Gamka Tuntut Pemkab Karo Tangani Krisis Air Minum Kabanjahe

1
205

B. KurniaB. KURNIA PARGAULAN P. KABANJAHE. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gamka (Gerakan Mahasiswa Karo) melakukan hunjuk rasa ke Kantor PDAM Tirta Malem di Kabanjahe [Selasa 1/12]. Mereka menuntut  penuntasan krisis air bersih di Kabupaten Karo khususnya di Kota Kabanjahe.

“Krisis air bersih ini telah menjadi momok puluhan tahun. Gerakan ini sekaligus juga menunjukkan keprihatinan terhadap warga yang membutuhkan air bersih untuk Mandi, Cuci dan Kakus (MCK),” demikian dipaparkan oleh salah seorang koordinator lapangan Loyd Munte (32) pada wartawan di sela-sela menyampaikan tuntutan mewakili para rekannya.

Loyd melanjutkan, penuntasan krisis air bersih di Kabanjahe dan sekitarnya harus segera dilakukan. Harus menjadi prioritas bagi Bupati Karo saat ini agar tidak menjadi suatu hal kemunafikan sebagai pemimpin di Bumi Turang ini. Sudah lebih dari 30 tahun masyarakat Kabanjahe alami krisis air bersih. PDAM Tirta Malem khususnya Bupati Karo, selaku pelayan masyarakat di Kabupaten Karo sebagai tupoksinya menjadi penyedia atau pemasok air bersih ke penduduk terkesan tidak peduli.

“Padahal, perusahaan ini milik Pemkab. Alasan pasokan air terganggu karena pompa air milik perusahaan rusak, masyarakat bisa maklum. Tapi, bila tidak kunjung diperbaiki, ini kesannya PDAM Tirta Malem mengabaikan keluhan  masyarakat selaku konsumennya,” kata Loyd.

Ditambahkan lagi, jika memang pimpinan  perusahaan tidak bisa mengatasi masalah ini,  seilahkan mundur secara terhormat.

gamka
Massa Gamka saat berorasi di Kantor Tirta Malem di Jl. Jamin Ginting 9, Kelurahan Kampung Dalam (Kabanjahe).

“Bila Pemkab Karo memang tidak miliki dana penggantian pompa mesin air yang rusak, atas nama masyarakat kita bisa bantu menyumbang. Kami warga masyarakat siap membantu atau mengambil solusi terbaik mengatasi krisis air minum di kota Kabanjahe ini,” ujar Loud Munte dengan nada kesal.

Menurut pengakuan Loyd, untuk sumbangan dana  membantu mesin pompa yang rusak milik PDAM Tirta Malem telah dikumpulkan dana  sebesar Rp 325.000 sambil menunjukan.

Menyahuti tuntutan Gamka, Dirut PDAM Tirta Malem Enda Putri br Brahmana mengakui pemasokan air bersih ke warga sering tersendat atau tidak lancar, tapi itu disebabkan oleh mesin pompa  yang rusak belum diganti.

“Kita telah sampaikan masalah ini ke Badan Penyediaan Anggaran Pemkab Karo, namun sampai saat ini, belum ada jawaban. Masyarakat jangan menuntut ke PDAM Tirta Malem, tapi sampaikan keluhannya ke bupati langsung,” katanya.

Pantuan wartawan, massa Gamka selepas mendapat jawaban Dirut PDAM Tirta Malem dan meninggalkan uang Rp 325.000 di depan pintu masuk perusahaan bergerak ke Kantor Bupati, dikawal personil Polres yang dipimpin oleh Kompol Aswat Tarigan. Karena Bupati kebetulan tidak berada di tempat, mereka diterima oleh asisten Bupati.

Massa Gamka setelah mendapat jawaban asisten bupati bergerak pulang. Mereka berjanji akan melakukan aksi melibatkan massa lebih banyak sampai tuntutan ini dikabulkan.

1 COMMENT

  1. Bagus sekali inisiatif Gamka ini. Beberapa soal yang bikin air macat:

    1. KORUPSI. Walaupun ini sudah tradisi tetapi mahasiswa sebagai pelopor dalam semua pemikiran dan gerakan, soal ini bisa diperdalam dan diperluas dimana ‘kuncinya’. Selanjutnya menempatkan semua soal yang sudah dikenal ditaruh diatas meja sehingga publik bisa ikut ambil bagian. Semakin banyak publik ikut, semakin banyak pendobrak kebobrokan pejabat.

    2. Persaingan, misalnya Aqua, juga perlu penelitian sehingga tidak keliru bikin keputusan/kesimpulan.

    3. Politik PENGALIHAN ISU, apakah ada disini, shingga publik melupakan persoalan sesungguhnya (1&2).

    4. Soal kepemimpinan, yang sangat menentukan proses penyelesaian atau tugas apa saja. Pemimpin yang bagus/mengabdi sudah separuh lebih kerjaan selesai. Ini tentu bisa dihubungkan dengan bupati lama dan yang sekarang menjabat. Dan juga siapa nanti jadi bupati baru.

    Gamka sudah mulai gerakan ini, jangan berhenti ditengah jalan. Dan perbarui selalu ide permulaan bagaimana supaya gerakan yang sudah dimulai ini tidak berhenti setelah habis demo. Lanjutannya dan terusannya yang terus konsisten, itulah yang menentukan nanti. Faktor penting selalu ialah bagaimana supaya lebih banyak publik yang ikut aktif, sehingga bisa menciptakan situasi dimana nanti sudah tak enak lagi bagi pejabat bersangkutan kalau tetap tak menghiraukan tuntutan publik. Keterbukaan dan keikutsertaan ribuan publik bikin tak ada tempat bagi kegelapan, termasuk bagi pejabat yang ‘malas’ tak bersemangat mengabdi pekerjaan. Bisa disebarkan formula Ahok, pertama: pecat, kedua: pecat, dan ketiga: pecat. Ini perlu karena masih banyak orang Karo lain yang mau mengabdi daerahnya. Penggantian dan pembaruan lebih penting daripada mempertahankan yang lama.
    Dulu sudah pernah ketika menghadapi bupati karo jambi, tetapi lanjutannya tadi . . . tak ada karena dianggap udah selesai dengan lengsernya Karo Jambi. Seakan-akan tujuannya cuma itu saja. Apakah memang begitu saja ketika itu?
    Contoh secara nasional sekarang ialah soal Setnov. Tujuan bukan ganyang Setnov, tetapi SUMBER DUIT papua itu jangan lagi dikuasai neolib. Soal Setnov bagi Freeport adalah soal PENGALIHAN ISU, tetapi bagi kita berfungsi sebagai katalisator menyalakan lampu perjuangan, dan telah memungkinkan terbongkarnya semua persoalan gelap Freeport neolib itu. Setnov dan Sudirman Said bisa dilihat positifnya, walaupun kedua orang ini ingin perpanjangan Freeport karena duit/saham. Pendapat-pendapat yang bertentangan selalu buka jalan baru ke diskusi/debat yang lebih mendalam, sehingga lebih cepat mencapai kebenaran yang lebih ilmiah. Dari segi ilmu pengetahuan suatu pendapat/penemuan jadi ilmiah kalau sudah tak ada argumentasi sebaliknya yang mampu menentang. Karena itu tak mungkin ada pendapat yang ilmiah kalau tak tahan diuji dari pendapat kebalikannya. Mahasiswa tentu lebih banyak mengerti soal-soal bertentangan ini.
    Salam mejuah-juah, maju terus demi Karo.

    MUG

Leave a Reply