Kolom Alexander F. Meliala: Mengapa Gerakan KBB Baru Ada Sekarang?

1
139

alexanderOrang Batak (W.M. Hutagalung) telah menulis buku tentang Batak (PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak) pada tahun 1926, sementara orang Karo (P. Tamboen) baru menulis buku tentang Karo (Adat Istiadat Karo) pada tahun 1952. Jadi, di sana ada perbedaan 26 tahun orang Batak lebih dulu menggeluti dunia tulis menulis dalam bentuk buku dibandingkan dengan orang Karo.

Sekarang, mari kita bayangkan. Betapa dahsyatnya pada jaman dulu pengaruh informasi yang disampaikan melalui buku. Saat itu, teknologi informasi masih belum ada sama sekali sebagaimana seperti yang kita nikmati saat ini, sehingga kita tentu meyakini, bahwa orang-orang yang dapat mengakses informasi melalui tulisan (buku) pada saat itu merupakan orang-orang berpendidikan dan berasal dari kalangan kelas atas.

Ketika orang-orang berpendidikan dan kalangan kelas atas telah terpengaruh dengan tulisan yang didapatnya dari media buku pada saat itu, maka tentu informasi yang dia dapakan akan kembali diceritakan kepada masyarakat lain (anak kuta-kuta) yang dia jumpai. Dapat pula kita bayangkan, bahwa masyarakat akan cenderung langsung percaya dengan cerita-cerita yang disampaikan oleh mereka yang dianggap lebih berkelas dan berpendidikan.

Cerita-cerita yang ditulis melalui buku, seperti misalnya yang dituliskan tentang ‘Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak’ yang sebelumnya dibaca oleh kalangan buku 4terdidik dan kelas atas, serta kemudian diceritakan kembali kepada masyarakat (anak kuta-kuta), maka selanjutnya dari ‘anak kuta-kuta‘ akan kembali tersebar dari mulut ke mulut, akhirnya diterima sebagai ‘kabar kebenaran’ oleh kalangan masyarakat luas.

Saat sekarang, banyak pertanyaan bermunculan terkait kehadiran gerakan Karo Bukan Bukan Batak (KBB). Salah satu pertanyaan yang kerap dipertanyakan terkait gerakan ini adalah “kenapa baru sekarang ada gerakan KBB, sementara orang pada zaman dulu tidak pernah mempermasalahkannya?”.

Dengan ilustrasi di atas, maka akan langsung terjawab pertanyaan tersebut, yaitu bahwa masyarakat pada jaman dulu sangat sulit mendapatkan informasi sebagaimana yang kita dapatkan saat ini.

Ketika informasi sangat minim didapatkan, maka saat ada orang lain menyampaikan sebuah cerita, maka cerita itu akan langsung dianggap sebagai berita benar, karena sangat sulit melakukan cross check terkait benar salahnya. Ini tentu berbanding terbalik dengan saat sekarang, dimana sebuah cerita tidak benar (berita hoax) yang kita terima dari orang lain, maka seketika cerita tersebut dapat langsung di cross check kebenarannya.

Kini setiap orang dapat dengan mudah mengakses informasi secara melimpah. Tentu, dengan melimpahnya informasi yang berseliweran di hapadan kita, maka kita tentu tidak mau menjadi korban ‘kabar kebenaran’ seperti halnya yang telah dialami oleh para pendahulu kita terdahulu. Seiring itu pula, gerakan KBB kian meluas dan makin banyak pula generasi muda Karo membicarakannya.

1 COMMENT

  1. “Tentu, dengan melimpahnya informasi yang berseliweran di hapadan kita, maka kita tentu tidak mau menjadi korban ‘kabar kebenaran’ seperti halnya yang telah dialami oleh para pendahulu kita terdahulu.” (AFM). Kesimpulan yang bisa dikatakan semacam penemuan baru, dan terasa betul sekali. Tak mau lagi kita jadi korban ‘kabar kebenaran’ seperti pada jaman dimana sebagian besar manusia masih butahuruf. Kabar soal KBB semakin mantap karena bisa di i cross check oleh siapapun, termasuk buku th 26 atau 52 itu. Apalagi kalau KBB ditinjau dari peni emuan arkeologi terakhir fosil kuno Karo dan Gayo yang sudah berumur lebih dari 5000 tahun sedangkan penemuan arkeologi keberadaan orang Batak baru berumur 200-700 tahun. Jadi tak mungkin Karo termasuk Batak. Ini kebenarannya bisa di cross check sekarang oleh siapa saja sehingga kebutuhan jadi ‘anak kuta-kuta’ semakin berkurang.

    MUG

Leave a Reply