dan mendalam dalam sanubari mayoritas rakyat negeri ini, sifat yang sudah ribuan tahun.
    Salah satu perubahan dalam tingkat pikiran manusia itu ialah soal terorisme. Dikalangan umum dan terutama dikalangan elit dan akademisi negeri ini sudah menyimpulkan terorisme adalah sejenis ’proyek’ menciptakan destabilisasi, adu domba, kerusuhan dan perang demi duit, artinya pada dasarnya adalah ’proyek duit’ (profit) bagi bisnis senjata yang dibelakangnya adalah bankir/rentenir internasional. Contoh yang sangat jelas ialah ISIS, dibangun untuk merampok dan menguasai SDA (sumber minyak) Syria dan Irak.
    ISIS dari hasil duit minyak itu, lantas beli senjata modern dan alat peledak modern dari pedagang senjata atau industri senjata termasuk dari Perancis atas restu esmi dari presiden Hollande. Tetap situasi kemudian berkembang sedemikian sehingga memaksa Hollande harus membomi ISIS di Irak dan Syria, dan tentu saja secara logis ISIS balas dendam pula, bikin teror Jumat berdarah di Paris menewaskan 130 orang. ISIS terus mengancam akan bikin teror sehingga menciptakan Fear Factor didalam masyarakat, faktor mana secara psikologis penting bagi kekuatan pendiri ISIS supaya lebih gampang mengendalikan opini umum dan sikap publik kalau orang-orang berada dalam ketakutan dan terancam.
    Satu lagi pendapat akademis yang berkwalitas tinggi ialah analisa bahwa Freeport Papua ’melegalkan segala cara’ demi perpanjangan kontrak. Ini dalam hubungan dengan rekaman gelap soal ketua DPR Setnov. ‘Melegalkan seala cara’ ini harus diwaspadai supaya jangan sampai ada korban pula seperti di Paris atau di era 1965. Tetapi kalau sudah tahu kalau golongan asing ini ‘melegalkan segala cara’ tentu kita akan lebih waspada.

    Indonesia memang hebat menilai hakiki persoalan penting publik.
    Maju terus Indonesia, terdepan di dunia dalam keterbukaan dan anlisa persoalan penting kemanusiaan.

    MUG

Leave a Reply