Jalan Tembus Gunung Merlawan Dibuka Kembali

0
321

Oleh: Drs. Sada Arih Sinulingga SH MH 

 

Sada Arih SinulinggaJalan tembus dari Taburen menuju Gunung Merlawan dibuka kembali. Jalan sepanjang 2 Km ini dahulu kala sejak zaman Sibayak Gunung Merlawan yang bermerga Sinulingga sudah merupakan jalan vital yang menghubungkan Taburen ke Gunung Merlawan sebagai ibu negeri Sibayak Gunung Merlawan.

Saat itu, menurut tetua kampung yang masih hidup, jalan ini telah dapat dilalui sepeda motor jenis Harley yang dikendarai oleh Sibayak Itam Sinulingga jika ada keperluan rapat di balai kerajaan di Taburen (sekarang dijadikan SD). Demikian juga bila dia pergi ke Sunggal atau ke Sultan Deli di Medan.

Sibayak Itam Sinulingga adalah raja terakhir yang memerintah Gunung Merlawan sampai Indonesia Merdeka. Sejak kematiannya, sistim pemerintahan rakyat sudah dihapus dan kedudukannya tidak lagi berlanjut akibat dinyatakan tunduk kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jalan yang dilalui Sibayak dan oleh penduduk digunakan untuk jalan ke perladangan ini sejak lama sudah tidak dipergunakan karena telah ada jalan yang menghubungkan Gunung Merlawan ke arah Namomirik, tembus ke jalan protokol gunung merlawqn 1menuju Simpang Tuntungan (Pancurbatu). Namun, saat ini, dirasakan perlu dibuka kembali untuk memperpendek jarak tempuh ke jalan besar Kutalimbaru—Pancurbatu. Ini juga sekaligus menghargai sejarah masa lampau jika sejak lama telah ada akses jalan cukup baik yang dapat dilalui roda dua.

Pembukaan jalan ini dilakukan menggunakan alat berat serta dibantu oleh warga setempat dengan bergotongroyong. Dananya adalah dukungan swadana masyarakat yang perladangannya melewati jalan tersebut.

Masyarakat merelakan tanamannya dikorbankan tanpa digantirugi di sepanjang jalan. Bahkan ada rumah atau teras rumah yang harus dibongkar.

“Ini murni swadaya masyarakat. Direncanakan dibuka sepanjang 2 KM dan lebar 3,5 M,” kata Ronson Sinulingga didampingi Sejahtera Sinulingga selaku tokoh masyarakat setempat.

Masyarakat rela mengorbankan tanamannya dengan tidak meminta ganti rugi bahkan tenaga dan dana pun bersedia menbantu namun sampai sekarang jalan yg bersejarah ini belum dapat dilalui oleh mobil pengangkut barang-barang hasil pertanian. Apalagi di musim hujan, hampir tidak bisa dilalui karena belum dilakukan pengerasan.

Oleh karena itu, mewakili masyarakat kami mengharapkan ada perhatian Pemerintah Kabupaten Deliserdang dalam hal ini Bupati Deliserdang untuk membenahinya. Janganlah kami dianaktirikan sepertinya kami jadi warga Suku Karo yang menumpang di Deliserdang. Padahal kami sudah beratusratus tahun sejak nenek moyang kami menyatu dengan tanah Gunung Merlawan.

gunung merlawan 3
Acara pemindahan kerangka Negel br Sinulingga dari Kabanjahe ke Kebun Jeruk (Tebing Tinggi). Negel adalah istri dari Controleur Simalungoen en Karolanden di masa kolonial. Dia adalah putri Sibayak Gunung Merlawan. Foto: ITA APULINA TARIGAN

Dahulu, Gunung Merlawan ini adalah sebuah kerajaan Karo yang wilayahnya meliputi lereng Gunung Sibayak ke arah Jahe (hilir) berbatas dengan Sunggal dan Binjai (Langkat) yang sekarang dikenal sebagai Kecamatan Kutalimbaru. Bila dahulu Kecamatan Kutalimbaru ini masuk ke Kewedanaan Karo Jahe di Pancurbatu bergabung ke Kabupatan Karo, belakangan kami berpisah dengan Kabupaten Karo dan bergabung ke Deliserdang. Sejak itu pembangunan di wilayah wilayah berpenduduk asli Suku Karo kurang perhatian.
“Jika begini terus, mungkin lebih baik kampung kami kembali saja bergabung ke Kabupaten Karo,” kata kedua tokoh masyarakat tersebut menimpali.

Padahal kami selalu ditekankan membayar pajak tepat waktu namun perhatian pemerintah Kabupaten Deliserdang masih belum maksimal tambah Sejahtera Sinulingga Kepala Dusun Gunung Merlawan.

Ketika penulis beberapa kali pulang kampung ke Gunung Merlawan untuk melakukan ziarah ke makam keluarga, atau kebetulan ada undangan pesta dan kemalangan, memang perekonomian masyarakat sangat memprihatinkan. Hampir tidak ada kemajuan dan sentuhan pembangunan. Padahal, dahulu kampung ini merupakan sebuah Kerajaan Karo yang dipimpin oleh Sibayak, didirikan oleh Tambat Sinulingga gelar Raja Mulia Sinulingga sekitar tahun 1800an. Kira-kira sudah 8 generasi sampai sekarang. Penulis sendiri merupakan generasi yang ke 6 dari raja yang pertama yang mendirikan kampung ini.

Banyak potensi desa khususnya tanaman keras seperti durian, manggis, rambe, dan akhir-akhir ini kelapa sawit ditambah persawahan yang luas dan tanaman muda yang dapat dibawa ke pasar. Karena kampung ini berada di sepanjang Sungai Belawan, sangat potensial untuk tempat pariwisata pemandian. Airnya sangat bening dan alami. Selain itu, banyak sumber air yang cocok untuk perikanan darat. Hanya saja, perlu dukungan semua pihak terutama pemerintah daerah untuk menggiatkannya.

Sangat miris, kelihatannya masih terisolir kampung ini yang didiami seratusan kepala keluarga berbanding terbalik dengan kemasyuran sejarah masa lalu Sibayak Gunung Merlawan yang dahulu memimpin lebih 30an kampung di sekitarnya. Umumnya kampong-kampung ini didirikan oleh merga Sinulingga dan merga Surbakti.

Leave a Reply