Kolom M.U. Ginting: Terorisme Bukan Disebabkan Agama?

0
166

M.U. Ginting 2Wakil Presiden JK bilang bahwa terorisme ”bukan disebabkan ajaran agama”. Din Syamsuddin bilang, jangan lagi melihat terorisme dengan ’kaca mata kuda’. Menurut Din Syamsuddin, sekarang terorisme sudah merupakan satu pekerjaan atau proyek.

“Seolah-olah terorisme harus ada, kalau tidak ada, maka tidak ada lagi pekerjaan,” kata Din.

Pekerjaan atau proyek ini tentu ada tujuannya, karena tak mungkin bikin proyek tanpa tujuan.

Seperti ISIS punya proyek jelas sejak semula, yaitu merampok dan menguasai SDA (sumber minyak) Syria dan Irak. Lantas ISIS ’dipaksa’ beli senjata canggih dari pedagang senjata atau fabrik senjata modern termasuk dari Perancis dengan restu presiden Hollande.

ISIS butuh senjata untuk keperluan dan meneruskan perangnya menguasai SDA dan terus menjual hasil minyak besar-besaran sehingga secara finansial ISIS tak ada soal, termasuk biaya rekrut serdadu dan personalnya di banyak negeri. Dari segi politis ISIS digunakan untuk menahan kemajuan muslim Shia demi kepentingan pihak Arab yang Sunni dan juga Israel.

Masuk ISIS umumnya orang-orang kriminal dan anak-anak muda pengangguran/ kriminal dari kantong-kantong miskin kwartir banyak kota Eropah. Orang-orang ini fear factor 2bangga sekali jadi anggota ISIS. Banyak juga anak-anak muda yang polos saja yang tertipu karena iming-iming ‘surga’ atau gaji lumayan.

Daud S. Sitepu bilang: ”Gerakan teroris banyak ditangkal dan tidak banyak aksi mengerikan lagi seperti masa lalu dimana bom banyak meledak merenggut korban jiwa yang jumlahnya banyak sekali”.

Betul memang masa lalu banyak ledakan mengerikan, yang sekarang sudah diketahui adalah bagian dari proyek semesta terroris yaitu menciptakan Fear Factor di kalangan masyarakat sehingga lebih gampang dikendalikan secara opini dan sikap politiknya.

Fear Factor adalah alat psikologis yang punya pengaruh besar terhadap pikiran dan kejiwaan seseorang. ISIS bikin Fear Factor yang betul-betul sangat buas terhadap kemanusiaan termasuk bom Paris . Menciptakan Fear Factor ini tentu harus dengan melegalkan segala macam cara termasuk destabilizing atau adu domba dalam masyarakat, atau lobi-lobi pejabat negara.

Seperti belakangan ini dalam soal Ketua DPR Setnov. Dikatakan oleh Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Parahyangan (Bandung) Asep Warlan Yusuf bahwa rekaman pembicaraan Setnov membuktikan “Freeport menghalalkan segala cara” dalam tujuannya memperpanjang kontrak Freeport.

Selanjutnya Daud S. Sitepu (Papua) bilang: “Namun demikian, yang namanya waspada dan anstisipasi tetap perlu. Apalagi saat ini gerakan terorisnya mendunia gabung dengan kekuatan luar. Apakah dianggap proyek rutin atau apapun namanya, yang utama adalah jangan sampai disusupi ke negara kita. Toh yang korban juga rakyat Indonesia.”

Jadi, selalu dipentingkan ialah keselamatan rakyat kita jangan jadi korban ’proyek’ teroris ini.

Ini sejiwa juga denga apa yang dikatakan Joni H. Tarigan (Pengalengan, Jabar): “Tetapi, bagi saya, saya semakin senang dengan kondisi saat ini. Semakin banyak yang bertentangan muncul ke permukaan, bahkan sampai ke tingkat “elite”. Artinya, gelombang perubahan itu semakin nyata terjadi. Keyakinan ini juga membuat saya pribadi semakin bergairah menjalani kehidupan ini, semakin terpampang masa depan yang lebih baik. Saya juga yakin, masa depan yang lebih baik itu akan terjadi ketika kita menempuh tangga-tangga perjuangan.”

Ini sungguh meyakinkan dan menginspirasi!

Leave a Reply